Kompas.com - 25/02/2022, 20:45 WIB

KOMPAS.com - Indonesia diberi mandat untuk menjadi Presidensi G20 sejak 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022 mendatang.

Presidensi G20 adalah tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

Dilansir dari Kompas.com (28/1/2022), Indonesia merupakan negara Asia kelima yang menjadi Presidensi G20, setelah Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Penetapan Presidensi G20 didasarkan pada sistem rotasi kawasan dan berganti setiap tahunnya. Italia adalah pemegang presidensi G20 sebelum akhirnya diserahkan kepada Indonesia pada 31 Oktober 2021.

Baca juga: Indonesia Negara Berkembang Pertama Jadi Tuan Rumah G20, Apa Dampaknya?

Lantas, apa itu G20 dan bagaimana sejarahnya?

Apa itu G20?

Dikutip dari laman Bank Indonesia, Group of Twenty atau G20 adalah sebuah forum kerja sama ekonomi multilateral.

G20 beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia dan terdiri dari 19 negara serta 1 lembaga Uni Eropa.

Negara yang termasuk anggota G20 adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Korea Selatan, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.

Forum ini merupakan representasi dari 85 persen perekonomian dunia, 80 persen investasi global, 75 persen perdagangan internasional, dan 60 persen populasi dunia.

Itulah mengapa G20 disebut memiliki posisi yang strategis.

Baca juga: G20 dan Isu-isu Pinggiran yang Diperjuangkan...

Sejarah pendirian G20

Direktur Jenderal Keuangan Italia Alessandro Rivera (kiri) berdampingan dengan Deputi Gubernur Senior Italia Luigi Federico Signorini (kanan) mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (G20 FMCBG) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (17/2/2022). Pertemuan Tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral yang merupakan rangkaian Presidensi G20 Indonesia dalam jalur keuangan tersebut membawa enam agenda prioritas, yakni exit strategy untuk mendukung pemulihan yang adil, pembahasan scarring effect untuk mengamankan pertumbuhan masa depan, sistem pembayaran di era digital, keuangan berkelanjutan, inklusi keuangan, dan perpajakan internasional.ANTARA FOTO/POOL/M RISYAL HIDAYAT Direktur Jenderal Keuangan Italia Alessandro Rivera (kiri) berdampingan dengan Deputi Gubernur Senior Italia Luigi Federico Signorini (kanan) mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (G20 FMCBG) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (17/2/2022). Pertemuan Tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral yang merupakan rangkaian Presidensi G20 Indonesia dalam jalur keuangan tersebut membawa enam agenda prioritas, yakni exit strategy untuk mendukung pemulihan yang adil, pembahasan scarring effect untuk mengamankan pertumbuhan masa depan, sistem pembayaran di era digital, keuangan berkelanjutan, inklusi keuangan, dan perpajakan internasional.

Dilansir dari laman Sherpa G20 Indonesia, pembentukan G20 tidak lepas dari kekecewaan komunitas internasional akan kegagalan G7 dalam mencari solusi permasalahan perekonomian global saat itu.

G7 sendiri terdiri atas Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS).

Halaman:
Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.