Kompas.com - 03/12/2021, 09:31 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua) menerima keketuaan atau Presidensi KTT G20 dari Perdana Menteri Italia Mario Draghi (kanan) pada sesi penutupan KTT G20 di Roma, Italia, Minggu (31/10/2021). Presidensi KTT G20 ini merupakan yang pertama bagi Indonesia dan akan dimulai 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022. ANTARA FOTO/Biro Pers Media Kepresidenan/Laliy Rachev/Handout/wsj. ANTARA FOTO/LAILY RACHEVPresiden Joko Widodo (kedua) menerima keketuaan atau Presidensi KTT G20 dari Perdana Menteri Italia Mario Draghi (kanan) pada sesi penutupan KTT G20 di Roma, Italia, Minggu (31/10/2021). Presidensi KTT G20 ini merupakan yang pertama bagi Indonesia dan akan dimulai 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022. ANTARA FOTO/Biro Pers Media Kepresidenan/Laliy Rachev/Handout/wsj.

KOMPAS.com - Indonesia secara resmi memegang Presidensi G20 selama setahun penuh, yakni mulai 1 Desember 2021 hingga KTT G20 pada November 2022.

Hal itu sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang pertama yang menjadi tuan rumah G20.

Serah terima presidensi dari Italia (selaku Presidensi G20 2021) kepada Indonesia sudah dilakukan secara langsung pada 31 Oktober 2021 di Roma, Italia.

Presidensi G20 mengusung tema "Recover Together, Recover Stronger".

Melalui tema ini, Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Baca juga: Cara Dapatkan Diskon Tarif Listrik Desember 2021, Tak Perlu Akses WhatsApp dan Website PLN

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh #ASNKiniBeda (@bkngoidofficial)

Lantas, apa dampaknya Indonesia menjadi Presidensi G20?

Dampak jangka pendek

Acara G20 Indonesia Presidency 2022 Opening Ceremony Recover Together, Recover Stronger yang digelar hibrida dari Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (01/12/2021).
DOK. Humas Kemenkominfo Acara G20 Indonesia Presidency 2022 Opening Ceremony Recover Together, Recover Stronger yang digelar hibrida dari Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (01/12/2021).

Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, presidensi G20 dapat diartikan sebagai penyelenggara ataupun tuan rumah.

Menurut Bhima, ada dampak jangka pendek dan jangka panjang yang akan didapat Indonesia saat menjadi penyelenggara G20.

"Dampak jangka pendek seperti misalnya di sektor pariwisata, adanya jumlah wisatawan yang masuk dari luar negeri ke Indonesia," kata Bhima saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/12/2021).

"Tentunya wisatawan tersebut sebagai partisipan juga, itu membawa efek positif terhadap kenaikan devisa ke negara," imbuhnya.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.