Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jaya Suprana
Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

Penulis adalah pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan.

Sejarah Kekuasaan Versus Sejarah Kemanusiaan

Kompas.com - 22/09/2021, 15:55 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SAYA menggemari mata pelajaran sejarah di sekolah karena merasa memperoleh kesempatan adu pengetahuan tentang apa yang disebut sebagai sejarah antara apa yang diajarkan oleh guru sejarah melawan apa yang saya baca dari berbagai buku sejarah mau pun ensiklopedia.

Curang

Memang saya terpaksa harus mengakui bahwa diri saya memang curang sebab sejarah yang saya ketahui sama sekali bukan berdasar penelitian saya sendiri tetapi semata berdasar dari apa yang saya baca dari buku sejarah dan/atau ensiklopedia yang ditulis oleh orang lain.

Bahkan kadang sejarah saya simak dari majalah, koran atau film yang kebetulan saya tonton.

Namun sebenarnya saya tidak terlalu curang juga sebab yang diajarkan oleh ibu atau bapak guru sejarah sebenarnya juga bukan berdasar penelitian atau pemikiran para guru saya namun juga berasal dari ajaran guru mereka masing-masing serta buku sejarah yang mereka masing-masing baca.

Berarti juga informasi bukan dari tangan pertama.

Mengecewakan

Namun yang mengecewakan saya adalah yang diajarkan oleh para guru sekolah saya ternyata terbatas pada kebedebahan VOC di Nusantara, kekejaman Revolusi Prancis, perang saudara Amerika Serikat, kebengisan Hitler di Eropa, Stalin di Rusia, Jepang di Cina dan Asia Tenggara, Mao di masa Revolusi Kebudayaan, Westerling di Sulawesi, pemberontakan PKI di Madiun dan berbagai kisah kekerasan serta penindasan mengerikan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia.

Tetapi dalam mata pelajaran sejarah terkesan tidak atau minimal kurang diajarkan mengenai kisah-kisah kemanusiaan yang adil dan beradab seperti yang dilakukan oleh Ibu Theresa di Kalkuta, Pedro Arrupe di Jepang, Oscar Romero di San Salvador, Albert Schweitzer di Lambarene, Sandyawan Sumardi di bantaran Ciliwung, keberpihakan Sri Palupi kepada masyarakat adat, pembelaan Wardah Hafids terhadap para tukang becak dan kisah kemanusiaan lain-lainnya.

Kesimpulan

Maka saya memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa pada hakikatnya sejarah yang diajarkan di bangku sekolah lazimnya ditulis pihak penguasa yang sedang berkuasa maka lebih mengutamakan sejarah manusia yang total mengabaikan kemanusiaan demi kekuasaan ketimbang sejarah manusia yang mengabdikan diri kepada bukan keluasaan tetapi kemanusiaan.

Tampaknya di dalam apa yang disebut sebagai sejarah memang ada semacam gejala persaingan antara sejarah kekuasaan versus sejarah kemanusiaan.

Tampaknya yang unggul adalah sejarah kekuasaan yang berhasil menenggelamkan sejarah kemanusiaan.

Maka, jika ingin mengetahui sejarah kemanusiaan tempatnya memang bukan di bangku sekolah yang kurikulumnya ditetapkan oleh penguasa.

Jika ingin belajar sejarah kemanusiaan sebaiknya keluar dari gedung sekolah untuk mempelajari kenyataan kehidupan di luar gedung sekolah yang kurikulumnya tidak diatur oleh kementerian pendidikan.

Mohon dimahfumi maka dimaafkan bahwa kesimpulan saya keliru akibat saya memang terhanyut di dalam arus pemikiran gagasan saya sendiri yaitu kelirumologi apalagi saya memang bukan ilmuwan sejarah maka saya tidak berhak berpendapat tentang sejarah.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Kesaksian Warga Palestina yang Diikat di Kap Mobil dan Dijadikan Tameng oleh Tentara Israel

Kesaksian Warga Palestina yang Diikat di Kap Mobil dan Dijadikan Tameng oleh Tentara Israel

Tren
Ethiopia Selangkah Lagi Miliki Proyek Bendungan PLTA Terbesar di Afrika

Ethiopia Selangkah Lagi Miliki Proyek Bendungan PLTA Terbesar di Afrika

Tren
Jet Tempur Israel Serang Klinik di Gaza, Runtuhkan Salah Satu Pilar Kesehatan Palestina

Jet Tempur Israel Serang Klinik di Gaza, Runtuhkan Salah Satu Pilar Kesehatan Palestina

Tren
Sama-sama Baik untuk Pencernaan, Apa Beda Prebiotik dan Probiotik?

Sama-sama Baik untuk Pencernaan, Apa Beda Prebiotik dan Probiotik?

Tren
Dilirik Korsel, Bagaimana Nasib Timnas Indonesia jika Ditinggal STY?

Dilirik Korsel, Bagaimana Nasib Timnas Indonesia jika Ditinggal STY?

Tren
Ramai soal Siswi SMAN 8 Medan Tak Naik Kelas, Ini Penjelasan Polisi, Kepsek, dan Disdik

Ramai soal Siswi SMAN 8 Medan Tak Naik Kelas, Ini Penjelasan Polisi, Kepsek, dan Disdik

Tren
Perang Balon Berlanjut, Kini Korut Kirimkan Hello Kitty dan Cacing ke Korsel

Perang Balon Berlanjut, Kini Korut Kirimkan Hello Kitty dan Cacing ke Korsel

Tren
Perjalanan Kasus Karen Agustiawan, Eks Dirut Pertamina yang Rugikan Negara Rp 1,8 T

Perjalanan Kasus Karen Agustiawan, Eks Dirut Pertamina yang Rugikan Negara Rp 1,8 T

Tren
Ini Kronologi dan Motif Anak Bunuh Ayah Kandung di Jakarta Timur

Ini Kronologi dan Motif Anak Bunuh Ayah Kandung di Jakarta Timur

Tren
Pasangan Haji Meninggal Dunia, Jalan Kaki Berjam-jam di Cuaca Panas dan Sempat Hilang

Pasangan Haji Meninggal Dunia, Jalan Kaki Berjam-jam di Cuaca Panas dan Sempat Hilang

Tren
Kata Media Asing soal PDN Diserang 'Ransomware', Soroti Lemahnya Perlindungan Siber Pemerintah Indonesia

Kata Media Asing soal PDN Diserang "Ransomware", Soroti Lemahnya Perlindungan Siber Pemerintah Indonesia

Tren
Populasi Thailand Turun Imbas Resesi Seks, Warga Pilih Adopsi Kucing

Populasi Thailand Turun Imbas Resesi Seks, Warga Pilih Adopsi Kucing

Tren
Kisah Nenek Berusia 105 Tahun Raih Gelar Master dari Stanford, Kuliah sejak Perang Dunia II

Kisah Nenek Berusia 105 Tahun Raih Gelar Master dari Stanford, Kuliah sejak Perang Dunia II

Tren
Kronologi dan Kejanggalan Kematian Afif Maulana Menurut LBH Padang

Kronologi dan Kejanggalan Kematian Afif Maulana Menurut LBH Padang

Tren
7 Fakta Konser di Tangerang Membara, Vendor Rugi Rp 600 Juta, Ketua Panitia Diburu Polisi

7 Fakta Konser di Tangerang Membara, Vendor Rugi Rp 600 Juta, Ketua Panitia Diburu Polisi

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com