Dari Program Vaksinasi Gotong Royong Berbayar, Dikritik WHO hingga Jokowi Batalkan

Kompas.com - 17/07/2021, 12:28 WIB
Tim Kimia Farma yang diwakili oleh direksi Kimia Farma Apotek dan Kimia Farma Diagnostika berada di Kilang Tangguh LNG, Papua Barat pada 21 Juni 2021. Kehadiran Tim Kimia Farma untuk mendukung  pelaksanaan Vaksin Gotong Royong terhadap 14.800 pekerja Kilang Tangguh LNG yang telah dimulai sejak 13 Juni 2021. 

Kiri ke kanan:
1. Hardi Hanafiah, Vice President bp Indonesia, bp Asia Pacific.
2. I Gusti Oka, Kimia Farma Diagnostika
3. dr. Nathasha, salah satu dari Srikandi Kimia Farma yang menjalankan vaksinasi Gotong Royong di Kilang Tangguh LNG.
4. Agus Chandra, Plt Direktur Utama Kimia Farma Diagnostika.
5. Nurtjahjo Walujo Wibowo, Direktur Utama PT Kimia Farma Apotek.
6. Desy Unidjaja, Vice President Communications and Advocacy bp Indonesia.
7. Adhi Purboyo, Tangguh Site Manager.

DOK. Kimia FarmaTim Kimia Farma yang diwakili oleh direksi Kimia Farma Apotek dan Kimia Farma Diagnostika berada di Kilang Tangguh LNG, Papua Barat pada 21 Juni 2021. Kehadiran Tim Kimia Farma untuk mendukung pelaksanaan Vaksin Gotong Royong terhadap 14.800 pekerja Kilang Tangguh LNG yang telah dimulai sejak 13 Juni 2021. Kiri ke kanan: 1. Hardi Hanafiah, Vice President bp Indonesia, bp Asia Pacific. 2. I Gusti Oka, Kimia Farma Diagnostika 3. dr. Nathasha, salah satu dari Srikandi Kimia Farma yang menjalankan vaksinasi Gotong Royong di Kilang Tangguh LNG. 4. Agus Chandra, Plt Direktur Utama Kimia Farma Diagnostika. 5. Nurtjahjo Walujo Wibowo, Direktur Utama PT Kimia Farma Apotek. 6. Desy Unidjaja, Vice President Communications and Advocacy bp Indonesia. 7. Adhi Purboyo, Tangguh Site Manager.

KOMPAS.com - Vaksinasi gotong royong individu yang awalnya diberlakukan secara berbayar menuai kritik dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kepala Unit Program Imunisasi WHO, Ann Lindstrand menyampaikan hal tersebut yang dikutip dari Kompas.com.

Vaksinasi berbayar ini dikhawatirkan akan membuat masyarakat paling rentan akan kesulitan mendapatkan akses terhadap vaksin Covid-19.

"Pembayaran dalam bentuk apa pun dapat menimbulkan masalah etika dan akses, dan terutama selama pandemi ketika kita membutuhkan cakupan dan vaksin untuk menjangkau yang paling rentan," kata Linstrand, Senin (12/7/2021).

WHO menilai seharusnya vaksinasi selama pandemi diberikan secara gratis. Lalu mengapa vaksin berbayar tidak boleh diberlakukan?

Baca juga: Kritik dari WHO yang Berunjung Dicabutnya Rencana Vaksinasi Covid-19 Berbayar

1. Kerja sama COVAX diberikan secara gratis

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

WHO menjalankan kerja sama international COVAX selama masa pandemi.

Kerja sama yang melibatkan UNICEF, organisasi dan berbagai negara untuk memberikan vaksin gratis kepada negara yang membutuhkan.

"Tentu saja mereka memiliki akses vaksin yang gratis, hingga 20 persen dari populasi yang didanai oleh para penyandang dana kerja sama COVAX. Jadi sama sekali tidak dipungut pembayaran dalam pelaksanaannya," jelas Linstrand.

2. Pendanaan operasional dari internasional

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.