Peradaban Antre secara Beradab

Kompas.com - 17/07/2021, 11:57 WIB
Sejumlah calon penumpang mengantre saat pemeriksaan dokumen Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (13/7/2021). Kementerian Perhubungan mengeluarkan aturan soal kewajiban membawa STRP atau surat tugas bagi pengguna KRL Commuterline yang berlaku mulai Senin (13/7/2021) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAHSejumlah calon penumpang mengantre saat pemeriksaan dokumen Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (13/7/2021). Kementerian Perhubungan mengeluarkan aturan soal kewajiban membawa STRP atau surat tugas bagi pengguna KRL Commuterline yang berlaku mulai Senin (13/7/2021) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

SATU di antara sekian banyak hal yang membuat bangsa Indonesia tersohor di masyarakat dunia adalah ketidakmampuan warga Indonesia untuk antre.

Sudah menjadi citra buruk bangsa Indonesia dalam hal peradaban antre. Sudah menjadi semacam kebanggaan bagi (sebagian) warga Indonesia untuk tidak menaati tata krama antre.

Makin bisa melanggar tatakrama antre makin besar gengsi sebagai orang yang lebih berkuasa ketimbang rakyat jelata.

Citr buruk

Citra buruk sebagai warga yang tidak beradab antre malah menjadi kebanggaan bagi yang mau dan mampu melanggar tatakrama antre.

Sehingga tidak ada yang peduli apa kata bangsa lain terhadap bangsa Indonesia dalam soal antre-mengantre. Tidak bisa antre secara beradab sudah dianggap take for granted maka melumrah bagi bangsa Indonesia.

Justru pada masa sudah terbiasa dengan citra buruk tidak mampu antre mendadak datanglah pagebluk Corona yang memporak-porandakan kehidupan masyarakat Indonesia.

Justru pada masa pagebluk Corona menggila sehingga meningkatkan kebutuhan rakyat terhadap oksigen maka melangkakan oksigen mendadak muncul sikap dan perilaku antre gaya baru yang beda dari gaya lama yang sudah terlanjur tersohor ke seluruh dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasar laporan pandangan mata pejuang kemanusiaan Sandyawan Sumardi yang pernah terpaksa ikut antre oksigen bukan untuk dirinya tetapi untuk menolong orang lain yang membutuhkan oksigen ternyata kini muncul sikap antre gaya baru yang beradab.

Beradab

Segenap warga yang antre oksigen ternyata patuh tatakrama antre yang paling utama yaitu tidak mendahului orang yang berada di depan sementara orang yang berada di belakang juga tidak mendahului orang yang berada di depannya.

Semua sama-sama sabar menunggu giliran untuk bisa membeli oksigen bagi keluarga atau teman di rumah yang sedang dalam kondisi sangat membutuhkan oksigen.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.