Kompas.com - 10/07/2021, 21:18 WIB
Penyintas Covid-19 mendonorkan plasma konvaselen di PMI Bandung, Jalan Aceh, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (5/7/2021). Permintaan plasma konvaselen di Kota Bandung cukup tinggi bahkan sempat mencapai angka 581 permintaan, akan tetapi jumlah permintaan itu tak sebanding dengan pendonornya. KOMPAS.com/AGIE PERMADIPenyintas Covid-19 mendonorkan plasma konvaselen di PMI Bandung, Jalan Aceh, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (5/7/2021). Permintaan plasma konvaselen di Kota Bandung cukup tinggi bahkan sempat mencapai angka 581 permintaan, akan tetapi jumlah permintaan itu tak sebanding dengan pendonornya.

KOMPAS.com - Peneliti dan tim medis hingga kini masih melakukan berbagai perawatan atau terapi untuk pasien Covid-19.

Meski belum ada terapi yang benar-benar menyembuhkan infeksi virus Corona, namun beberapa perhimpunan dokter di Indonesia menyusun daftar pilihan terapi Covid-19 yang tertuang dalam Pedoman Tatalaksana Covid-19.

Beberapa perhimpunan dokter itu antara lain Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Perhimpupan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com pada Sabtu (3/7/2021), berikut ini 6 terapi Covid-19 selain Plasma Konvalesen.

Baca juga: Tidak Hanya Plasma Konvalesen, Ini Pilihan Terapi Covid-19

1. N-Asetilsistein

Sebelumnya, N-Asetilsistein digunakan sebagai obat mukolitik, namun obat yang memiliki sifat antioksidan ini disebut efektif untuk terapi Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seperti yang diketahui, infeksi virus Corona menyebabkan ketidakseimbangan oksidan dan antioksidan yang mengakibatkan inflamasi dalam tubuh.

2. Intravenous Immunoglobulin (IVIG)

IVIG merupakan salah satu kandungan plasma darah yang bisa memberikan proteksi imun terhadap berbagai macam patogen yang bisa masuk ke dalam tubuh manusia.

3. Sel Punca Mesenkimal

Sel Punca Mesenkimal berfungsi sebagai imunoregulasi yang mampu memperbaiki kerusakan sel dan mengontrol peradangan. Sel Punca atau stem cell berpotensi untuk menyeimbangkan proses inflamasi pada pasien dengan gejala ARDS.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa terapi Sel Punca Mesenkimal mampu meningkatkan harapan hidup pada pasien Covid-19 dengan gejala berat.

Baca juga: Panduan Lengkap Donor Plasma Konvalesen, dari Syarat, Alur hingga Biayanya

4. Antibiotik

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa antibiotik dapat mengatasi infeksi Covid-19. Sejauh ini baru ada dugaan bahwa penggunaan antibiotik pada kasus Covid-19 mengacu pada kejadian infeksi sekunder pada infeksi influenza.

Dalam seminar Isolasi Mandiri Pasien Covid yang diselenggarakan oleh Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, dr. Heidy Agustin, Sp.P(K) memaparkan mengenai penggunaan antiobiotik pada pasien Covid-19.

Menurutnya, penggunaan antibiotik tidak direkomendasikan untuk pasien tanpa gejala atau dengan gejala ringan. Antibiotik hanya dianjurkan untuk pasien dengan gejala sedang, berat, dan kritis.

Penggunaannya pun untuk mencegah kemungkinan terjadinya infeksi bakteri pada pasien Covid-19. Penggunaan antibiotik berlebihan pada pandemi Covid-19 berpotensi menyebabkan resistensi antibiotik.

Baca juga: Ramai Broadcast Nama dan Narahubung Penyedia Donor Plasma Konvalesen, Ini Penjelasan PMI

5. Anti IL-1 (Anakinra)

Obat ini bermanfaat untuk mengatasi hiperinflamasi pada pasien yang mengalami ARDS akibat infeksi virus SARS-CoV-2.

Anakinra dapat menurunkan kebutuhan ventilasi mekanis invasif serta mengurangi risiko kematian pada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan kritis.

6. Anti IL-6 (Tocilizumab)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Tocilizumab bisa mengatasi kondisi badai sitokin dengan menurunkan penanda inflamasi yaitu CRP, ferritin, dan IL-6.

Selain itu, pasien Covid-19 yang dirawat dengan terapi ini juga menunjukkan perbaikan positif secara klinis.

Banyak ditemukan pada pasien Covid-19 dengan gejala berat, badai sitokin adalah respons sistem imun tubuh yang berlebihan akibat infeksi yang ditandai pelepasan sitokin yang tidak terkontrol, terutama IL-6.

Baca juga: Donor Plasma Konvalesen Pasien Covid-19: Syarat, Cara Mendaftar, dan Tempat Donor

Badai sitokin juga dapat menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS) hingga kematian.

Tocilizumab adalah antibodi monoklonal yang berfungsi sebagai antagonis reseptor IL-6. Obat ini bisa diberikan secara intravena atau subkutan pada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan kritis yang diduga mengalami hiperinflamasi.

Sumber: KOMPAS.com (Nadia Faradiba)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.