Mengapa Kasus Covid-19 di Jatim, Sulsel, dan Kalsel Masih Tinggi? Berikut Analisisnya...

Kompas.com - 24/06/2020, 09:04 WIB
Warga dengan kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan tenaga medis di wilayah Lampulo dan Kuta Alam mengikuti tes swab Covid-19 massal yang dipusatkan di Puskesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (17/6/2020). Tes swab massal yang digelar gratis dan diikuti seratusan orang ini merupakan program Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala dalam upaya menekan penyebaran virus corona. KOMPAS.com/RAJA UMARWarga dengan kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan tenaga medis di wilayah Lampulo dan Kuta Alam mengikuti tes swab Covid-19 massal yang dipusatkan di Puskesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (17/6/2020). Tes swab massal yang digelar gratis dan diikuti seratusan orang ini merupakan program Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala dalam upaya menekan penyebaran virus corona.

KOMPAS.com - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Pemko PMK) Muhadjir Effendy menyebut adanya tiga provinsi yang saat ini menjadi perhatian utama Presiden Jokowi.

Hal itu lantaran kasus harian di ketiga provinsi tersebut masih cukup tinggi. Ketiganya yakni Jawa Timur (Jatim), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Kalimantan Selatan (Kalsel).

Masih tingginya kasus Covid-19 di ketiga provinsi tersebut diungkapkannya melalui video conference usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/6/2020).

Oleh karenanya, Presiden meminta seluruh jajarannya membantu menekan penambahan kasus harian yang jumlahnya masih signifikan di sana.

Baca juga: Jenis Virus Corona di Indonesia Disebut Tak Masuk Kategori yang Ada di Dunia, Ini Penjelasan Eijkman

Lantas, mengapa kasus harian virus corona di tiga provinsi di atas masih cukup tinggi?

Karena dua hal utama

Epidemiolog yang juga Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit UNS Tonang Dwi Ardyanto menilai, hal itu dikarenakan dua hal utama.

"Jadi ada dua hal utama yang menjadi penyebabnya. Pertama, peningkatan kapasitas pemeriksaan dan kedua, memang kasusnya masih relatif tinggi," kata Tonang saat dihubungi Kompas.com, Rabu (24/6/2020).

Menurut Tonang, faktor tingginya kasus harian di Jawa Timur dikarenakan kapasitas pemeriksaan yang meningkat.

Selain itu, juga memang proses tracing yang dilakukan juga terbilang sangat tinggi sehingga tegak lurus dengan pertambahan kasus.

"Proses tracing juga tinggi, maka didapatkan banyak kasus positif. Artinya, memang di sana kasusnya relatif tinggi," papar Tonang.

"Terlihat juga bahwa jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP)-nya tinggi, artinya usaha tracing-nya aktif," jelas dia.

Baca juga: Rekor 1.331 Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Berikut 4 Faktor Pemicunya...

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X