Mimpi Buruk Pemanasan Global (2): Diracun di Udara dan Lautan

Kompas.com - 08/12/2019, 18:45 WIB
Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia. KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOPolusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). Menurut pantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace, selama Januari hingga Juni 2017, kualitas udara di Jabodetabek terindikasi memasuki level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia.

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan pertama, Mimpi Buruk Pemanasan Global (1): Jakarta hingga Markas Facebook Tenggelam.

KOMPAS.com - Kotornya langit Jakarta yang jadi perbincangan selama 2019 kemungkinan tak akan bertambah baik seperti harapan kita.

Kalau pun bertambah baik karena kita berhasil mengurangi polusi udara, kemungkinan sudah terlambat untuk mengembalikan kesehatan kita sendiri.

Pada 2017, Ibu Kota India, New Delhi menjadi kota dengan polusi terparah di dunia. Setiap hari, 26 juta warganya harus menghirup udara yang sama dengan pembakaran dua bungkus rokok sehari.

Tahun ini saja, sekolah di New Delhi terpaksa harus diliburkan beberapa hari karena buruknya polusi udara.

Baca juga: Polusi Jakarta Parah, Jangan Berharap Sehat dengan Pakai Masker Kain Murah

Jurnal kesehatan The Lancet pada 2017 melaporkan sembilan juta kematian bayi prematur disebabkan polusi udara. Lebih dari seperempatnya dari India. Itu pun sebelum polusi udara memuncak pada 2017.

Dalam laporannya soal dampak polusi udara bagi perilaku dan tumbuh kembang anak, Unicef memaparkan sejumlah penelitian. Efek dari polusi udara lebih seram dari sekadar sakit pernapasan.

Bagi anak-anak, polusi udara bisa melemahkan ingatan, atensi, hingga kosa kata. Polusi juga berkaitan dengan potensi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan spektrum autisme.

Di Jakarta, kondisinya masih lebih baik walau tak baik-baik amat. Setiap hari, warga Jakarta seperti menghisap dua hingga tiga batang rokok ketika bernafas.

Saat ini, 10.000 orang meninggal tiap harinya karena polusi udara. Angka ini akan terus meningkat.

Baca juga: Pakai Masker, Priyanka Chopra Keluhkan Polusi Udara di Delhi

Buruknya kualitas udara juga akan disebabkan oleh kekeringan. Akibat krisis iklim, tanah akan menjadi kering dan berdebu seperti gurun.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X