Selain Jadi Bahan Bakar Pabrik Tahu, 4 Cara Lain Kelola Sampah Plastik

Kompas.com - 19/11/2019, 21:00 WIB
Pekerja mengambil sampah plastik impor untuk bahan bakar tungku pemasak kedelai pada industri tahu di Desa Tropodo, Sidoarjo, Selasa (18/6/2019). KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTIPekerja mengambil sampah plastik impor untuk bahan bakar tungku pemasak kedelai pada industri tahu di Desa Tropodo, Sidoarjo, Selasa (18/6/2019).

KOMPAS.com - Penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar dalam produksi tahu di Desa Tropodo dan Desa Bangun Jawa Timur disorot dunia Internasional.

Organisasi non profit Internasional Pollutans Elimination Network (IPEN) menyebut, penggunaan sampah plastik tersebut berbahaya karena bisa menyebabkan timbulnya bahan kimia berbahaya yang kemudian bisa mengkontaminasi tahu yang diproduksi.

Kandungan zat kimia akibat plastik yang dibakar tersebut adalah adanya dioksin,
polychlorinated biphenyls (PCBs), polybrominated diphenyl ethers (PBDEs), short-chain
chlorinated paraffins (SCCPs), dan perfluorooctane sulfonate (PFOS).

Di mana kadar dioksin menjadi kadar yang paling tinggi yang banyak ditemukan. Padahal, zat ini termasuk salah satu polutan berbahaya.

Beberapa penelitian menyebut dioksin sebagai salah satu pemicu penyakit seperti kanker, parkinson, hingga cacat lahir.

Baca juga: Pabrik Tahu Gunakan Sampah Plastik sebagai Bahan Bakar, Ini Rekomendasi IPEN

Melihat konsekuensi yang harus dihadapi akibat dioksin ini, membuat banyak orang berpikir lalu harus diapakan sampah plastik yang bertebaran di sekitar kita?

Apalagi kebanyakan orang berpikir membakar sampah plastik adalah cara terbaik, mengingat jenis sampah ini tidak bisa terurai begitu saja.

Merangkum dari situs National University of Singapore, berikut ini 4 metode yang dapat dilakukan untuk menangani masalah polusi plastik dibanding membakarnya secara langsung.

1. Penimbunan

Salah satu cara mengatasi sampah plastik adalah dengan menimbunnya. Meski bisa jadi alternatif mengelola sampah plastik, metode ini bukan cara yang terbaik.

Penimbunan limbah plastik dianggap sangat boros lantaran memerlukan area yang sangat luas.

Selain itu, penimbunan sampah plastik juga memiliki sisi kelemahan yakni bisa terbawa oleh banjir ketika tak dikelola dengan baik.

Ditambah lagi, penimbunan juga bisa menyebabkan kebocoran polutan (ftalat dan bisphenol A) ke dalam tanah dan lingkungan sekitarnya.

2. Insinerasi

Plastik berasal dari minyak bumi ataupun gas alam.

Hal tersebut kemudian membuat plastik bisa dimanfaatkan untuk mengubah plastik kembali menjadi energi atau yang kerap disebut dengan insinerasi.

Satu pon plastik dapat menghasilkan energi sebanyak batu bara Wyoming dan hampir sama banyaknya energi yang dihasilkan dengan bahan bakar minyak.

Namun, lagi-lagi ini bukan cara terbaik untuk mengolah limbah plastik. Pasalnya, seperti pembakaran sampah plastik di Tropodo, insinerasi juga bisa menyebabkan dampak lingkungan dan kesehatan negatif karena zat berbahaya bisa dilepaskan ke udara.

Misalnya PVC dan aditif terhalogenasi yang dicampur ke dalam limbah plastik dan insinerasinya menyebabkan pelepasan dioksin dan bifenil poliklorinasi ke lingkungan.

Bedanya dengan pembakaran sampah plastik secara langsung, alat yang digunakan lebih canggih sehingga bisa menghasilkan energi besar. Pengelolaan sampah plastik jenis ini umumnya dilakukan oleh perusahaan besar.

Baca juga: Limbah Plastik Impor yang Dianggap Racuni Indonesia dalam Sorot Media Internasional...

3. Daur Ulang

Banyak jenis plastik yang bisa didaur ulang dan membuatnya menjadi memiliki manfaat yang berbeda dari fungsinya semula.

Namun metode ini kerap mengalami kendala karena kesulitan pemisahan dan pengumpulan plastik.

Meski daur ulang merupakan cara yang paling efektif untuk menangani limbah plastik namun efektivitasnya sangat tergantung pada kesadaran masyarakat, kelayakan ekonomi, dan implementasi infrastruktur publik untuk membuat daur ulang menjadi lebih efisien.

4. Plastik Biodegrable

Biodegradable adalah plastik yang terurai oleh aksi organisme hidup.

Plastik biodegradable memiliki potensi untuk menyelesaikan sejumlah masalah pengelolaan limbah utamanya untuk kemasan sekali pakai yang tak dapat dipisahkan dengan mudah dari limbah organik.

Namun pembuatan plastik inipun juga menuai kontroversi.

Meski bisa dimetabolisme oleh organisme menjadi karbon dioksida dan air, tapi diduga palstik biodegradable dapat melepaskan logam ke lingkungan dalam proses tersebut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X