Menko PMK Wacanakan Sertifikasi Perkawinan, Ini Komentar Menteri Agama Fachrul Razi

Kompas.com - 15/11/2019, 19:08 WIB
Menteri Agama Fachrul Razi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019). KOMPAS.com/HaryantipuspasariMenteri Agama Fachrul Razi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Agama Fachrul Razi memberikan komentar mengenai wacana sertifikasi perkawinan sebagai syarat menikah yang dilontarkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy.

Muhadjir menyebutkan, kementeriannya tengah mencanangkan program sertifikasi perkawinan bagi pasangan yang hendak menikah.

Ke depan, calon pengantin (catin) wajib untuk mengikuti kelas atau bimbingan pranikah untuk mendapatkan sertifikat jika dinyatakan lulus.

Sertifikat tersebut kemudian dipakai untuk dijadikan syarat perkawinan.

Bagi pasangan yang belum lulus dalam proses pembekalan maka mereka belum boleh menikah.

Fachrul mengatakan, ia mendukung gagasan Menteri Muhadjir.

Baca juga: Soal Sertifikasi Perkawinan, Komnas HAM Minta Jangan Dijadikan Kewajiban

Menurut dia, gagasan itu sejalan dengan program bimbingan perkawinan (bimwim) yang sudah diselenggarakan oleh Kementerian Agama sejak dua tahun terakhir.

"Bimbingan Perkawinan digelar untuk membekali calon pengantin dalam merespon problem perkawinan dan keluarga. Juga mempersiapkan mereka agar terhindar dari problema perkawinan yang umum terjadi, serta meningkatkan kemampuan mewujudkan keluarga sakinah,” kata Menag di Jakarta, Jumat (15/11/2019), dilansir dari situs resmi Kemenag.

Bimbingan Perkawinan merupakan revitalisasi kursus pranikah yang sudah ada beberapa tahun sebelumnya.

Akan tetapi, dinilai kurang efektif dalam membekali calon pengantin.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tren Kematian karena Covid-19 di Rumah Sakit Inggris Turun, Ini Penyebabnya Menurut Peneliti

Tren Kematian karena Covid-19 di Rumah Sakit Inggris Turun, Ini Penyebabnya Menurut Peneliti

Tren
Gelombang IV Kartu Prakerja Dibuka Akhir Juli, Ini Jumlah Kuota Pesertanya

Gelombang IV Kartu Prakerja Dibuka Akhir Juli, Ini Jumlah Kuota Pesertanya

Tren
Mengenal 4 Metode Pooling Test Covid-19, Disebut Bisa Hemat Waktu dan Uang

Mengenal 4 Metode Pooling Test Covid-19, Disebut Bisa Hemat Waktu dan Uang

Tren
Ini Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Sembelih Hewan Kurban Ketika Pandemi Corona

Ini Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Sembelih Hewan Kurban Ketika Pandemi Corona

Tren
14 Dokter Meninggal dalam Sepekan, Kenapa Banyak Nakes Terinfeksi Covid-19?

14 Dokter Meninggal dalam Sepekan, Kenapa Banyak Nakes Terinfeksi Covid-19?

Tren
Catatan WHO Soal Covid-19 di Indonesia: Kapasitas Tes Masih Rendah

Catatan WHO Soal Covid-19 di Indonesia: Kapasitas Tes Masih Rendah

Tren
Solo Disebut Zona Hitam, Ini Catatan Penanganan Virus Corona di Surakarta

Solo Disebut Zona Hitam, Ini Catatan Penanganan Virus Corona di Surakarta

Tren
Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid, Masyarakat Turki Sambut Azan Pertama

Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid, Masyarakat Turki Sambut Azan Pertama

Tren
Mengenal Secapa, Klaster 1.280 Orang Terinfeksi Virus Corona

Mengenal Secapa, Klaster 1.280 Orang Terinfeksi Virus Corona

Tren
10 Juta Anak Mungkin Tak Bisa Kembali ke Sekolah Setelah Pandemi Covid-19...

10 Juta Anak Mungkin Tak Bisa Kembali ke Sekolah Setelah Pandemi Covid-19...

Tren
Membandingkan Tes Covid-19 di Indonesia dan Dampaknya bagi Penyebaran Virus

Membandingkan Tes Covid-19 di Indonesia dan Dampaknya bagi Penyebaran Virus

Tren
Hari Pertama Sekolah, Pembelajaran Jarak Jauh yang Penuh Tantangan

Hari Pertama Sekolah, Pembelajaran Jarak Jauh yang Penuh Tantangan

Tren
Kenestapaan ABK Indonesia di Kapal China: Tak Digaji, Disiksa, hingga Dilarung

Kenestapaan ABK Indonesia di Kapal China: Tak Digaji, Disiksa, hingga Dilarung

Tren
Konsumen Misterius Beri Tip Rp 14 Juta untuk Pegawai Restoran yang Bekerja di Tengah Pandemi

Konsumen Misterius Beri Tip Rp 14 Juta untuk Pegawai Restoran yang Bekerja di Tengah Pandemi

Tren
Dapat 56 Juta Dollar AS dari Norwegia, Benarkah Emisi Karbon Indonesia Dikatakan Turun?

Dapat 56 Juta Dollar AS dari Norwegia, Benarkah Emisi Karbon Indonesia Dikatakan Turun?

Tren
komentar
Close Ads X