Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Perkembangan Kodifikasi Hadis

Kompas.com - 16/05/2024, 16:00 WIB
Ini Tanjung Tani,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hadis merupakan salah satu sumber hukum Islam yang berasal dari segala perbuatan, perkataan persetujuan maupun ketidaksengajaan Nabi Muhammad SAW.

Awalnya, hadis masih dihimpun berdasarkan ingatan para perawi atau orang yang meriwayatkan hadis.

Seiring perkembangan Islam, hadis mulai dikodifikasi atau disusun, bahkan dibukukan.

Kodifikasi hadis adalah sebuah proses yang dilakukan untuk menghimpun catatan-catatan hadis nabi dalam mushaf.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi kodifikasi hadis adalah agar hadis tetap terjaga dan bisa digunakan oleh umat Islam untuk memutuskan perkara dalam Islam.

Sejarah kodifikasi hadis dapat dibagi menjadi dua periode penting, yaitu pada masa Nabi Muhammad dan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Sejarah perkembangan hadis pada masa Rasulullah hanya dilakukan kodifikasi yang sifatnya masih pribadi atau belum dilakukan secara resmi.

Sedangkan Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang memprakarsai penulisan hadis secara resmi, bahkan telah dibentuk tim khusus untuk melakukan kodifikasi hadis.

Berikut ini sejarah perkembangan kodifikasi hadis dari masa ke masa.

Baca juga: Biografi Imam Hambali, Ahli Hadis yang Menyusun Kitab Al Musnad

Perkembangan hadis pada masa sahabat

Sejarah hadis pada masa Nabi Muhammad belum dibukukan, tetapi para sahabat banyak yang menghafalnya.

Sebelum dibukukan, hadis dikenal dengan istilah sunah. Beberapa sahabat ada yang menuliskan hadis pada lembaran-lembaran kulit bernama shahifah.

Sebenarnya, penulisan hadis dimulai sejak abad ke-7, atau di masa Nabi Muhammad.

Namun, catatan-catatan atau shahifah yang berisi hadis nabi tersebut belum disebarluaskan atau hanya menjadi koleksi pribadi.

Melansir NU Online, beberapa sahabat yang pernah mencatat hadis nabi adalah Jabir bin Abdullah, Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Amr.

Catatan hadis milik Jabir bin Abdullah sempat dihafal oleh Qatadah bin Di’amah, seorang ahli hadis dari Kota Basrah.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com