Kisah Cinta Segitiga di Kerajaan Majapahit

Kompas.com - 25/11/2021, 09:00 WIB
Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ditutup untuk umum sejak 21 Juni 2021 hingga 2 Juli 2021. Salah satu jejak arkeologis peninggalan Kerajaan Majapahit itu ditutup untuk umum guna mengantisipasi penyebaran Covid-19. KOMPAS.COM/MOH. SYAFIÍCandi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ditutup untuk umum sejak 21 Juni 2021 hingga 2 Juli 2021. Salah satu jejak arkeologis peninggalan Kerajaan Majapahit itu ditutup untuk umum guna mengantisipasi penyebaran Covid-19.

KOMPAS.com - Kisah asmara selalu menghiasi berbagai kerajaan kuno di Indonesia. Tak terkecuali kerajaan Majapahit.

Kisah itu melibatkan adik perempuan raja kedua Majapahit Prabu Jayanegara yang bernama Dyah Wiyat.

Pada pemerintahan kakaknya, Prabu Jayanegara, Dyah Wiyat diangkat sebagai raja bawahan di daerah Daha atau sekarang Kediri.

Dyah Wiyat bergelar Rajadewi Maharajasa Bhre Daha saat menjadi bupati di Daha.

Dyah Wiyat merupakan putri kedua dari Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit dengan Gayatri.

Kakak kandung Dyah Wiyat adalah Dyah Gitarja atau dikenal sebagai Tribuwana Tunggadewi yang menjadi raja ketiga Majapahit.

Baca juga: Trowulan dan Jejak Kedaton Majapahit yang Belum Tersingkap

Mencintai Ra Tanca

Sebagai sekar kedaton atau putri raja yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi, Dyah Wiyat menjadi incaran untuk dijadikan istri oleh kalangan lelaki.

Namun siapa sangka Dyah Wiyat malah jatuh cinta dengan seorang tabib bernama Ra Tanca.

Ra Tanca merupakan satu dari tujuh anggota Dharmaputra atau jabatan istimewa bentukan Raden Wijaya. Setelahnya, Ra Tanca terlibat pemberontakan yang dipimpin oleh Ra Kuti.

Cinta Dyah Wiyat dan Ra Tanca terhalang oleh tembok kekuasaan Majapahit. Cinta kedua insan tersebut tidak berjalan seperti apa yang direncanakan.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Homo Rudolfensis: Sejarah Penemuan, Ciri-ciri, dan Kehidupan

Homo Rudolfensis: Sejarah Penemuan, Ciri-ciri, dan Kehidupan

Stori
Kelebihan dan Kelemahan Teori Mekkah

Kelebihan dan Kelemahan Teori Mekkah

Stori
Mengapa Pemerintah Membubarkan Konstituante pada 1959?

Mengapa Pemerintah Membubarkan Konstituante pada 1959?

Stori
Sejarah Nama Nusantara

Sejarah Nama Nusantara

Stori
Keterkaitan Bom Hiroshima dan Nagasaki dengan Kemerdekaan Indonesia

Keterkaitan Bom Hiroshima dan Nagasaki dengan Kemerdekaan Indonesia

Stori
Latar Belakang Terbentuknya NATO dan SEATO

Latar Belakang Terbentuknya NATO dan SEATO

Stori
Uwais Al Qarni, Orang yang Dirindukan Surga

Uwais Al Qarni, Orang yang Dirindukan Surga

Stori
Sejarah Lawang Sewu

Sejarah Lawang Sewu

Stori
Pangeran Jayakarta, Penguasa Jakarta yang Paling Diburu VOC

Pangeran Jayakarta, Penguasa Jakarta yang Paling Diburu VOC

Stori
Negara-negara Anggota AFTA

Negara-negara Anggota AFTA

Stori
Sejarah dan Filosofi Rumah Joglo

Sejarah dan Filosofi Rumah Joglo

Stori
Latar Belakang Lahirnya Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia

Latar Belakang Lahirnya Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia

Stori
Tengku Abdul Jalil, Tokoh Perlawanan Aceh terhadap Jepang

Tengku Abdul Jalil, Tokoh Perlawanan Aceh terhadap Jepang

Stori
Sejarah Singkat Kerajaan Tonga

Sejarah Singkat Kerajaan Tonga

Stori
Sejarah Pramugari, Nyonya Rumah di Udara

Sejarah Pramugari, Nyonya Rumah di Udara

Stori
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.