Kompas.com - 22/12/2019, 16:00 WIB
Tembok penahan tebing longsor dan menimpa 2 rumah warga di Sumedang, Jawa Barat. Longsor terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi pada Senin (16/12/2019) sore kemarin. Dok. BPBD Sumedang KOMPAS.COM/AAM AMINULLAHTembok penahan tebing longsor dan menimpa 2 rumah warga di Sumedang, Jawa Barat. Longsor terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi pada Senin (16/12/2019) sore kemarin. Dok. BPBD Sumedang

KOMPAS.com - Secara ilmiah erosi adalah pengikisan material permukaan tanah secara bertahap, terutama batuan, endapan (sedimen), dan tanah akibat air, angin atau es.

Erosi juga dapat diartikan pengangkutan material yang terkikis dari satu tempat ke tempat lain, seperti dari puncak gunung ke lembah terdekat atau dari bagian hulu sungai ke bagian hilir.

Lalu apa faktor penyebab terjadinya erosi, jenis-jenis erosi dan bagaimana proses terjadinya erosi?

Faktor-faktor penyebab erosi

Beberapa faktor alam memengaruhi terjadinya erosi pada bentang alam seperti iklim, topografi, vegetasi, aktivitas tektonik pada tanah.

Baca juga: 8 Kecamatan di Limapuluh Kota di Sumbar Dihantam Banjir dan Longsor

Berikut ini penjelasan faktor alam yang memengaruhi erosi antara lain:

1. Iklim

Iklim mungkin merupakan kekuatan paling berpengaruh dan berdampak pada erosi pada bentang alam.

Faktor iklim yang penting dalam proses terjadinya erosi adalah curah hujan dan suhu. Curah hujan dan suhu tidak jauh berbeda di tempat-tempat yang berdekatan.

Intensitas hujan yang cukup tinggi akan menimbulkan erosi. Energi kinetik akibat tetesan butiran-butiran hujan yang jatuh ke atas tanah menyebabkan pecahnya agregat-agregat tanah.

Jumlah hujan yang besar tapi intensitasnya rendah tidak menyebabkan erosi berat. Hujan lebat dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat menyebabkan sedikit erosi.

Jika jumlah hujan dan intensitasnya sama-sama tinggi, maka erosi tanah yang terjadi cenderung tinggi.

Baca juga: Temukan Potensi Longsor di Kulon Progo, BPBD Imbau Warga Waspada

2. Topografi

Topografi yang memengaruhi erosi adalah kemiringan lereng dan panjang lereng. Makin besar kemiringan lereng maka intensitas erosi air makin tinggi.

Semakin miring suatu lereng maka energi kinetik aliran air yang mengalir semakin besar.

3. Vegetasi

Vegetasi adalah lapisan pelindung atau penyangga antara atmosfer dan tanah. Vegetasi dapat memperlambat dampak erosi.

Akar tanaman melekat pada partikel tanah dan batu, mencegah transportasi selama hujan atau angin.

Pohon, semak dan tanaman lain dapat membatasi dampak erosi yang besar seperti tanah longsor atau bahaya alam lain seperti angin topan.

Gurun pasir yang umumnya tidak mempunyai vegetasi lebat merupakan lanskap yang paling mudah mengalami erosi di planet bumi.

4. Tanah

Aktivitas tektonik membentuk lanskap tanah itu sendiri. Sehingga memengaruhi dampak erosi pada suatu daerah.

Baca juga: 199 Desa di Banjarnegara Rawan Longsor

Manusia dan erosi

Erosi adalah proses alami tetapi aktivitas manusia dapat mempercepat proses terjadinya erosi.

Aktivitas manusia yang mengubah vegetasi suatu daerah berkontribusi besar terhadap terjadinya erosi.

Padahal pohon dan tumbuhan menahan tanah di tempatnya.

Saat manusia menebang pepohonan di hutan dan membuat lahan pertanian atau melakukan pengembangan lahan maka tanah akan menjadi rentan terhadap pengikisan.

Pengikisan tanah secara besar-besaran akan menyebabkan tanah longsor. Sedangkan air yang tidak meresap ke dalam tanah akan mengalir di atas tanah terbuka lalu menyebabkan banjir.

Baca juga: Retakan Tanah dan Longsor Kecil Muncul di Dataran Tinggi Kulon Progo Usai Hujan Deras

Jenis-jenis erosi

Chay Asdak dalam Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Air Sungai (2010), menyebutkan bahwa erosi dapat dibedakan menjadi tujuh jenis, yaitu:

1. Erosi percikan

Erosi percikan (splash erosion) adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau air lolos.

2. Erosi kulit atau lembar

Erosi kulit atau lembar (sheet erosion) adalah pengikisan lapisan tipis permukaan tanah di daerah berlereng oleh kombinasi air hujan dan air larian (run off).

3. Erosi alur

Erosi alur (rill erosion) adalah pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air yang mengalir di permukaan tanah yang terkonsentrasi pada alur tertentu.

Alur-alur tertentu pada permukaan tanah merupakan parit-parit kecil dan dangkal.

Baca juga: Masuk Musim Hujan, Warga Serpong Minta Turap Bekas Longsor Diperbaiki

4. Erosi parit

Erosi parit (gully erosion) terjadinya hampir sama dengan proses erosi alur tetapi alur yang terbentuk sudah sangat besar.

5. Erosi tebing sungai

Erosi tebing sungai (streambank erosion) adalah pengikisan tanah pada tebing sungai, penggerusan dasar sungai oleh aliran air sungai atau terjangan aliran sungai yang kuat pada daerah belokan sungai.

6. Erosi internal sungai

Erosi internal sungai (internal erosion atau subsurface erosion) adalah terangkutnya partikel-partikel tanah primer dan masuk ke dalam celah-celah atau pori-pori tanah sehingga tanah menjadi kedap air dan udara.

Erosi internal menyebabkan menurunnya kapasitas infiltrasi tanah secara cepat sehingga aliran permukaan meningkat dan menyebabkan terjadinya erosi lembar atau erosi alur.

7. Tanah longsor

Tanah longsor (landslide) adalah bentuk erosi di mana pengangkutan atau gerakan tanah terjadi bersamaan dalam volume yang relatif besar.

Baca juga: Sempat Tertutup Longsor, Jalur Banjarnegara-Wonosobo Kini Sudah Bisa Dilalui Kendaraan

Proses terjadinya erosi

K Auerswald dan A Schwab dalam Erosion Risk (1999) mengidentifikasi mekanisme terjadinya erosi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahap pengelupasan (detachment)

Pengelupasan adalah penghancuran tanah dari agregat tanah menjadi partikel-partikel tanah.

Proses ini diawali dengan pengelupasan partikel dalam tanah oleh air hujan sebagai media utamanya.

Ketika butiran air hujan mengenai permukaan tanah maka partikel tanah akan terlepas dan terlempar ke udara.

Proses ini akan berlanjut ke proses pengangkutan oleh aliran air tanah.

Baca juga: Kerugian akibat Banjir dan Longsor di Limapuluh Kota Mencapai Rp 51,8 Miliar

2. Tahap pengangkutan (transportation)

Pengangkutan adalah pengangkutan partikel tanah oleh limpahan air hujan (run off).

3. Tahap pengendapan (sedimentation)

Pengendapan atau sedimentasi adalah pengendapan tanah erosi. Tanah erosi akan terendap pada cekungan-cekungan atau pada daerah-daerah yang lebih rendah.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Siapa Penemu Bahasa Inggris?

Siapa Penemu Bahasa Inggris?

Skola
Penyebutan Sate di Berbagai Negara

Penyebutan Sate di Berbagai Negara

Skola
Peran Penting Kecoak untuk Bumi

Peran Penting Kecoak untuk Bumi

Skola
Kenapa Tukang Cukur Kebanyakan Berasal dari Garut dan Madura?

Kenapa Tukang Cukur Kebanyakan Berasal dari Garut dan Madura?

Skola
Ngayau, Tradisi Turun-temurun dari Suku Dayak

Ngayau, Tradisi Turun-temurun dari Suku Dayak

Skola
Kisah Kepunahan Harimau Bali

Kisah Kepunahan Harimau Bali

Skola
Apakah Bangsa Viking Nyata?

Apakah Bangsa Viking Nyata?

Skola
Berapa Usia Matahari?

Berapa Usia Matahari?

Skola
Sampek, Alat Musik Tradisional Kalimantan Timur

Sampek, Alat Musik Tradisional Kalimantan Timur

Skola
Keunikan Alat Musik Fu, Maluku Utara

Keunikan Alat Musik Fu, Maluku Utara

Skola
Tifa, Alat Musik Daerah Papua

Tifa, Alat Musik Daerah Papua

Skola
Alat Musik Daerah Maluku

Alat Musik Daerah Maluku

Skola
Mengenal Alat Musik Daerah Gorontalo

Mengenal Alat Musik Daerah Gorontalo

Skola
Japen dan Garantung, Alat Musik Daerah Kalimantan Tengah

Japen dan Garantung, Alat Musik Daerah Kalimantan Tengah

Skola
Alat Musik Panting Khas Kalimantan Selatan

Alat Musik Panting Khas Kalimantan Selatan

Skola
komentar
Close Ads X