The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Obat Molnupiravir untuk Covid-19, Apa Kata Penelitian Soal Efektivitasnya?

Kompas.com - 11/11/2021, 08:00 WIB
Obat Covid-19 molnupiravir yang diproduksi perusahan farmasi Merck, Sharp & Dohme. Obat antivirus ini dilaporkan dapat menekan risiko masuk rumah sakit atau kematian karena Covid-19 hingga 50 persen. Obat ini pun sudah dilirik banyak negara, termasuk Indonesia. Merck, Sharp & DohmeObat Covid-19 molnupiravir yang diproduksi perusahan farmasi Merck, Sharp & Dohme. Obat antivirus ini dilaporkan dapat menekan risiko masuk rumah sakit atau kematian karena Covid-19 hingga 50 persen. Obat ini pun sudah dilirik banyak negara, termasuk Indonesia.

Oleh: Filipa Henderson Sousa dan Peter Barlow

TERLEPAS dari efektivitas vaksin, kita masih membutuhkan obat untuk mengobati COVID-19. Bahkan orang-orang yang telah menerima dua dosis vaksin masih punya kemungkinan kecil terjangkit Covid-19 dan berakhir dengan sakit sedang atau bahkan parah. Obat untuk Covid-19 memang ada, tapi akses terhadapnya hanya tersedia lewat rumah sakit.

Satu obat menjanjikan yang dapat memperbaiki keadaan adalah molnupiravir, sebuah antivirus yang sedang memasuki tahap akhir pengujian pada manusia. Para peneliti berharap molnupiravir dapat digunakan untuk mengobati dan mencegah Covid-19.

Yang menjadi poin penting adalah molnupiravir dapat diminum sebagai pil – artinya, untuk mendapatkannya, orang tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Obat ini melemahkan kemampuan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, untuk melipatgandakan dirinya. Obat ini bekerja dengan meniru salah satu blok bangunan materi genetik virus. Ketika virus bereproduksi, ia membuat salinan baru dari RNA-nya, dan obat itu akhirnya dimasukkan ke dalamnya.

Baca juga: Apa Itu Pil Molnupiravir Merck yang Digunakan sebagai Obat Covid-19 di Inggris?

Ketika virus kemudian bereproduksi, molnupiravir menyebabkan mutasi menumpuk di RNA virus yang meningkat setiap kali melipatgandakan diri. Akhirnya, ini menyebabkan “bencana” bagi virus saat mutasi yang berlebihan membuat virus tidak dapat bereproduksi sama sekali, dan akhirnya mati.

Seberapa efektif obat ini bekerja?

Sejauh ini, sebuah percobaan kecil melakukan tinjauan efek molnupiravir pada 202 pasien Covid-19, yang tidak dirawat di rumah sakit, yang mulai mengalami gejala. Peserta secara acak diberi jatah untuk menerima molnupiravir atau plasebo, dengan dosis antivirus yang berbeda.

Hasil uji coba telah diterbitkan sebagai pracetak (preprint), artinya, hasil itu belum ditinjau secara resmi oleh ilmuwan lain.

Namun, uji coba menunjukkan bahwa setelah tiga hari pengobatan, virus SARS-CoV-2 yang menular, secara signifikan lebih jarang ditemukan pada pasien yang memakai 800mg molnupiravir (2%) dibandingkan dengan mereka yang memakai plasebo (17%).

Pada hari kelima, virus tidak terdeteksi pada pasien yang menerima 400mg atau 800mg molnupiravir, tapi masih ditemukan pada 11% dari mereka yang memakai plasebo. Oleh karena itu, percobaan menunjukkan bahwa molnupiravir dapat mengurangi dan menghilangkan infeksi SARS-CoV-2 pada pasien dengan Covid-19 ringan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.