Kompas.com - 30/09/2020, 17:34 WIB
Ilustrasi nasi dikukus. Dok. Shutterstock/kazokaIlustrasi nasi dikukus.

KOMPAS.com - Bagi kebanyakan orang Indonesia, nasi adalah makanan pokok yang tidak boleh dilewatkan. Bahkan, ada ungkapan bahwa kalau belum makan nasi, berarti belum makan.

Namun, bagi orang-orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan, nasi khususnya nasi putih juga menjadi sesuatu yang harus dikurangi atau dihindari karena kalorinya yang tinggi.

Satu cangkir nasi putih mengandung kira-kira 200 kalori. Mayoritas berbentuk pati yang ketika berada di dalam tubuh, diolah menjadi gula dan ditumpuk menjadi lemak.

Untungnya, para ilmuwan telah menemukan cara memasak nasi putih yang lebih rendah kalori. Trik ini bahkan bisa memangkas kalori nasi putih hingga 50 persen dan meningkatkan manfaat kesehatannya.

Baca juga: Berapa Jumlah Kalori dalam Sepiring Nasi Goreng? Sains Jelaskan

Dilansir dari Washington Post, caranya adalah dengan memasak nasi putih di panci seperti biasa. Namun, sebelum memasukkan beras, masukkan dulu minyak kelapa sebanyak 3 persen dari berat beras ketika air mendidih.

"Setelah matang, kita biarkan (nasi) menjadi dingin di kulkas selama 12 jam di dalam kulkas," ujar Sudhair James ketika mempresentasikan temuan awalnya di National Meeting & Exposition of the American Chemical Society (ACS) tahun 2015.

Penjelasan ilmiahnya

Rahasianya bisa dijelaskan oleh ilmu kimia. Pati rupanya berbeda-beda macamnya.

Ada pati yang rupanya hanya butuh sedikit waktu untuk dicerna, diubah menjadi glukosa dan akhirnya menjadi glikogen yang menumpuk sebagai lemak perut jika tidak dibakar. Ini disebut pati cepat cerna atau digestible starch.

Sebaliknya, ada yang namanya pati tahan cerna atau resistant starch. Pati jenis ini butuh waktu lama untuk diproses oleh tubuh dan tidak bisa diubah menjadi glukosa atau glikogen. Alhasil, makanan yang banyak mengandung pati tahan cerna memiliki kalori yang lebih rendah.

Nah, cara memasak suatu makanan rupanya bisa mengubah jenis pati di dalam makanan. Kentang, misalnya. Pati tahan cerna di dalamnya berubah menjadi pati cepat cerna ketika dimasak. Hal serupa juga terjadi pada sayur-sayuran, seperti kacang polong dan ubi.

Baca juga: Ilmu Fisika Dibalik Rahasia Lezat Nasi Goreng ala Koki, Ini Tekniknya

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lagi, Gempa M 5,5 Guncang Malang Hari Ini Tak Berpotensi Tsunami

Lagi, Gempa M 5,5 Guncang Malang Hari Ini Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Kemungkinan Gempa Malang Picu Gunung Api, BMKG: Bisa tapi Kecil

Kemungkinan Gempa Malang Picu Gunung Api, BMKG: Bisa tapi Kecil

Oh Begitu
8 Manfaat Menangis Menurut Sains, Kurangi Stres sampai Tingkatkan Mood

8 Manfaat Menangis Menurut Sains, Kurangi Stres sampai Tingkatkan Mood

Kita
7 Fakta Gempa Malang, Bukan Gempa Megathrust dan Ada Sejarahnya

7 Fakta Gempa Malang, Bukan Gempa Megathrust dan Ada Sejarahnya

Oh Begitu
Setelah Gempa Malang, BMKG Peringatkan Jawa Timur Waspada Hujan dan Longsor

Setelah Gempa Malang, BMKG Peringatkan Jawa Timur Waspada Hujan dan Longsor

Fenomena
Gempa Malang Sudah 3 Kali Susulan, Ini Rekomendasi dari BMKG

Gempa Malang Sudah 3 Kali Susulan, Ini Rekomendasi dari BMKG

Fenomena
Setelah Malang, Gempa M 6,0 Guncang Laut Sulut Tak Berpotensi Tsunami

Setelah Malang, Gempa M 6,0 Guncang Laut Sulut Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Pertama Kalinya, Pasien Covid-19 Jepang Terima Cangkok Paru-paru dari Donor Hidup

Pertama Kalinya, Pasien Covid-19 Jepang Terima Cangkok Paru-paru dari Donor Hidup

Fenomena
Gempa Malang, Mengapa Guncangannya Sangat Luas sampai Yogyakarta dan Bali?

Gempa Malang, Mengapa Guncangannya Sangat Luas sampai Yogyakarta dan Bali?

Fenomena
Gempa Malang Hari Ini, Ini Daftar Wilayah Terdampak Guncangan

Gempa Malang Hari Ini, Ini Daftar Wilayah Terdampak Guncangan

Fenomena
Mengenal Skin Tag, Mirip Kutil Kulit Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Mengenal Skin Tag, Mirip Kutil Kulit Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Oh Begitu
Ahli: Gejala KIPI Vaksin Normal Seperti Respons Makan Cabai dan Putus Cinta

Ahli: Gejala KIPI Vaksin Normal Seperti Respons Makan Cabai dan Putus Cinta

Oh Begitu
Perilaku Menguap yang Menular Terjadi Juga pada Singa, Ini Buktinya

Perilaku Menguap yang Menular Terjadi Juga pada Singa, Ini Buktinya

Fenomena
Ilmuwan Temukan Jejak Manusia Modern Homo Sapiens saat Jelajahi Eropa

Ilmuwan Temukan Jejak Manusia Modern Homo Sapiens saat Jelajahi Eropa

Fenomena
Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Pengobatan Long Covid di Rumah

Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Pengobatan Long Covid di Rumah

Oh Begitu
komentar
Close Ads X