Kompas.com - 28/05/2020, 16:00 WIB
Spesies tokek baru dari Bali Barat, Cyrtodactylus jatnai. Jurnal Taprobanica/A. A. ThasunSpesies tokek baru dari Bali Barat, Cyrtodactylus jatnai.

KOMPAS.com - Spesies baru tokek berkaki bengkok dari genus Cyrtodactylus ditemukan di Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Pulau Bali, Indonesia.

Tim peneliti menamai spesies baru tokek dari Bali ini, Cyrtodactylus jatnai.

Penamaannya diberikan sebagai penghargaan kepada ahli konservasi, ekologi, dan primatologi Prof. Jatna Supriatna dari Universitas Indonesia.

"Karena Pak Jatna kan orang Bali juga, lahir di Bali. Karena itu kita kasih nama (tokek) Cyrtodactylus jatnai," ungkap A. A. Thasun Amarasinghe, ahli herpetologi UI yang terlibat dalam penelitian kepada Kompas.com, Selasa (26/5/2020).

Baca juga: Seri Hewan Nusantara: 127 Tahun Hilang, Kadal Ini Ditemukan di Danau Toba

Selama hampir seabad, jenis tokek yang endemik di Bali ini dikenal sebagai C. fumosus atau tokek jari bengkok.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun berdasarkan pemeriksaan morfologis mendetail, Cyrtodactylus dari Bali adalah spesies yang berbeda dengan C. fumosus dari Sulawesi.

Dikatakan Thasun, penemuan ini merupakan hasil penelitian dalam rangka kerjasama antara Balai TNBB Kementerian LHK dengan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia (Research Center for Climate Change Universitas Indonesia/RCCC UI) tentang Pelaksanaan Demonstrasi Proyek The Rainsforest Standard Protected Area Credit di Kawasan TNBB pada 2015 sampai dengan 2016.

Tim peneliti terdiri dari A. A. Thasun Amarasinghe (Research Center for Climate Change Universitas Indonesia/RCCC UI), Awal Riyanto (Museum Zoologicum Bogoriense/MZB), Mumpuni (Museum Zoologicum Bogoriense/MZB), dan Lee L. Grismer (La Sierra University, California, AS).

Dalam laporan penelitian yang terbit di jurnal Taprobanica, tim menuliskan bahwa secara morfologi dan perbandingan contoh tokek dari beberapa daerah biogeografi lain, menunjukkan tokek yang endemik di Bali punya kemiripan dengan C. seribuatensis.

C. seribuatensis merupakan tokek kaki bengkok dari Pulau Seribuat, Malaysia bagian barat.

Dikatakan Thasun, meski C. seribuatensis dengan tokek C. jatnai memiliki kemiripan, tapi keduanya berbeda.

Thasun menceritakan, para ahli di masa lalu biasanya meneliti spesimen berdasar contoh yang tersimpan di museum.

Dari penelitian terbatas dari museum tersebut, para ahli di masa lalu menamai suatu spesies dan mencatat dari mana asalnya, serta karakteristik yang lain.

Hal ini juga yang dialami tokek genus Cyrtodactylus.

"Nah, dulu enggak sama seperti sekarang. Dulu belum ada mikroskop dan peralatan lain yang dapat (melihat) lebih detail," ungkap Thasun.

Dengan melakukan pengamatan mendetail itu, Thasun dan tim menyadari bahwa tokek genus Cyrtodactylus yang ada di Bali berbeda dengan C. fumosus dan C. seribuatensis.

"Tokek yang ada di Bali, berbeda dengan yang ada di Sulawesi (C. fumosus)," ungkapnya.

Tokek spesies baru dari Bali Barat, C. jatnai. Pada gambar A menunjukkan tokek C. jatnai jantan yang ditemukan di Teluk Menjangan, TNBB, Bali. Foto A diambil oleh peneliti A. A Thanus. 
Gambar B menunjukkan tokek C. jatnai jantan yang ada di Teluk Terima, TNBB, Bali. Foto B diambil oleh peneliti Awal Riyatno. Jurnal Taprobanica/A. A. Thasun, Awal Riyatno Tokek spesies baru dari Bali Barat, C. jatnai. Pada gambar A menunjukkan tokek C. jatnai jantan yang ditemukan di Teluk Menjangan, TNBB, Bali. Foto A diambil oleh peneliti A. A Thanus. Gambar B menunjukkan tokek C. jatnai jantan yang ada di Teluk Terima, TNBB, Bali. Foto B diambil oleh peneliti Awal Riyatno.

Perbedaan mencolok dari ketiganya terletak pada sisiknya.

Thasun menjelaskan bahwa C. jatnai memiliki sisik dengan bentuk bintik-bintik hitam berukuran agak besar seperti dapat dilihat di gambar figure 1 gambar A di samping.

Bentuk sisik tersebut tidak ditemukan pada C. fumosus dan C. seribuatensis.

"Susunannya (sisik) beda, jumlahnya beda, warnanya juga beda," ungkap Thasun.

"Selain itu, kalau dilihat di figure 1B, di antara dua kaki (kaki depan dan kaki belakang) tampak ada garis putih, ada bulet-buletnya juga. Nah, kalau yang lain (Cyrtodactylus lain) tidak ada yang seperti itu," ungkapnya.

Tak hanya itu saja yang membedakan C. jitnai dengan tokek kaki bengkok dari wilayah lain.

Salah satunya seperti dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Cyrtodactylus jatnai, aspek ventral dari (A) kepala anterior, (B) kaki, (C) femur, dan (D) ekor.Jurnal Taprobanica/A. A. Thasun Cyrtodactylus jatnai, aspek ventral dari (A) kepala anterior, (B) kaki, (C) femur, dan (D) ekor.

"Kalau dilihat di bagian C, jumlah sisik seperti itu yang dimiliki C. jatnai dengan yang di Sulawesi (C. fumosus) berbeda," jelasnya.

Dijelaskan Thasun, perbedaan pada setiap spesies disebabkan oleh evolusi.

"Ribuan tahun lalu, dunia masih berada di satu daratan, yang kemudian terpisah oleh laut. Setelah terpisah ini, makhluk hidup memiliki evolusi yang berbeda dengan spesies yang ada di pulau atau tempat lain," jelasnya.

"Itu kenapa kalau kita cek sekarang, individu yang ada di satu pulau dengan pulau lain beda dan enggak ada hubungan antara satu populasi," imbuhnya.

Baca juga: Kisah Pencarian Kadal Paling Langka di Sekitar Kaldera Danau Toba

Habitat dan populasi Cyrtodactylus jatnai

Populasi C. jatnai, dikatakan Thasun, banyak jumlahnya di alam. Spesies ini pun disebut endemik di Pulau Bali.

Hal ini karena C. jatnai dapat hidup di mana saja. Baik itu hidup di hutan sekunder, hutan primer, atau savana.

"Namun dia (C. jatnai) memang tidak bisa hidup di daerah dekat pemukiman manusia seperti kota dan desa," imbuhnya.

Temuan spesies baru ini menambah keanekaragaman hayati di kawasan TNBB.

Sebelumnya tercatat ada 18 jenis mamalia, 205 jenis burung, 13 jenis reptil, 10 jenis amfibi, 67 jenis kupu-kupu, dan lebih dari 120 jenis ikan.

Hal ini juga didukung oleh keberadaan ekosistem yang cukup lengkap mulai dari ekosistem hutan hujan dataran rendah dengan 72 jenis pohon, ekosistem hutan musim dengan 66 jenis pohon.

Lalu ekosistem savana dengan 55 jenis pohon, ekosistem mangrove dengan 18 jenis pohon, ekosistem hutan pantai, dan ekosistem terumbu karang.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X