Akui Minat Masyarakat ke Bioskop Kurang, GPBSI: Filmnya Belum Menarik

Kompas.com - 02/11/2020, 20:11 WIB
Pengunjung berbincang saat akan menonton film di salah satu bioskop di Jakarta, Rabu (21/10/2020). Sejumlah bioskop di Ibu kota kembali beroperasi setelah mendapatkan izin dari Pemprov DKI Jakarta dengan jumlah penonton dibatasi maksimal 25 persen dari total kapasitas. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATPengunjung berbincang saat akan menonton film di salah satu bioskop di Jakarta, Rabu (21/10/2020). Sejumlah bioskop di Ibu kota kembali beroperasi setelah mendapatkan izin dari Pemprov DKI Jakarta dengan jumlah penonton dibatasi maksimal 25 persen dari total kapasitas.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua pekan berlalu setelah bioskop kembali beroperasi di sejumlah kota di Indonesia.

Hanya saja, dengan aturan kursi 25 persen, tentu saja terjadi penurunan jumlah penonton dibandingkan sebelum pandemi corona atau Covid-19.

Sayangnya, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia ( GPBSI) Djonny Syafruddin tak mengungkap secara gamblang berapa persen penurunan jumlah penonton selama dua pekan bioskop buka selama pandemi Covid-19.

Meski demikian, Djonny mengatakan, ada beberapa faktor yang jadi penyebab penurunan minat masyarakat ke bioskop.

Salah satunya, karena kurang menariknya film yang ditayangkan di bioskop saat ini.

Pasalnya, film yang ditayangkan di bioskop rata-rata rilisan sebelum pandemi Covid-19.

Baca juga: Dua Pekan Beroperasi, Bioskop CGV Klaim Pengunjungnya Rata-rata Capai 25 Persen

"Filmnya juga belum keluar yang bagus-bagus. Itu berpengaruh, kan orang nonton mau yang bagus, yang up to date (filmnya)," ujar Djonny Syafrudin saat dihubungi Kompas.com, Senin (2/11/2020).

"Mungkin tunggu film baguslah. Toh memang daya beli bisa jadi penyebab, daya tariknya kurang, apasih yang mau ditonton, mungkin ke situ larinya," kata Djonny lagi.

Selain itu, Djonny menyebut berkurangnya minat masyarakat ke bioskop juga disebabkan tak seimbangnya pendapatan dengan jumlah pengeluaran.

"Daya beli merosot, artinya keperluan makin banyak. Kondisi ekonomi masyarakat pun belum kondusif," kata Djonny.

Lalu, keamanan yang belum terjamin juga menjadi penyebab minat masyarakat berkurang ke bioskop. Apalagi pada saat pandemi Covid-19.

Baca juga: Bioskop Online Pilihan Nonton di Tengah Covid-19, Cukup Bayar Mulai dari Rp 5.000

"Ini dari dahulu faktor-faktornya, bukan pandemi aja, dari tahun 1970-an. Misalnya kondisi keamanan di bioskop. Kalau dia tidak aman, mana berani keluar," ujar Djonny.

"Lalu, kondisi politik kaya huru hara. Jadi penyebabnya itu belum konkrit , jadi apasih yang buat (kurang minat masyarakat ke bioskop), ya filmnya belum menarik," katanya lagi.

Sebagai informasi, CGV Indonesia sudah kembali membuka jaringan bioskopnya di Jakarta mulai Rabu (21/10/2020).

Meski demikian, tidak seluruhnya bioskop CGV di Jakarta yang dibuka sekaligus.

Baca juga: Respons Produser Film soal Pembukaan Kembali Bioskop di Jakarta

Melainkan, hanya empat titik yang kembali beroperasi yakni CGV Grand Indonesia, CGV Transmart Cempaka Putih, CGV Green Pramuka Mall, dan CGV Jakarta Garden City Aeon.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X