Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Singapura Kembangkan Material Jalan dari Limbah

Kompas.com - 26/11/2019, 17:46 WIB
Rosiana Haryanti,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Keterbatasan membuat Singapura selalu menciptakan cara baru untuk mengatasi permasalahan.

Selang 16 tahun sejak Singapura memperkenalkan NEWater atau air reklamasi, negara itu sedang mengembangkan NEWSand atau material yang bersumber dari sampah.

Sampah-sampah yang dikumpulkan diubah menjadi bahan bangunan untuk membangun jalan, trotoar, hingga bangku taman.

Melansir Business Insider, nama NEWSand lahir dari kebutuhan Singapura untuk menciptakan sumber daya dari limbah.

Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Singapura, Masagos Zulkifli mengatakan, material baru ini akan membantu Singapura untuk menghentikan lingkaran limbah dan memperpanjang usia pembuangan sampah di Pulau Semakau.

"Melalui sains dan teknologi, kami telah menemukan cara untuk mengubah residu dari pembakaran sampah menjadi bahan bangunan yang berguna, yang kami sebut NEWSand. Seperti NEWater, NEWSand lahir dari upaya kami mengatasi kendala, dan untuk menciptakan sumber daya yang berharga dari limbah," tutur dia.

Hingga saat ini, Pulau Semakau merupakan satu-satunya tempat pembuangan sampah akhir yang ada di Singapura.

Pengembangan material tersebut merupakan upaya negara ini untuk mengurangi limbah yang dikirim ke TPA sebesar 30 persen per hari.

Area ini diperkirakan akan kehabisan ruang untuk menimbun sampah pad atahun 2035 mendatang.

Adapun uji coba material baru ini akan dilakukan pada 2020 mendatang di sepanjang bagian Jalan Pantai Tanah Merah.

The National Environment Agency (NEA) atau Badan Lingkungan Nasional sejauh ini telah memberikan tender uji coba lapangan kepada tiga perusahaan, yakni Zerowaste Asia, Inashco, dan REMEX.

Baca juga: Desainer Ciptakan Ubin Pembersih Air Limbah

Ketiganya akan menguji kelayakan penggunaan incineration bottom ash (IBA) sebagai bahan dasar pembuatan jalan dalam proyek pembangunan.

Melansir Channel News Asia, perusahaan-perusahaan ini akan mengumpulkan dan mengolah sekitar 3.000 ton abu yang dihasilkan dari pengolahan limbah di negara itu.

Uji coba tersebut akan digunakan untuk menilai kinerja IBA serta mengumpulkan data untuk ditinjau.

"Karena dua pertiga Singapura ditetapkan sebagai daerah resapan air, standra lingkungan untuk NEWS harus cukup ketat untuk memastikan bahwa bahan tersebut dapat digunakan di lokasi mana pun di Singapura tanpa mengorbankan sumber daya air dan lingkungan kami," papar Masagos.

Namun, proyek ini bukan pertama kali diterapkan di Singapura. Sebelumnya, sebuah jalan setapak sepanjang 150 meter di Tampines Hub dibangun dengan menggunakan material dari limbah tersebut.

Jalan tersebut menghubungkan Tampines Hub ke Masjid Darul Ghufran.

Kemudian, bahan yang sama rencananya digunakan untuk membangun jalan setapak di depan Environment Building di sepanjang Scotts Road sepanjang 24 meter pada 2020 mendatang.

Selain itu, material NEWSand juga telah digunakan untuk membuat bangku. Adapun, bangku-bangku tersebut dibuat dengan metode pencetakan tiga dimensi oleh perusahaan Singapura, Pan-united Corporation.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Buleleng: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Buleleng: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Bangli: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Bangli: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kota Probolinggo: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kota Probolinggo: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Dua Raksasa Properti Kembali Berkongsi Bangun Klaster Baru di BSD City

Dua Raksasa Properti Kembali Berkongsi Bangun Klaster Baru di BSD City

Berita
Jalan Terbentuknya Kementerian Perumahan, UU 39/2008 Perlu Direvisi

Jalan Terbentuknya Kementerian Perumahan, UU 39/2008 Perlu Direvisi

Berita
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Banyuwangi: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Banyuwangi: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Okupansi Pergudangan Modern Jabodetabek Stabil di Angka 90 Persen

Okupansi Pergudangan Modern Jabodetabek Stabil di Angka 90 Persen

Berita
Bakal Hadiri Acara WWF, AHY: Air dan Tanah Tak Bisa Dipisahkan

Bakal Hadiri Acara WWF, AHY: Air dan Tanah Tak Bisa Dipisahkan

Berita
[POPULER PROPERTI] Plus Minus Tandon Air Atas dan Bawah

[POPULER PROPERTI] Plus Minus Tandon Air Atas dan Bawah

Berita
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Situbondo: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Situbondo: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Jombang: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Jombang: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Pulang Dinas dari AS, AHY Sayangkan Investor Kabur karena Masalah Tanah

Pulang Dinas dari AS, AHY Sayangkan Investor Kabur karena Masalah Tanah

Berita
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Sampang: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Sampang: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Trenggalek: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Trenggalek: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Sumenep: Pilihan Ekonomis

Perumahan Terjangkau di Bawah Rp 200 Juta di Kabupaten Sumenep: Pilihan Ekonomis

Perumahan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com