Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Batalkan Kenaikan UKT, Nadiem: Kalau Ada Kenaikan Harus Adil dan Wajar

Kompas.com - 27/05/2024, 18:31 WIB
Yefta Christopherus Asia Sanjaya,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) di masa depan harus didasarkan pada asas keadilan dan kewajaran.

Hal tersebut disampaikan Nadiem ketika mengumumkan pembatalan kenaikan UKT setelah dipanggil untuk menghadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/5/2024).

“Kemendikbud Ristek telah mengambil keputusan untuk membatalkan kenaikan UKT pada tahun ini dan kami akan merevaluasi semua permintaan peningkatan UKT dari PTN,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin.

Founder Gojek tersebut juga mengatakan, keputusan membatalkan kenaikan UKT dilakukan setelah pemerintah berdialog dengan rektor dan mendengar aspirasi dari pemangku kepentingan terkait.

Baca juga: Beredar Kabar Tagihan UKT PGSD UNS Capai Rp 44 Juta, Ini Penjelasan Kampus

Tidak ada kenaikan UKT tahun ini

Di hadapan awak media, Nadiem menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang terdampak kebijakan kenaikan UKT pada 2024.

Ia menambahkan, pemerintah bakal melakukan evaluasi atas permintaan perguruan tinggi negeri (PTN) terkait kenaikan UKT pada tahun depan.

“Jadi ini benar-benar suatu hal, aspirasi yang kami dengarkan (dari) masyarakat,” kata Nadiem.

“Dan juga kami ingin memastikan bahwa kalau pun ada kenaikan UKT harus dengan asas keadilan dan kewajaran. Itu yang akan kita laksanakan,” tambahnya.

Di sisi lain, Nadiem juga mengaku, kenaikan UKT yang terjadi pada tahun ini sudah membuat dirinya cemas.

Ia tidak memberikan jawaban mengenai kapan penundaan UKT akan diberlakukan.

Meski begitu, Nadiem menegaskan bahwa keputusan untuk membatalkan kenaikan UKT sudah sesuai dengan aspirasi yang diterimanya.

Ia memberikan ucapan terima kasih kepada seluruh unsur masyarakat, mahasiswa, rektor, dan pihak lain yang sudah memberikan masukan mengenai penetapan UKT.

“Untuk detailnya seperti apa kebijakannya akan dilakukan nanti dari Dirjen Dikti akan menjelaskan detailnya dalam waktu secepatnya,” kata Nadiem.

Baca juga: UKT Unsoed Tembus Belasan-Puluhan Juta, Kampus Sebut Mahasiswa Bisa Ajukan Keringanan

Pemicu UKT 2024 naik

Berdasarkan penelusuran Litbang Kompas yang dirilis pada Minggu (26/5/2024), kenaikan UKT dipicu oleh terbitnya Permendikbud Ristek Nomor 2 Tahun 2024.

Aturan tersebut memuat soal perubahan standar satuan biaya operasional pendidikan tinggi pada PTN.

Merujuk Pasal 6 Permendikbud Ristek Nomor 2 Tahun 2024, tarif UKT wajib ada minimal dua kelompok, yakni kelompok 1 dengan besaran Rp 500.000 dan kelompok 2 dengan besaran Rp 1.000.000.

Selain dua kelompok tersebut, PTN diberi wewenang untuk menetapkan UKT dengan besaran lain dengan nominal paling tinggi sama dengan nilai biaya kuliah (BKT).

Pada akhirnya, terjadi kenaikan UKT sebesar 30-50 persen sehingga mahasiswa yang baru diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) "menjerit".

Tak hanya itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai fakultas ramai-ramai menggeruduk rektorat, seperti terjadi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Universitas Brawijaya (UB) Malang, dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Banyumas.

Baca juga: Ramai soal UKT ITB 2024 Naik Rp 2 Juta Per Golongan, Ini Kata Pihak Kampus

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Profil 10 Stadion yang Menggelar Pertandingan Euro 2024 Jerman

Profil 10 Stadion yang Menggelar Pertandingan Euro 2024 Jerman

Tren
'Wine' Tertua di Dunia yang Ditemukan di Spanyol Mengandung Abu Kremasi Manusia

"Wine" Tertua di Dunia yang Ditemukan di Spanyol Mengandung Abu Kremasi Manusia

Tren
5 Hewan yang Melakukan Kanibalisme Seksual dengan Memakan Pasangannya Sendiri

5 Hewan yang Melakukan Kanibalisme Seksual dengan Memakan Pasangannya Sendiri

Tren
Mengenal Pohon 'Penghasil' Madu Hutan yang Menjulang hingga 88 Meter

Mengenal Pohon "Penghasil" Madu Hutan yang Menjulang hingga 88 Meter

Tren
Harga Tiket Masuk Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko di Libur Sekolah 2024

Harga Tiket Masuk Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko di Libur Sekolah 2024

Tren
Apa Efek Samping Obat Asam Lambung Golongan PPI seperti Lansoprazole dan Omeprazole?

Apa Efek Samping Obat Asam Lambung Golongan PPI seperti Lansoprazole dan Omeprazole?

Tren
NASA Akan Kirim Bintang Palsu ke Orbit Bumi, untuk Menyaingi Matahari?

NASA Akan Kirim Bintang Palsu ke Orbit Bumi, untuk Menyaingi Matahari?

Tren
Gelombang Panas Serang Sejumah Negara, Bagaimana dengan Indonesia?

Gelombang Panas Serang Sejumah Negara, Bagaimana dengan Indonesia?

Tren
Kapan Tiket Konser Bruno Mars Bisa Dibeli? Ini Perkiraan Harga dan Cara Belinya

Kapan Tiket Konser Bruno Mars Bisa Dibeli? Ini Perkiraan Harga dan Cara Belinya

Tren
Warganet Mengeluh Kedinginan di Pagi Hari pada Musim Kemarau, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Warganet Mengeluh Kedinginan di Pagi Hari pada Musim Kemarau, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Tren
10 Suplemen yang Bisa Dikonsumsi untuk Memperpanjang Umur

10 Suplemen yang Bisa Dikonsumsi untuk Memperpanjang Umur

Tren
Siap-siap, KAI Buka Lowongan 23-25 Juni 2024, Lulusan SMA Bisa Daftar

Siap-siap, KAI Buka Lowongan 23-25 Juni 2024, Lulusan SMA Bisa Daftar

Tren
Harga Elpiji 5,5 Kg dan 12 Kg Seluruh Indonesia per 1 Juli 2024

Harga Elpiji 5,5 Kg dan 12 Kg Seluruh Indonesia per 1 Juli 2024

Tren
Prakiraan BMKG: Inilah Wilayah yang Masih Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 22-23 Juni 2024

Prakiraan BMKG: Inilah Wilayah yang Masih Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 22-23 Juni 2024

Tren
[POPULER TREN] Jadwal Laga Indonesia Vs Singapura Piala AFF U16 2024 | Kopi Bisa Mengurangi Risiko Batu Ginjal

[POPULER TREN] Jadwal Laga Indonesia Vs Singapura Piala AFF U16 2024 | Kopi Bisa Mengurangi Risiko Batu Ginjal

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com