Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Segitiga Bermuda, Ini Jalur Laut Paling Berbahaya di Dunia

Kompas.com - 25/05/2024, 09:00 WIB
Laksmi Pradipta Amaranggana,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banyak orang mengira, perairan Segitiga Bermuda menjadi jalur laut paling mematikan di dunia.

Bukan Segitiga Bermuda, jalur laut paling ganas di dunia adalah Drake Passage, yaitu jalur perairan dalam dengan lebar 600 mil atau 1.000 kilometer yang mengubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik antara Cape Horn dan Kepulauan Shetland Selatan.

Drake Passage hanya berjarak 100 mil atau 160 kilometer di utara Semenanjung Antartika, dikutip dari Britannica.

Selain itu, jalur ini memiliki kedalaman rata-rata 3.400 meter, dengan perairan terdalamnya mencapai 4.800 meter.

Jalur ini didefinisikan sebagai zona transisi iklim yang memisahkan kondisi subkutub Tierra del Fuego yang sejuk, lembab, dan wilayah kutub Antartika yang sangat dingin.

Baca juga: Video Viral Pusaran Arus Laut di Perairan Alor NTT, Apakah Berbahaya?


Nama Drake sendiri diambil dari nama seorang penjelajah sekaligus pelaut asal Inggris yang terkenal, Sir Francis Drake.

Meskipun menggunakan nama Sir Francis Drake, jalur ini pertama kali dilalui pada 1616 oleh Willem Schouten dalam ekspedisi Flemish.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, Drake Passage mempunyai peran penting dalam perdagangan, sebelum Terusan Panama dibuka pada 1914.

Badai lautan dan kondisi es yang membentang membuat perjalanan melintasi Tanjung Horn melalui Drake Passage menjadi ujian berat bagi kapal dan awak kapal, terutama untuk kapal layar pada masa itu.

Baca juga: Ikan Purba Sepanjang 25 Meter yang Ditemukan di Inggris, Jadi Reptil Laut Terbesar di Dunia

Alasan Drake Passage jadi jalur laut paling berbahaya

Drake Passage berada di Samudra Selatan dan mengelilingi benua beku Antartika yang tidak terputus oleh daratan.

Karena hal tersebut, Drake Passage memiliki angin sangat kencang yang dapat bertiup ke seluruh dunia tanpa ada hambatan berupa daratan, dilansir dari National Geographic.

Ahli kelautan fisik dari University of East Anglia, Karen Heywood mengatakan, jalur ini merupakan melting pot atau tempat arus laut ekstrem membawa karbon.

Karbon tersebut diserap dari atmosfer dan sebagian disimpan oleh plankton di kedalaman tertentu selama berabad-abad.

Air di jalur ini sebagian besar mengalir dari barat ke timur dan bagian dari Arus Sirkumpolar Antartika yang merupakan arus paling besar di dunia.

Baca juga: 5 Fakta tentang Segitiga Bermuda, yang Dikenal sebagai Perairan Misterius

Kepala kelautan terbuka di British Antarctic Survey, Alexander Brearley mengungkapkan, di tengah Drake Passage, angin kemungkinan bertiup sejauh ribuan kilometer ke tempat manusia berada.

Halaman:

Terkini Lainnya

Menko PMK Sebut Judi Online Bahaya, tapi Korbannya Akan Diberi Bansos

Menko PMK Sebut Judi Online Bahaya, tapi Korbannya Akan Diberi Bansos

Tren
KA Blambangan Ekspres dan Banyubiru Kini Gunakan Kereta Ekonomi New Generation, Cek Tarifnya

KA Blambangan Ekspres dan Banyubiru Kini Gunakan Kereta Ekonomi New Generation, Cek Tarifnya

Tren
Jemaah Haji Indonesia Berangkat ke Arafah untuk Wukuf, Ini Alur Perjalanannya

Jemaah Haji Indonesia Berangkat ke Arafah untuk Wukuf, Ini Alur Perjalanannya

Tren
Cara Mengubah Kalimat dengan Format Huruf Besar Menjadi Huruf Kecil di Google Docs

Cara Mengubah Kalimat dengan Format Huruf Besar Menjadi Huruf Kecil di Google Docs

Tren
Lolos SNBT 2024, Ini UKT Kedokteran UGM, Unair, Unpad, Undip, dan UNS

Lolos SNBT 2024, Ini UKT Kedokteran UGM, Unair, Unpad, Undip, dan UNS

Tren
Cara Daftar KIP Kuliah Jalur Mandiri PTN 2024, Klik kip-kuliah.kemdikbud.go.id

Cara Daftar KIP Kuliah Jalur Mandiri PTN 2024, Klik kip-kuliah.kemdikbud.go.id

Tren
Cara Cek Lokasi Faskes dan Kantor BPJS Kesehatan Terdekat secara Online

Cara Cek Lokasi Faskes dan Kantor BPJS Kesehatan Terdekat secara Online

Tren
Ramai soal Video WNA Sebut IKN 'Ibukota Koruptor Nepotisme', Jubir OIKN: Bukan di Wilayah IKN

Ramai soal Video WNA Sebut IKN "Ibukota Koruptor Nepotisme", Jubir OIKN: Bukan di Wilayah IKN

Tren
Pos Indonesia Investasi Robot untuk Efisiensi Gaji, Ekonom: Perlu Analisis Lagi

Pos Indonesia Investasi Robot untuk Efisiensi Gaji, Ekonom: Perlu Analisis Lagi

Tren
Jawaban Anies soal Isu Duet dengan Kaesang, Mengaku Ingin Fokus ke Koalisi

Jawaban Anies soal Isu Duet dengan Kaesang, Mengaku Ingin Fokus ke Koalisi

Tren
Denmark Tarik Peredaran Mi Samyang karena Terlalu Pedas, Bagaimana dengan Indonesia?

Denmark Tarik Peredaran Mi Samyang karena Terlalu Pedas, Bagaimana dengan Indonesia?

Tren
Lolos SNBT 2024, Apakah Boleh Tidak Diambil? Ini Penjelasannya

Lolos SNBT 2024, Apakah Boleh Tidak Diambil? Ini Penjelasannya

Tren
Daftar PTN yang Menerima KIP Kuliah Jalur Mandiri, Biaya Studi Bisa Gratis

Daftar PTN yang Menerima KIP Kuliah Jalur Mandiri, Biaya Studi Bisa Gratis

Tren
KAI Kembali Operasikan KA Mutiara Timur, sampai Kapan?

KAI Kembali Operasikan KA Mutiara Timur, sampai Kapan?

Tren
Ramai soal La Nina Penyebab Hujan Turun Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Ramai soal La Nina Penyebab Hujan Turun Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com