Antonius Ferry Timur
Konsultan

Konsultan dan pemerhati pendidikan dasar, Direktur Yayasan Abisatya Yogyakarta

Budaya Baca Mendorong Kemederkaan Berpikir

Kompas.com - 20/08/2022, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

MEMASUKI usia ke-77 tahun kemerdekaan, Indonesia berada dalam era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi. Roger Fidler (1997) menyebut era ini sebagai budaya mediamorphosis ketiga atau menurut bahasan Walter Ong (1982) disebut sebagai budaya lisan kedua.

Budaya mediamorphosis ketiga atau budaya lisan kedua adalah budaya televisi atau budaya nonton. Mediamorphosis pertama adalah budaya lisan, yang diikuti munculnya budaya baca dan tulis sebagai mediamorphosis kedua, selanjutnya adalah era televisi sebagai mediamorphosis ketiga.

Meskipun menurut beberapa pengamat komunikasi, sebenarnya kita tidak pernah berada pada budaya baca dan tulis, tetapi dari budaya lisan pertama langsung menuju ke budaya lisan kedua.

Baca juga: Ini 9 Strategi Membaca Intensif dalam Pembelajaran

Menurut Frederik Gasa, mediamorfosis meliputi tiga babak besar yaitu: spoken language, written language, dan digital language. Spoken language berkaitan dengan bagaimana seseorang tergabung dalam kelompok sosial tertentu, bagaimana mengasah kemampuan menyelesaikan masalah, dan berkembangnya storytelling.

Written language ditandai dengan berkembangnya budaya media massa dan printed era. Kemudian digital language berkaitan dengan berkembangnya mediated communication dengan ciri kolaborasi penggunaan komputer dan media digital lainnya dengan pola komunikasi manusia (https://binus.ac.id/).

Salah satu prinsip utama mediamorfosis adalah konvergensi. Media digital memungkinkan dan merangsang perkembangan media modern: konvergensi telekomunikasi, komunikasi data, dan komunikasi massa.

Konvergensi melahirkan media platform baru – menjadi legacy mediamorfosis. Seiring dengan media sosial yang menjadi candu masyarakat modern, peradaban manusia berada pada fase baru: digitalisasi.

Setiap hari, aktivitas manusia diawali dan diakhiri dengan mengecek handphone. Hampir setiap jam, seseorang akan mengabarkan kepada dunia makanan apa yang disantapnya, tempat mana yang didatanginya, lagu apa yang sedang dimainkannya hingga curhat tentang masalah keluarga yang sebenarnya menjadi domain privat.

Kekhawatiran melanda manakala kebiasaan ini kelak menjadi budaya. Orang akan cenderung memerhatikan virtual identity-nya dan acuh terhadap dunia nyata.

Sihir televisi dan media sosial

Oleh media sosial, dunia budaya kita seakan-akan dibawa untuk menjelma menjadi sebuah dunia atau lingkungan baru, tempat kita seakan disihir untuk tiada henti bersosialisasi dengan makna-makna dan nilai-nilai kehidupan yang baru. Sebuah dunia pasca-modern atau sebuah abad media sosial yang selalu mengotbahkan janji-janji akan impian manusia.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.