Kompas.com - 17/12/2021, 10:45 WIB

KOMPAS.com – Aktivis mahasiswa Soe Hok Gie lahir di Jakarta, 17 Desember 1942. 

Dia meninggal saat mendaki Gunung Semeru pada 16 Desember 1969 atau sehari jelang ulang tahunnya yang ke-27. 

Gie meninggal bersama rekannya Idhan Lubis karena menghirup gas beracun di puncak Gunung Semeru. Berikut ini profil Soe Hok-Gie. 

Baca juga: 17 Desember, Selamat Ulang Tahun Soe Hok Gie!

Sosok Soe Hok Gie.

Mengutip Kompas.com 17 Desember 2019, Gie semasa hidupnya menempuh pendidikan di SMA Kolese Kanisius, kemudian melanjutkan pendidikannya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1962.

Gie telah rajin menulis catatan sejak ia berusia 15 tahun. Catatan hariannya kemudian dibukukan dan dicetak dengan judul "SOE HOK-GIE: Catatan Seorang Demonstran" pada 1983. 

Dari catatan hariannya itu diketahui, Gie rajin mencatat hal menarik dan penting dari karya Spengler, Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah, dan Chairil Anwar.

Ia juga kerap melontarkan ide-ide kritis saat masa pergolakan politik 1966. Ketika itu Gie beserta mahasiswa lain turun ke jalan dalam aksi Tritura.

Prasasti makam aktifis mahasiswa, Soe Hok Gie menjadi salah satu koleksi yang menghias Musium Prasasti, di Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Aktifis mahasiswa yang juga salah satu pendiri organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI ini tewas di Puncak Gunung Semeru, Jatim, 16 Desember 1969, akibat menghirup gas beracun, tepat sehari sebelum HUT-nya yang ke-27.Dok. KOMPAS/Pandu DE Prasasti makam aktifis mahasiswa, Soe Hok Gie menjadi salah satu koleksi yang menghias Musium Prasasti, di Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Aktifis mahasiswa yang juga salah satu pendiri organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI ini tewas di Puncak Gunung Semeru, Jatim, 16 Desember 1969, akibat menghirup gas beracun, tepat sehari sebelum HUT-nya yang ke-27.

Demo melawan Sukarno dan mengkritisi Soeharto

Dirinya juga dianggap sebagai tokoh kunci dari aliansi mahasiswa-ABRI pada 1966 saat menjatuhkan Pemerintahan Presiden Sukarno.

Setelah Sukarno tumbang dan berganti kekuasaan di tangan Soeharto, dia memilih kembali ke kampus dan mengindari kekuasaan awal Orde Baru. 

Dia lebih memilih menjadi unsur moral force pada awal kemenangan Orde Baru dengan cara kembali ke kampus untuk menggalang kekuatan alternatif.

Langkah yang ia ambil berbeda dengan 13 mahasiswa lain yang diangkat menjadi anggota parlemen.

Gie terus menyuarakan agar rakyat tak menyerah dan apatis terhadap pemerintahan saat adanya oknum-oknum yang menampar rakyat di masa Orde Baru.

Baca juga: Mengenang Soe Hok Gie, Berpulang di Gunung Semeru 52 Tahun Lalu

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.