Sejarah Idul Adha, Mengapa Disebut Lebaran Haji dan Hari Raya Kurban?

Kompas.com - 17/07/2021, 17:20 WIB
Ilustrasi perayaan Hari Raya Idul Adha. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGIlustrasi perayaan Hari Raya Idul Adha.

KOMPAS.com - Sebentar lagi umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Idul Adha 1442 Hijriah. Di Indonesia, hari raya tersebut jatuh pada tanggal 20 Juli 2021.

Hari Raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu menunaikannya. Adapun hewan yang disembelih untuk ibadah kurban yaitu sapi, kambing, domba, kerbau, maupun unta.

Oleh sebab itu, Idul Adha disebut juga dengan Hari Raya Kurban. Akan tetapi, ada sebutan lain bagi hari besar umat Islam ini, yaitu Lebaran Haji.

Lantas, mengapa Idul Adha disebut juga sebagai Hari Raya Kurban dan Lebaran Haji?

Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com pada Senin (22/6/2020), berikut ini sejarah Idul Adha, dan alasan penyebutan Hari Raya Kurban dan Lebaran Haji.

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan awal mula kurban

Saat Idul Adha, Allah memerintahkan kepada umat Islam untuk melakukan ibadah kurban bagi yang mampu melaksanakannya. Perintah tersebut juga tertulis dalam Al-Qur'an:

Baca juga: Tata Cara Shalat Idul Adha di Rumah, Panduan dari MUI

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar (108):1-2).

Dikutip dari muslim.or.id melalui KOMPAS.com, penyebutan Idul Adha sebagai Hari Raya Kurban tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim.

Abul Anbiya, atau Bapaknya para Nabi itu melaksanakan pengorbanan atas perintah dari Allah SWT.

Sebelumnya, usai penantian panjang, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang anak oleh Allah SWT yang diberi nama Ismail, yang nantinya menjadi salah satu nabi bagi umat Islam.

Ketika Nabi Ismail menginjak usia remaja, Nabi Ibrahim mendapatkan Wahyu dari Allah SWT yang berisi perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail.

Baca juga: Hewan yang Boleh Dijadikan Kurban Idul Adha dan Tata Cara Menyembelihnya

Nabi Ibrahim adalah orang yang patuh, dia menaati perintah Allah SWT meski harus mengorbankan anak yang telah lama dinantikannya.

Allah SWT berfirman dalam Surah An Nahl ayat 120 yang artinya:

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan (patuh kepada Allah), dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah),"

Nabi Ibrahim pun menyampaikan wahyu tersebut kepada anaknya, Nabi Ismail, sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur'an surat Ash Shaffat ayat 102, yang artinya:

"Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku sedang menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!", Ismail menjawab: Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Baca juga: Idul Adha Jatuh Tanggal 20 Juli, Bolehkah Shalat Id di Masjid?

Melihat ketakwaan Nabi Ibrahim dan putranya, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan domba.

Itulah asal-muasal sunah kurban yang dilaksanakan umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha atau yang disebut juga Hari Raya Kurban.

Mengapa Idul Adha disebut Lebaran Haji?

Selain Hari Raya Kurban, Idul Adha juga disebut sebagai Lebaran Haji, karena sejak 9 Dzulhijah, umat Islam yang menunaikan ibadah Haji sedang melaksanakan ritual haji yang paling utama yaitu wukuf di Padang Arafah.

Wukuf adalah ritual haji yang mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan aktivitasnya sejenak agar dapat merenungkan diri, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim setelah menerima perintah dari Allah SWT untuk mengorbankan anaknya, Nabi Ismail.

Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, disunnahkan untuk melakukan ibadah puasa Arafah pada tanggal yang sama, yaitu 9 Dzulhijah.

Sumber: KOMPAS.com (Ari Welianto)


Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.