Tren Makan Makanan dengan Topping Emas, Berbahayakah bagi Kesehatan?

Kompas.com - 04/12/2020, 10:31 WIB
Viral Indomie goreng emas 24 karat Tangkapan layar InstagramViral Indomie goreng emas 24 karat
|

KOMPAS.com – Belakangan, ramai tren mengenai makanan dengan lapisan maupun topping yang terbuat dari emas.

Di antaranya adalah popcorn emas buatan chef Arnold yang dibeli pengacara kondang, Hotman Paris. Kemudian, sebuah restoran di Dubai menjual Indomie goreng dengan topping emas.

Sebenarnya, bagaimanakah dampak makan emas bagi kesehatan?

Ahli gizi, Dr Tan Shot Yen, menjelaskan emas yang ditujukan untuk makanan berbeda dengan emas yang bisanya dikenal masyarakat sebagai perhiasan.

“Edible gold (jenis emas yang lazim diimbuhkan ke makanan) itu beda dengan emas sehari-hari yang kita kenal,” ujar dr Tan saat dihubungi Kompas.com, Jumat (4/12/2020).

Ia mengatakan, di Amerika Serikat dan Uni Eropa, serpihan emas tersebut disebut sebagai imbuhan pangan atau food additive dengan kode E175.

Edible gold merupakan emas 24 karat yang memiliki sifat inert, artinya tidak diurai ketika masuk ke dalam tubuh.

“Masuk sebagai emas, nantinya juga dibuang dalam bentuk sama. Lah, nyesel kan makan gituan,” ujarnya.

Baca juga: Foto Viral Menu Indomie Goreng Topping Emas 24 Karat di Dubai, Ini Penjelasan Indofood

Tan menerangkan emas yang berbahaya untuk dimakan adalah emas yang biasa digunakan untuk perhiasan.

"Yang bahaya itu kalau menggunakan emas yang biasa untuk perhiasan, biasanya ada campuran tembaga," ujar dia.

Bahaya yang muncul adalah timbulnya toksik, apalagi jika emas yang digunakan dalam bentuk koloidal atau senyawa garam “gold salt”.

Menurut Tan, orang-orang mengonsumsi emas dalam makanan lebih pada sekadar urusan gengsi, sophistication.

Meski dalam ilmu Ayuruveda India emas dipakai dalam ramuan herbal, namun Tan menilai hingga kini belum ada studi berbasis bukti yang menjelaskan kegunaan partikel emas dalam aspek nutrisi maupun terapi.

Baca juga: Coba Sajian Durian Mao Shan Wang Berlapis Emas 24 Karat di Tempat Ini

Sementara itu, mengutip food & wine, selama berabad-abad lembaran emas murni telah sering ditumbuk tipis untuk hiasan kue Eropa dan dijadikan campuran teh hijau di Jepang.

Seorang ahli nutrisi di New York, Cynthia Sass, mengatakan emas mungkin dapat dimakan, namun tidak akan diserap sistem pencernaan ke dalam aliran darah. Emas pada makanan hanya akan melewati tubuh dan dibuang sebagai limbah. 

“Tapi ini mungkin tergantung pada ukuran, jumlah, dan frekuensi yang dikonsumsi,” jelas Sass.

Ia mengatakan karena masih kurangnya penyelidikan pada emas, ia menilai sebaiknya makan emas menjadi acara makan sekali seumur hidup.

Ahli nutrisi lainnya, Alexander Oppenheimer juga memperingatkan makan emas bukan berarti memakan cincin kawin.

“Emas yang bisa dimakan harus 23-24 karat,” jelasnya.

Ia menekankan sampai ada penelitian yang lebih meyakinkan mengenai keamanan emas, maka tetap berpotensi memunculkan masalah kesehatan.

Baca juga: Wajib Coba, Es Krim Berlapis Emas di Jepang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X