Penolakan Jenazah Pasien Covid-19, Mengapa Bisa Terjadi?

Kompas.com - 13/04/2020, 11:08 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Selasa (31/3/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Selasa (31/3/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona.

Menurut dia, informasi yang beredar mengenai Covid-19 menimbulkan rasa takut yang berlebihan di tengah masyarakat. 

"Ini kan memang media luar biasa memberitakan Covid itu, sehingga di satu sisi kalangan tertentu (terasa) mencekam," kata Usman saat dihubungi Kompas.com, Senin (13/4/2020).

Ketika terjadi kebingungan dan kepanikan, tidak semua mendapatkan informasi yang benar.

"Mereka (masyarakat bawah) kan bertanya, mencari kejelasan, ketegasan. Nah mencarinya pada orang-orang yang panik itu. Karena itu, yang memberikan penjelasan ke bawah ini kan memang harus santun, harus clear," sebut dia.

Baca juga: 3 Terduga Provokator Penolakan Pemakaman Jenazah Perawat Positif Covid-19 Ditangkap

Penjelasan yang jelas dan disampaikan dengan tenang, menurut Usman, akan efektif untuk mencerahkan masyarakat terkait penyakit ini.

"Saya kira kalau yang memberi penjelasan ke bawah lebih jelas, masyarakat mau menerima. Orang Indonesia ini sangat toleran kok," ujar Usman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut dia, penyampaian informasi secara berlebihan juga menyebabkan virus corona ini menjadi hal yang sangat menakutkan bagi masyarakat. 

"Saya ini beberapa kali diundang teleconference, yang bicara dosen, kadang-kadang anggota DPR, itu semuanya tegang kalau berpendapat. Semuanya itu seolah-olah (sedang) berhadapan dengan hantu yang luar biasa," kisah Usman.

"Jadi rasionalisasi itu kadang-kadang terabaikan. Harusnya kalau mereka pakar, mereka pengamat, mereka anggota DPR misalnya, itu kan harus ada argumentasi-argumentasi," lanjut dia. 

Usman mengatakan informasi ini tidak cukup hanya disampaikan melalui media, tetapi juga harus secara langsung dan dilakukan secara santun serta jelas.

"Banyak orang yang masih sembrono dengan dampak virus Covid-19. Meskipun ada kebijakan physical distancing, banyak yang melakukan perjalanan tanpa pakai masker. Mereka masih leluasa atau santai di tempat keramaian, misalnya pasar dan mall," ujar dia.

Baca juga: Soal Penolakan Jenazah Perawat Positif Corona di Semarang, Pengakuan Ketua RT hingga Sorotan Ganjar

KOMPAS.com/AKbar Bhayu Tamtomo Protokol Pengurusan Jenazah Pasien Covid-19

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X