Aristides Katoppo, antara Skripsi dan Rawon

Kompas.com - 01/10/2019, 16:39 WIB
Repro buku APA-SIAPA ORANG INDONESIA 1983-1984. Repro buku APA-SIAPA ORANG INDONESIA 1983-1984.Repro buku APA-SIAPA ORANG INDONESIA 1983-1984.

“Anda amati juga dong editorial cartoon Chee-Chuck milik Indonesia Observer (IO), jangan lupa, ia koran perjuangan, yang selalu dengar suara pembacanya. Itu bedanya dia dengan The Jakarta Post. Itu pula sebabnya Anda saya minta menulis dari sisi sejarah persnya juga.”

Kritik keras itu seakan baru terjadi minggu lalu. Jelas dalam ingatan, padahal terjadi 25 tahun silam. Diskusi kami berlangsung di ruang Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, Jalan Dewi Sartika Cawang, pertengahan tahun 1994. Sang Pemimpin Redaksi itulah Aristides Katoppo, yang baru saja tutup usia dalam usia 81 tahun (29/9).

Bang Tides, begitu dulu panggilan semua murid-muridnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Jurusan Ilmu Komunikasi, adalah sosok yang selalu dinanti jam kuliahnya.

Usianya ketika itu 51 tahun, dan kami semua baru 18-19 tahun. Stringer The New York Times ini dosen luar biasa untuk mata kuliah “Teknik Mencari dan Menulis Berita (TMMB)”, dan “Menulis Feature untuk Surat Kabar”, dan pembimbing beberapa skripsi kami.

Bang Tides mengkritik, kenapa saya tak mengulas Chee-Chuck. Itu kartun tentang celoteh dua ekor cicak yang selalu hadir di pojok kanan halaman muka Observer. Usil, tetapi cerdas menyuarakan apa yang menjadi protes masyarakat.

Maklum, zaman Orde Baru, seperti itulah cara surat kabar mengkritik kebijakan pemerintah. Bang Tides melihat, itulah kekurangan tulisan saya. Tidak melihat Chee-Chuck sebagai kekuatan Observer.

Saya ingat, saya bereaksi diam, mungkin juga takut. Sambil saya berpikir, ini kapan lulus ya, salah terus. Itu dalam hati saja. Saya tetap membolak-balik halaman-halaman lepas “Bab Temuan dan Analisa”, mencoret-coret beberapa kata kunci dari sang pembimbing skripsi.

Ilmu Wartawan

Kenapa kuliah Bang Tides selalu dinanti? Karena ia satu dari sangat sedikit dosen luar biasa yang mengajar dengan menuturkan pengalamannya menjadi wartawan cerdas, berani, nakal menerobos pakem, jeli menganalisa situasi, punya jaringan lobi yang mahaluas, tetapi justru dengan segera menghasilkan karya jurnalistik yang eksklusif.

Belum lagi ia pecinta alam tulen, yang konon menyebabkan ia lembut. Senyumnya selalu mengembang beberapa detik lebih dulu dari suaranya.

Salah satu yang membuat kuliahnya selalu cair dan kami tak takut berbagi cerita. “Halo, ada apa hari ini?” Selalu, sapaan pembukanya. Asyik. Seperti mendengar dongeng.

Itu sebabnya mingguan Mutiara, yang juga dipimpinnya, menjadi bacaan anak muda yang mimpi menjelajahi Indonesia. Mingguan yang banyak mengulas tentang penjelajahan alam yang tak ada duanya sampai kini. Mulai dari kisah penjelajahan perahu cadiknya almarhum Effendi Soleman, sampai foto-foto dan laporan perjalanan Don Hasman.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X