Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Selamatkan Buaya Berkalung Ban di Palu, Tili Habiskan Umpan 35 Ekor Ayam hingga Uang Rp 4 Juta

Pria asal Sragen, Jawa Tengah, itu menghabiskan hingga 35 ekor ayam dan merpati untuk umpan buaya dan menghabiskan uang hingga Rp 4 juta untuk membeli peralatan, termasuk tali hingga 300 meter. 

"Habis uang sekitar Rp 4 juta, kalau ayam sekitar 35 ekor sama merpati. Pokoknya kalau tali ada sekitar 300 meter dan tinggal 100 meter dicuri orang, tapi saya ikhlaskan," ujar Tili, dikutip dari Tribun Manado, Selasa (8/2/2022). 

Tili menjerat buaya tersebut menggunakan tali kapal yang disambung-sambung. Dia melakukan itu semua dengan biaya pribadi. 

"Karena tidak ada modal makanya saya sambung-sambung saja, saya kan modal sendiri, uang Rp 4 juta saya jalankan di sini," ujar pria yang sudah empat bulan tinggal di Palu itu. 

Penangkapan buaya berkalung ban tersebut sudah dilakukan sejak 2016, tetapi sulit tertangkap.

Sejumlah nama mulai dari Panji Petualang hingga ahli reptil asal Australia Matt Wright pernah mencoba menangkap dan menyelamatkan buaya berkalung ban ini.

Bahkan, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah pernah membuka sayembara sebagai upaya untuk melepaskan ban yang melilit leher buaya tersebut.

Kronologi penangkapan buaya berkalung ban

Diberitakan dalam Kompas.com, Tili berhasil menangkap buaya berkalung ban setelah menunggu selama tiga pekan.

Tili memang berniat untuk menangkap buaya berkalung ban lantaran merasa iba. Sebab, buaya tersebut hidup bertahun-tahun dengan ban yang melilit di lehernya.

Upaya penangkapan buaya berkalung ban dilakukan menggunakan umpan yang diikat tali. Umpan yang disiapkan oleh Tili beragam, kadang ayam, kadang juga merpati.

Umpan tersebut ia ikat dengan tali yang dikaitkan ke batang kayu besa di sekitar sungai. Cara ini memudahkan Tili untuk menarik buaya berkalung ban ketika mencaplok umpan.

Senin petang, umpan yang dipasang Tili dimakan buaya berkalung ban. Ketika itu buaya berkalung ban langsung ditarik ke darat. Dengan sigap, Tili mengikat buaya sepanjang empat meter itu.

"Sempat lepas dua kali dari umpan, setelah maghrib baru berhasil," ungkapnya, dikutip dari Kompas.com, Selasa (8/2/2022).

Setelah buaya itu berhasil ditangkap, ban yang melilit lehernya digergaji agar terlepas dari tubuhnya. Tili melakukan aksinya ini tidak sendiri, ia juga dibantu oleh warga.

Bertahun-tahun sebelumnya, upaya penangkapan buaya berkalung ban sempat dilakukan. Pada tahun 2016, buaya berkalung ban tersebut muncul di Sungan Palu dan menggegerkan warga.

Warga merasa iba karena ban sepeda motor melilit leher buaya itu.

Alasan mengapa ban sepeda motor bisa melilit leher buaya juga masih simpang siur. Sebagian masyarakat mencurigai ban tersebut masuk di leher buaya karena tidak sengaja.

Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa ban itu sengaja dipasangkan di leher buaya.

Terlepas dari kabar tersebut, sejumlah upaya dilakukan untuk menangkap dan melepaskan ban yang melilit leher buaya.

1. Dicari sejak 2016

Pada tahun 2016, BKSDA Sulawesi Tengah bergerak cepat untuk menangkap buaya itu dan melepaskan ban yang melilitnya.

Upaya tersebut dilakukan dengan jala yang diberi pemberat dan menggunakan kerangkeng. Akan tetapi, usaha itu tak membuahkan hasil.

2. Penyelamatan oleh relawan pencipta reptil

Diberitakan dalam Kompas.com, pada tahun 2016, relawan pecinta reptil pernah mencoba melepaskan ban dari leher sang buaya. Mereka memancing dengan menggunakan umpan ayam.

Namun upaya tersebut terhenti lantaran pihak BKSDA Sulawesi Tengah melarang dengan alasan mereka tidak mengetahui tingkah laku buaya itu. Bahkan, Kepala BKSDA Syihabuddin mengatakan bahwa upaya kawan-kawan pecinta reptil itu akan sia-sia jika terus dilakukan.

3. Penyelamatan oleh Panji si Petualang

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2018, Panji si Petualang berusaha mencoba menangkap buaya berkalung ban itu. Dibantu dengan timnya, Panji mandatangi Palu dan mencari cara untuk menangkap buaya itu.

Kendati demikian, Panji mengalami kesulitan saat hendak menangkap buaya itu.

"Kita bisa saja pakai pancing dengan menggunakan umpan daging, cuma posisinya kalau pakai kail takutnya mulut buaya bisa terluka. Atau bisa juga saya berenang sampai onggokan pasir dimana buaya berkalung ban itu berjemur, kemudian kita jerat pake tali, cuma memang resikonya besar," paparnya, dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Selasa (8/2/2022).

Di sungai yang sama, Panji juga melihat adanya buaya lain.

4. Gelar Sayembara BKSDA

Kemudian, pada 2020, BKSDA Sulawesi Tengah berinisiatif menggelar sayembara.

Sayembara diadakan karena BKSDA Sulawesi Tengah tidak punya cukup sumber daya untuk mencari buaya itu. Gubernur Sulawesi Tengah kala itu, Longki Djanggola, memberikan instruksi agar BKSDA Sulawesi Tengah menggelar sayembara untuk menangkap buaya berkalung ban.

Namun, sayembara akhirnya ditutup karena sepi peminat. BKSDA lantas membentuk satgas untuk menangkap buaya tersebut.

Februari 2020, BKSDA Sulawesi Tengah memanggil dua ahli satwa asal australia, Matthew Nicolas Wright dan Chris Wilson.

Matt merupakan pengisi acara dalam salah satu program di National Geographic. Ia dikenal berpengalaman dalam pemindahan satwa liar yang masuk ke kawasan permukiman. Ia juga disebut sudah menangkap puluhan buaya.

Matt dan Chris membuat perangkap ukuran panjang 4 meter, lebar 1,2 meter, dan tinggi 1 meter. Jebakan tersebut dipasang di Jembatan 2, Jalan Gusti Ngurah Rai, Palu, dengan menggunakan umpan satu ekor bebek hidup.

Upaya lainnya juga dicoba oleh Matt dan Chris. Mereka menerbangkan umpan menggunakan drone.

Namun kedua upaya tersebut masih belum membuahkan hasil.

Kemudian, Maret 2020, Forrest Galante dan tim Discovery Channel mencoba menyelamatkan buaya berkalung ban. Upaya penangkapan buaya berkalung ban dimulai pada tanggal 12 Maret 2020.

Forrest Galante mengaku telah menyiapkan alat dan menangkap dan menyelamatkan buaya berkalung ban dengan cara yang cepat, tepat, aman. Bahkan Forrest Galante juga mempersiapkan sejumlah metode penangkapan.

Kendati demikian, upaya penangkapan buaya berkalung ban oleh Forrest Galante harus terhenti karena pandemi Covid-19.

(Sumber: Kompas.com/ Sumber: Kontributor Palu, Erna Dwi Lidiawati | Editor Caroline Damanik, Reza Kurnia Darmawan, David Oliver Purba)

https://www.kompas.com/tren/read/2022/02/08/142900965/selamatkan-buaya-berkalung-ban-di-palu-tili-habiskan-umpan-35-ekor-ayam

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke