Dukungan Berbagai Lapisan Terhadap Proklamasi

Kompas.com - 24/04/2020, 20:15 WIB
Bung Karno saat menghadiri rapat raksasa menyambut Proklamasi Kemerdekaan R.I di Lapangan Ikada Jakarta (Lapangan Monas), 19 September 1945 Arsip KompasBung Karno saat menghadiri rapat raksasa menyambut Proklamasi Kemerdekaan R.I di Lapangan Ikada Jakarta (Lapangan Monas), 19 September 1945

KOMPAS.com - Dukungan berbagai lapisan terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mulai dari golongan pemuda hingga penguasa kerajaan di berbagai daerah. Tahukah kamu bagaimana dukungan berbagai lapisan terhadap proklamasi Indonesia?

Dukungan berbagai lapisan

Mengutip Sumber Belajar Kemdikbud RI, berita proklamasi Kemerdekaan Indonesia cepat bergema ke berbagai daerah. Rakyat di Jakarta dan kota-kota lain menyambut antusias. Karena alat komunikasi terbatas, informasi proklamasi ke daerah tidak secepat di Jakarta. Rakyat yang jauh dari Jakarta belum percaya tentang Proklamasi Kemerdekaan.

Pada 22 Agustus 1945, secara resmi Jepang mengumumkan penyerahan tanpa syarat kepada Sekutu. Baru pada September 1945, Proklamasi diketahui di wilayah-wilayah terpencil. Keempat penguasa kerajaan di Jawa Tengah, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia.

Euforia revolusi melanda Indonesia, khususnya kaum muda, yang merespon kegairahan dan tantangan kemerdekaan. Para komandan pasukan Jepang di daerah-daerah meninggalkan perkotaan dan menarik mundur pasukan ke daerah pinggiran guna menghindari konfrontasi. Banyak yang memperbolehkan pemuda-pemuda Indonesia memperoleh senjata.

Antara 3-11 September 1945, para pemuda di Jakarta mengambil alih kekuasaan atas stasiun-stasiun kereta api, sistem listrik, dan stasiun pemancar radio tanpa perlawanan dari Jepang. Akhir September 1945, instalasi-instalasi penting di Yogyakarta, Surakarta, Malang dan Bandung sudah direbut para pemuda Indonesia.

Terlihat ada semangat revolusi di dalam kesusasteraan dan kesenian. Surat-surat kabar dan majalah Republik bermunculan di berbagai daerah terutama di Jakarta, Yogyakarta dan Surakarta. Aktivitas kelompok sastrawan bernama Angkatan 45, mengalami masa puncak di zaman revolusi. Lukisan-lukisan modern juga mulai berkembang pesat di era revolusi.

Baca juga: Proklamasi Berkumandang

Banyak pemuda bergabung dengan badan-badan perjuangan. Di Sumatera para pemuda benar-benar memonopoli kekuasaan revolusioner. Karena jumlah pemimpin nasionalis yang sudah mapan hanya segelintir, mereka ragu apa yang akan dilakukan.

Para mantan prajurit Peta dan Heiho membentuk kelompok-kelompok yang paling disiplin. Laskar Masyumi dan Barisan Hizbullah menerima banyak pejuang baru dan ikut bergabung dalam kelompok-kelompok bersenjata Islam lainnya yang umumnya disebut Barisan Sabilillah, yang kebanyakan dipimpin para kiai.

Proklamasi kemerdekaan akan disebarluaskan melalui radio, tetapi Jepang menentang upaya penyiaran dan malah memerintahkan para penyiar meralat berita proklamasi sebgai kekeliruan. Para penyiar tidak mau memenuhi seruan Jepang.

Pada 20 Agustus 1945, pemancar disegel dan para pegawai dilarang masuk. Mereka pun membuat pemancar baru di Menteng 31. Selain siaran radio, para wartawan juga menyebarluaskan berita proklamasi melalui media cetak, seperti surat kabar, selebaran dan jenis penerbitan lain.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber Kemdikbud
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X