Kompas.com - 06/06/2022, 18:45 WIB

KOMPAS.com - Kehidupan muncul dan terjadi begitu cepat. Fosil menunjukkan mikroba hadir 3,7 miliar tahun lalu, hanya beberapa ratus juta tahun setelah planet cukup dingin mendukung biokimia.

Banyak peneliti berpikir, bahwa materi keturunan untuk organisme pertama tersebut adalah RNA, yang walaupun tak serumit DNA, RNA masih akan sulit untuk ditempa menjadi untaian panjang yang diperlukan dalam menyampaikan informasi genetik.

Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana RNA terbentuk secara spontan.

Melalui penelitian yang dilakukan di laboratorium, terlihat batuan basalt membantu RNA individu yang dikenal sebagai nukleosida trifosfat, terhubung menjadi untaian hingga 200 huruf.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Peran RNA dan DNA Membentuk Kehidupan Awal di Bumi

Batu-batu ini akan berlimpah di dalam api dan belerang di bumi yang baru terbentuk. Basalt merupakan batuan beku ekstrusif aphanitic yang terbentuk dari pendinginan cepat lava dengan viskositas rendah yang kaya akan magnesium dan besi.

“Ini tampaknya menjadi cerita yang indah. Akhirnya menjelaskan bagaimana trifosfat nukleosida bereaksi satu sama lain untuk memberikan untaian RNA,” ujar Thomas Carell, seorang ahli kimia di Ludwig Maximilians University of Munich seperti dikutip dari Science.org, Senin (6/6/2022).

Para peneliti asal-kehidupan menyukai dunia RNA purba, dikarenakan molekul tersebut dapat melakukan dua proses berbeda yang penting bagi kehidupan.

Seperti DNA, RNA terdiri dari empat huruf kimia yang dapat membawa informasi genetik, serta tidak jauh berbeda dengan protein, RNA juga dapat mengkatalisis reaksi kimia yang dibutuhkan untuk kehidupan.

Kendati begitu, belum ada yang menemukan serangkaian kondisi prebiotik masuk akal yang akan menyebabkan ratusan huruf RNA, masing-masing molekul kompleks, terkait menjadi untaian yang cukup panjang dan mendukung kimia kompleks yang diperlukan untuk memicu evolusi.

Seorang ahli geologi di University of Colorado Boulder Stephen Mojzsis mempertanyakan peran batuan basalt, yang kaya akan logam seperti magnesium dan besi, mendorong banyak reaksi kimia.

"Saat itu, batuan basaltik ada di bagian bumi mana saja," papar dia.

Mojzsis mengirim sampel lima gelas basaltik yang berbeda ke Foundation for Applied Molecular Evolution.

Kemudian, seorang ahli biologi molekuler Elisa Biondi dan timnya menggiling setiap sampel menjadi bubuk halus, mensterilkan, dan kemudian mencampurnya dengan larutan nukleosida trifosfat.

Tanpa kehadiran bubuk batuan, huruf-huruf RNA gagal terhubung. Tapi saat dicampur dengan bubuk batuan, molekul-molekul itu bergabung menjadi untaian panjang, sekitar ratusan huruf.

Laporan yang dituliskan di Astrobiology menuliskan, tidak ada panas atau cahaya yang dibutuhkan.

“Yang harus kami lakukan hanyalah menunggu,” kata Biondi.

Baca juga: Berterimakasihlah pada Jamur, Pendorong Kehidupan Awal Bumi

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.