Beri Rara Sekar dan Isyana Sarasvati Kebebasan Sejak Kecil, Ayah: Orangtua Belum Tentu Benar

Kompas.com - 20/01/2021, 18:56 WIB
Isyana Sarasvati dan Rara Sekar saat jumpa pers peluncuran trailer dan pengisi soundtrack film Milly & Mamet di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (8/11/2018). KOMPAS.com/IRA GITAIsyana Sarasvati dan Rara Sekar saat jumpa pers peluncuran trailer dan pengisi soundtrack film Milly & Mamet di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (8/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ayah penyanyi Rara Sekar dan Isyana Sarasvati, Sapta Dwikardana yang berprofesi sebagai behaviour analyst berbagi kiat-kiatnya dalam memerhatikan tumbuh kembang anak.

Menurut Sapta, anak kecil tentu belum punya kemampuan atau kapasitas untuk menentukan baik buruk, benar salah suatu hal, dan sebagainya.

"Tentu belum punya sama sekali ya. Berarti kita yang punya kewajiban untuk mendefinisikan itu," tutur Sapta Dwikardana, dikutip dari kanal YouTube Mako Talk, Rabu (20/1/2021).

Sedangkan, kata Sapta, sebagai orangtua ketika mendefinisikan itu semua tentu kita sudah banyak distorsi. Artinya kita sudah punya pengalaman-pengalaman.

Baca juga: Ayah Isyana Sarasvati dan Rara Sekar: Orangtua Juga Harus Mengikuti Perkembangan Jiwa dan Perilaku Anak

"Artinya kita bisa mendefinisikan sesuatu berdasarkan kita, belum tentu benar, karena kita ada di dunia yang mungkin berbeda dan seterusnya," jelas Sapta.

Maka itu, Sapta menjelaskan hal-hal tentang kehidupan, tetapi tak lupa memberikan ruang bebas bagi Rara Sekar dan Isyana Sarasvati.

"Yang saya lakukan adalah saya membantu mendefinisikan tentang kehidupan, tentang apa yang dilihat, tetapi juga memberikan ruang-ruang kebebasan dia untuk mendapat definisinya sendiri," ucap Sapta Dwikardana.

Pria yang punya gelar PhD di bidang organisasi dan sumber daya manusia dari KU Leuven, Belgia ini berujar, dengan kebebasan itu ia berharap anak-anak bisa punya beragam definisi.

Baca juga: Ayah Ungkap Perbedaan Isyana Sarasvati dan Rara Sekar Saat Kecil

"Kalau tidak nanti itu yang dia pegang sepanjang hidupnya, padahal belum tentu benar. Tahu dari mana bahwa itu akan benar, apalagi sekarang yang semua perubahannya lebih cepat, definisi saya mungkin sudah usang nanti di masa mereka dewasa," katanya.

Sapta Dwikardana kini berprofesi sebagai behaviour analyst untuk organisasi dan individu, sekaligus mengajar tentang psikologi politik dan propaganda; kejahatan transaksional, dan kejahatan politik perguruan.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X