Ayah Ungkap Perbedaan Isyana Sarasvati dan Rara Sekar Saat Kecil

Kompas.com - 20/01/2021, 17:39 WIB
Penyanyi Isyana Sarasvati saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (10/3/2020) dini hari. KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI Penyanyi Isyana Sarasvati saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (10/3/2020) dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.com - Berprofesi sebagai behaviour analyst, ayah penyanyi kakak beradik Isyana Sarasvati dan Rara Sekar terbiasa mengamati perilaku kedua putrinya sejak kecil.

Ketika Sapta kuliah untuk mendapatkan gelar PhD di bidang organisasi dan sumber daya manusia dari KU Leuven, Belgia, Isyana dan Rara balita ikut sang ayah ke negara tersebut.

"Misalnya Rara waktu kecil itu, sejak awal sudah menunjukkan ekspresi wajah sumeh kalau kata orang Jawa. Setiap ada orang baru itu ketawa, tersenyum, matanya, ekspresinya tersenyum," ungkap Sapta Dwikardana, dikutip dari kanal YouTube Mako Talk, Rabu (20/1/2021).

Karena masih berusia dini, menurut Sapta, itu merupakan kecerdasan interpersonal Rara Sekar secara genetik. Sebab, tak ada yang mengajari sang anak.

Baca juga: Isyana Sarasvati Tak Sangka Album Lexicon Jadi Medium Terapeutik

Sapta mengatakan, ia mempunyai sejumlah bukti foto masa kecil Rara Sekar saat berada di tengah banyak orang.

"Kalau sekarang kita memperhatikan dia (Rara) merespons apapun yang ada pasti dengan ketawa kan dan itu terobservasi lho dari awal. Itu tidak ada hubungannya dengan pendidikan dan sebagainya," kata Sapta. 

Hal sebaliknya terjadi pada Isyana Sarasvati meskipun lahir dari rahim ibu yang sama.

"Isyana itu sedikit lebih banyak takut pada orang. Jadi, ketika ada orang tuh ekspresinya menarik diri. Wajahnya tuh selalu 'orang asing, menghindar, mengihindar'," ujar Sapta.

"Kan enggak bisa dipaksa dia hanya senang ketika ada kakaknya karena itu orang yang sangat dekat dan dia kenal," imbuhnya.

Baca juga: Berawal dari Iseng Cover Lagu di YouTube, Isyana Sarasvati Jadi Penyanyi

Menurut Sapta, itulah perilaku Rara Sekar dan Isyana Sarasvati yang terobservasi sejak masih kecil.

Sapta kini berprofesi sebagai behaviour analyst untuk organisasi dan individu, sekaligus mengajar tentang psikologi politik dan propaganda, kejahatan transaksional, dan kejahatan politik perguruan.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X