Cerita Seru Nirina Zubir dan Suami Bersepeda Jakarta-Bali untuk Rayakan 10 Tahun Pernikahan

Kompas.com - 25/06/2020, 16:57 WIB
Nirina Zubir dan suaminya Ernest Syarif bersama kedua anaknya di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Dok. Instagaram @ernestsyarifNirina Zubir dan suaminya Ernest Syarif bersama kedua anaknya di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.
Penulis Firda Janati
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Merayakan 10 tahun pernikahan, pasangan artis Nirina Zubir bersepeda dari Jakarta ke Bali bersama suaminya, Ernest Syarif.

Saat menjadi bintang tamu di acara Okay Bos, Ernest mengatakan perjalanan bersepeda dari Jakarta ke Bali melewati Pantura.

Menariknya, perjalanan ulang tahun pernikahan dengan bersepeda tersebut sembari memboyong kedua anaknya, Zivara dan Elzo.

“Anak-anak ikut pakai campervan, pokoknya setiap berapa kilo kita ketemuan ya, seru kan saya suka main sepeda, kapan lagi bisa main sepeda lama gitu terus bareng-bareng,” tutur Ernest Syarif dalam kanal YouTube TRANS7 OFFICIAL, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (25/6/2020).

Menceritakan awal hobi bersepeda, Nirina memang sedari kecil sering menggunakan sepeda ketika bepergian saat tinggal di Beijing, China.

“Jadi gini, Na kan dulu besar di China juga kan di Beijing, dan di Beijing itu memang pakai sepeda, tapi waktu itu stop, abis dari Beijing sampai Jakarta sudah enggak pernah sepedaan lagi,” tuturnya.

Sedangkan Ernest, sebelum terjun ke dunia musik sebagai gitaris grup musik Cokelat, dirinya memang kerap bersepeda saat tinggal di Kalimantan.

“Memang dari kecil, sampai sebelum masuk Cokelat juga setiap hari memang main sepeda doyan gitu,” kata Ernest.

Baru pertama kali melihat orang bersepeda sejauh itu, Raffi sempat menanyakan kondisi kesehatan Nirina dan Ernest.

“Kenapa sekarang orang bisa naik sepeda lama itu karena bisa diukur sesuai ukuran badannya,” pungkas Ernest.

Sebab itu, Ernest dan Nirina sangat nyaman karena sepeda yang dipakai sudah diukur sesuai dengan ukuran badan mereka.

Ernest dan Nirina juga berbagi tips bagi penggemar olahraga sepeda untuk tidak memaksakan diri bila tubuh sudah tak kuat untuk bersepeda.

“Harus tahu diri, dalam arti bukan buat harga (sepeda) atau apa ya, tapi harus hafal sama badan sendiri, kalau misalkan detak jantungnya kencang sampai mata kunang-kunang gitu, sudah (berhenti), kenali diri sendiri saja,” tutur Nirina.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X