Eks Penjaga Kamp Konsentrasi Nazi Terbukti Bunuh 5.000 Tahanan di Usia 93 Tahun

Kompas.com - 23/07/2020, 21:03 WIB
Dalam foto yang dirilis pada 17 Juli 2020, nampak Bruno Dey, mantan anggota SS Nazi Jerman berusia 93 tahun yang bertugas di kamp konsentrasi Stutthof, dekat Danzig, ketika hadir dalam sidang di Hamburg, Jerman. AP PHOTO/Daniel BockwoldtDalam foto yang dirilis pada 17 Juli 2020, nampak Bruno Dey, mantan anggota SS Nazi Jerman berusia 93 tahun yang bertugas di kamp konsentrasi Stutthof, dekat Danzig, ketika hadir dalam sidang di Hamburg, Jerman.

HAMBURG, KOMPAS.com - Seorang mantan penjaga kamp konsentrasi Nazi Jerman diputus bersalah atas pembunuhan lebih dari 5.000 tahanan, di usia 93 tahun.

Eks penjaga yang bernama Bruno Dey dijatuhi suspended prison (penangguhan penjara) selama dua tahun oleh pengadilan di kota Hamburg.

Dey mendapat mandat untuk mengelola kamp konsentrasi di Stutthof ketika Nazi Jerman menyerang dan menduduki Polandia saat Perang Dunia II.

Baca juga: Berusia 95 Tahun, Eks Penjaga Kamp Konsentrasi Dideportasi dari AS

Hukuman atas mantan sipir berusia 93 tahun itu diyakini merupakan yang terahir di era Nazi, seperti diberitakan BBC Kamis (23/7/2020).

Sebabnya, saat ini baik penyintas maupun pelaku sudah sangat tua, dengan beberapa kasus ingatan mereka dilaporkan mulai memudar.

Dey awalnya diadili di pengadilan anak-anak karena usianya masih 17 tahun, dengan perbuatannya terjadi antara Agustus 1944 dan April 1945.

Permintaan maaf dari "neraka kegilaan"

Selama persidangan berdurasi sembilan bulan, dia mendengarkan keterangan para korban, dan bersikukuh tak terlibat dalam pembunuhan massal.

Dalam pernyataan terakhirnya, Dey mengaku "terguncang" atas kesaksian penyintas, dan meminta maaf bagi siapa pun yang "lolos dari neraka kegilaan" itu.

Meski begitu, Dey menyatakan bahwa dia sama sekali tidak mengetahui "seberapa parah" Kamp Stutthof hngga persidangan digelar.

Saat memutus Dey bersalah, hakim mengapresiasi karena bersedia terus hadir sepanjang sidang. Tapi menyoroti penolakan keterlibatannya.

Baca juga: Foto Korban Kamp Konsentrasi Nazi Jerman di Auschwitz Dipublikasikan

Dalam sidang Januari, sejarawan yang jadi saksi ahli mengatakan, Dey awalnya dikirim ke kamp dengan posisi sebagai tentara Wehrmacht.

Saat itu, dia belum bergabung dengan unit SS hingga September 1944. Dalam pandangan sejarawan, seharusnya Dey minta ditransfer ke unit lain sebelum masuk ke dalam skuad pembunuh SS.

Sang mantan sipir mengungkapkan dia mengetahui mengenai kamar gas di Stutthof dan melihat "penderitaan para korban dan tubuh mereka yang kurus".

Meski begitu, tim kuasa hukumnya menjelaskan Dey bukanlah figur penting dan tak terlibat dalam pembunuhan lebih dari 5.000 tahanan, tepatnya 5.230 orang.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Sekutu Bebaskan Kamp Konsentrasi Dachau

Sementara jaksa penuntut mempunyai bukti Dey tak hanya tahu apa yang terjadi. Dia juga berkomunikasi dengan tawanan dan mencegah mereka kabur.

"Ketika Anda terlibat dalam mesin pembunuh massal, tentunya tidak mudah bagi Anda untuk mengesampingkannya begitu saja," jelas Jaksa Lars Mahnke dalam pernyataannya.

Stutthof, berlokasi di dekat kawasan yang kini menjadi kota Gdansk, disulap menjadi kamp konsentrasi pada 1942 oleh Nazi.

Tempat tersebut menjadi kamp pertama yang dibangun di Jerman, dan terakhir dibebaskan oleh militer Uni Soviet pada 9 Mei 1945.

Para penjaga mulai menggunakan kamar gas pada Juni 1944, dengan lebih dari 65.000 tawanan diyakini tewas baik karena kelaparan maupun eksekusi.

Baca juga: Paus Fransiskus: Penampungan Pengungsi Tak Ubahnya Kamp Konsentrasi


Sumber BBC
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Korea Selatan dan China Saling Berjanji untuk Berkerjasama Tangani Berbagai Masalah

Korea Selatan dan China Saling Berjanji untuk Berkerjasama Tangani Berbagai Masalah

Global
Israel Sudah Bersiap jika Trump Menyerang Iran Sebelum Lengser dari Gedung Putih

Israel Sudah Bersiap jika Trump Menyerang Iran Sebelum Lengser dari Gedung Putih

Global
800 Hari Ditahan di Penjara Iran, Akademisi Ini Alami Penderitaan Traumatis

800 Hari Ditahan di Penjara Iran, Akademisi Ini Alami Penderitaan Traumatis

Global
Pembelot Korea Utara Lompati Pagar Setinggi 3,6 Meter untuk Kabur ke Negara Ini

Pembelot Korea Utara Lompati Pagar Setinggi 3,6 Meter untuk Kabur ke Negara Ini

Global
Meski Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Trump Serukan Masyarakat AS Berkumpul Selama Liburan Thanksgiving

Meski Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Trump Serukan Masyarakat AS Berkumpul Selama Liburan Thanksgiving

Global
'La glottophobie', Diskriminasi Berdasarkan Aksen Akan Dilarang dalam UU Perancis

"La glottophobie", Diskriminasi Berdasarkan Aksen Akan Dilarang dalam UU Perancis

Global
China Pasang Ratusan Juta CCTV, Bagaimana Cara Warganya Menghindari Kamera Pengawas Itu?

China Pasang Ratusan Juta CCTV, Bagaimana Cara Warganya Menghindari Kamera Pengawas Itu?

Global
PM Etiopia Perintahkan Serangan Terakhir untuk Menggempur Ibu Kota Tigray

PM Etiopia Perintahkan Serangan Terakhir untuk Menggempur Ibu Kota Tigray

Global
[VIDEO] Dokter AS Simulasikan Apa yang Dilihat Pasien Covid-19 Saat Sekarat

[VIDEO] Dokter AS Simulasikan Apa yang Dilihat Pasien Covid-19 Saat Sekarat

Global
Mantan PM Sudan Sadiq Al-Mahdi Meninggal Setelah Terinfeksi Covid-19

Mantan PM Sudan Sadiq Al-Mahdi Meninggal Setelah Terinfeksi Covid-19

Global
Dalang Pelecehan Seksual Chatroom Berbayar di Korea Selatan Dihukum 40 Tahun Penjara

Dalang Pelecehan Seksual Chatroom Berbayar di Korea Selatan Dihukum 40 Tahun Penjara

Global
Biden Berseru untuk Serius Perang Lawan Covid-19, Bukan 'Satu Sama Lain'

Biden Berseru untuk Serius Perang Lawan Covid-19, Bukan "Satu Sama Lain"

Global
Di Argentina Ada Agama yang Didirikan Khusus untuk Memuja Diego Maradona

Di Argentina Ada Agama yang Didirikan Khusus untuk Memuja Diego Maradona

Global
Foto Seksual Sineenat Selir Raja Thailand Bocor ke Publik

Foto Seksual Sineenat Selir Raja Thailand Bocor ke Publik

Global
Thanksgiving, Biden Sarankan Warga AS Tahan Diri untuk Tidak Berkumpul dalam Acara Besar

Thanksgiving, Biden Sarankan Warga AS Tahan Diri untuk Tidak Berkumpul dalam Acara Besar

Global
komentar
Close Ads X