Sejumlah Orangtua Minta PPDB DKI Jakarta 2020 Diulang

Kompas.com - 27/06/2020, 07:00 WIB
Sejumlah orang tua murid terdampak PPDB DKI Jakarta melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Balaikota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.Sejumlah orang tua murid terdampak PPDB DKI Jakarta melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Balaikota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2020).

KOMPAS.com - Sejumlah orangtua murid di Jakarta meminta pemerintah untuk mengulang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta 2020.

Orangtua menilai pelaksanaan PPDB 2020 jalur afirmasi dan zonasi bertolak belakang dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 44 Tahun 2019.

"Ulang PPDB DKI 2020. Jangan usia yang menjadi tolok ukur utama, tetapi jarak, nilai, usia seperti Permendikbud No 44 Tahun 2019 Pasal 25," kata Kristina dalam keterangan yang diterima Kompas.com.

Ia meminta pengulangan dan pembatalan hasil PPDB jalur afirmasi dan zonasi segera diputuskan sebelum pengumuman hasil PPDB jalur zonasi.

Muhammad Gazy, orangtua lainnya, menolak hasil PPDB 2020 karena menggunakan usia
sebagai seleksi dalam PPDB 2020. Ia menganggap seleksi usia adalah kesalahan fatal karena menghilangkan persaingan dalam konteks semangat belajar siswa yang akhirnya menghasilkan lulusan "asal lulus".

"Kami sebagai orangtua berharap batalkan PPDB DKI 2020, dan untuk diulang kembali. Untuk proses seleksi prioritas utama adalah nilai hasil belajar anak didik dan ini bersifat mutlak. Jarak rumah ke sekolah. Usia anak didik untuk SMA maksimal adalah 17 tahun dan SMP maksimal 14 tahun," kata Ade Purgataria dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Baca juga: Hasil Seleksi PPDB DKI Jakarta Jalur Afirmasi Diumumkan Hari Ini, Berikut Linknya

Proses PPDB 2020 DKI Jakarta jalur afirmasi dan zonasi menimbulkan polemik. Orangtua menganggap penggunaan umur untuk seleksi utama jalur afirmasi dan zonasi oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta dianggap merugikan siswa.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana secara terpisah mengatakan, Jakarta memiliki demografi yang unik.

Hal itu menjadi pertimbangan Dinas Pendidikan menetapkan PPDB jalur zonasi berdasarkan kelurahan, bukan lagi jarak rumah calon siswa ke sekolah.

"Keunikan demografi Kota Jakarta, mulai dari tingkat kepadatan penduduk yang tidak sama tiap kelurahan, bentuk hunian vertikal yang banyak di Jakarta," kata Nahdiana dalam konferensi pers yang disiarkan YouTube Disdik DKI, Jumat (26/6/2020).

"(Kemudian) sebaran sekolah yang tidak sama di setiap kelurahan, begitu juga daya tampung sekolah yang tidak sama di tiap sekolah," lanjut dia.

Nahdiana mengklaim sistem PPDB jalur zonasi di Jakarta tetap sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019 tentang PPDB.

"Untuk jalur zonasi yang saat ini sedang berlangsung mengacu pada Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019," ucapnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X