Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga China Enggan Punya Anak karena Biaya Hidup Tinggi

Kompas.com - 28/02/2024, 09:30 WIB
Yefta Christopherus Asia Sanjaya,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Selain Jepang, dan Korea Selatan, China menjadi salah satu negara di Asia Timur yang mengalami penurunan angka kelahiran.

Merujuk laporan Reuters, populasi di Negeri Tirai Bambu mengalami penurunan pada 2022-2023 imbas angka kelahiran yang rendah dan pandemi Covid-19.

Biro Statistik Nasional China mengatakan, jumlah total penduduk turun sebanyak 2,08 juta jiwa sehingga populasi negara ini menjadi 1,409 miliar jiwa pada 2023.

Jumlah tersebut lebih banyak ketimbang penurunan populasi sebesar 850.000 jiwa pada 2022.

Baca juga: Susul Jepang dan Korea Selatan, China Juga Alami Krisis Populasi

Alasan warga China enggan memiliki anak

Sebagian warga China yang sudah menikah mengungkap alasan mereka memilih tidak mempunyai anak.

Seorang warga Beijing yang bekerja di sektor keuangan, Wang (42), mengatakan keputusan untuk mempunyai anak terlalu berisiko.

Ia menggambarkan memiliki keturunan seperti membuka kotak misteri dan pengeluarannya akan menjadi mahal bila keluarganya mempunyai anak.

"Saya tidak punya keberanian untuk membukanya," kata Wang dikutip dari ABC.

Wang juga menyatakan, kualitas hidupnya menjadi berkurang jika kehadiran anak ada dalam hidupnya.

"Uang yang saya tabung bisa digunakan untuk berbelanja. Saya tidak perlu khawatir tentang kehidupan anak-anak, kesehatan, keselamatan, dan lain-lain," sambungnya.

Baca juga: Untuk Pertama Kali, Populasi Jepang Menurun di Seluruh Prefektur, Jumlah Warga Asing Meningkat

Tidak memiliki anak karena faktor ketidakpastian

Seorang warga Tianjing yang bekerja di perusahaan makanan hewan peliharaan, Nancy Zhang (34) mengaku, ia tidak memiliki anak karena terlalu banyak faktor yang tidak pasti dalam masyarakat China, seperti akses pendidikan.

Ia mengatakan bahwa dirinya sudah menjalin rumah tangga selama enam tahun dan bisa menikmati hidupnya tanpa kehadiran anak.

Menurut Zhang, tidak ada jaminan bahwa hidupnya akan menjadi bahagia jika memiliki anak.

Dia mengatakan, terlalu banyak tekanan untuk memiliki anak, baik secara fisik maupun mental.

Selain itu, biaya pendidikan dan pengasuhan anak juga menghabiskan uang yang tidak sedikit. 

"Perempuan cenderung menanggung lebih banyak tekanan daripada laki-laki begitu mereka memiliki anak," ujar Zhang.

Baca juga: Atasi Resesi Seks, Korsel Bayar Pembekuan Sel Telur dan Gelar Kencan Massal

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com