Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sepak Terjang dan Harta Kekayaan Marthinus Hukom, Kepala BNN yang Ditunjuk Jokowi

Kompas.com - 05/12/2023, 14:00 WIB
Yefta Christopherus Asia Sanjaya,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menunjuk Irjen Pol Marthinus Hukom sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Marthinus ditunjuk untuk mengepalai BNN menggantikan Komjen Pol Petrus Golose yang memasuki masa pensiun.

"Bapak Petrus Golose pensiun pada tanggal 1 Desember 2023. Karena itu, pada 29 November 2023, Bapak Presiden telah menandatangani Keppres pemberhentian Bapak Petrus Golose sebagai Kepala BNN," kata Koordinator Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana dikutip dari Kompas.com, Senin (4/12/2023).

Ari mengatakan, informasi mengenai pelantikan Marthinus akan diberitahukan lebih lanjut.

Baca juga: Apa Efek Narkoba jika Dikonsumsi Balita? Ini Kata BNN dan Ahli UGM


Sepak terjang Marthinus Hukom

Marthinus Hukom yang ditunjuk oleh Jokowi sebagai Kepala BNN adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1991. Ia lahir pada 30 Januari 1969 di Maluku.

Berdasarkan catatan Kompas.com, Selasa (5/12/2023), ia pernah menduduki sejumlah posisi sebelum ditugaskan di BNN.

Marthinus sempat menjabat sebagai Kepala Detasemen Khusus (Kadensus) 88 Antiteror (AT) Polri.

Bersama Densus 88, ia bersama timnya pernah melakukan operasi penangkapan terhadap teroris pelaku pengeboman Bali 2002, Ali Imron.

Ali ditangkap oleh Marthinus bersama timnya pada 13 Januari 2003 di Pulau Berukang, Samarinda, Kalimantan Timur.

Tak hanya itu, ia bersama timnya juga pernah meringkus Imam Samudra alias Abdul Aziz yang menjadi dalang bom malam Natal 2000 dan Bom Bali 2002.

Imam ditangkap pada November 26 November 2002 di Pelabuhan Merak, Banten.

Baca juga: Harta Kekayaan Iwan Kurniawan, Kepala BNN Tasikmalaya yang Minta THR ke PO Bus

Densus 88

Posisi lain yang diemban Marthinus sebelum ditugaskan di BNN adalah Kepala Tim (Katim) Anti Teror Bom Polda Metro Jaya pada 2001-2002 dan Analis Intelijen Satgas Anti Teror Polri pada 2002-2015.

Ia juga pernah masuk Kelompok Ahli BNN RI Bidang Intelijen pada pada 2010-2012 dan Kabid Intelijen Densus 88 AT Polri pada pada 2010-2015.

Marthinus sempat dipercaya sebagai Wakil Kepala Densus (Wakadensus) 88 AT Polri pada 2015-2016.

Tahun berikutnya ia ditunjuk sebagai Direktur Penegakan Hukum Kedeputian Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT RI hingga 2018.

Perjalanan karier Marthinus berlanjut sebagai Wakadensus 88 AT Polri hingga 2020 sebelum ditunjuk menjadi Kadensus 88 AT.

Baca juga: Viral, Surat BNN Tasikmalaya Minta THR ke Perusahaan Bus, Kemnaker: Dapat Dikategorikan Pungli

Halaman:

Terkini Lainnya

Presiden Iran Meninggal, Apa Pengaruhnya bagi Geopolitik Dunia?

Presiden Iran Meninggal, Apa Pengaruhnya bagi Geopolitik Dunia?

Tren
Tanda Seseorang Kemungkinan Psikopat, Salah Satunya dari Gerakan Kepala

Tanda Seseorang Kemungkinan Psikopat, Salah Satunya dari Gerakan Kepala

Tren
5 Pillihan Ikan untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Bantu Tubuh Lebih Sehat

5 Pillihan Ikan untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Bantu Tubuh Lebih Sehat

Tren
Apakah Masyarakat yang Tidak Memiliki NPWP Tak Perlu Membayar Pajak?

Apakah Masyarakat yang Tidak Memiliki NPWP Tak Perlu Membayar Pajak?

Tren
BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 21-22 Mei 2024

BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 21-22 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] Kasus Covid-19 di Singapura Naik Hampir Dua Kali Lipat | Ayah dan Anak Berlayar Menuju Tempat Terpencil di Dunia

[POPULER TREN] Kasus Covid-19 di Singapura Naik Hampir Dua Kali Lipat | Ayah dan Anak Berlayar Menuju Tempat Terpencil di Dunia

Tren
Apa Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi di Iran?

Apa Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi di Iran?

Tren
Jadwal dan Susunan Peringatan Waisak 2024 di Borobudur, Ada Festival Lampion

Jadwal dan Susunan Peringatan Waisak 2024 di Borobudur, Ada Festival Lampion

Tren
Berkaca dari Kasus Wanita Diteror Teman Sekolah di Surabaya, Apakah Stalker atau Penguntit Bisa Dipidana?

Berkaca dari Kasus Wanita Diteror Teman Sekolah di Surabaya, Apakah Stalker atau Penguntit Bisa Dipidana?

Tren
Studi Ungkap Obesitas pada Anak Bisa Kurangi Setengah Harapan Hidupnya

Studi Ungkap Obesitas pada Anak Bisa Kurangi Setengah Harapan Hidupnya

Tren
Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal karena Kecelakaan Helikopter, Siapa Penggantinya?

Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal karena Kecelakaan Helikopter, Siapa Penggantinya?

Tren
Cara Menambahkan Alamat Rumah di Google Maps, Bisa lewat HP

Cara Menambahkan Alamat Rumah di Google Maps, Bisa lewat HP

Tren
3 Idol Kpop yang Tersandung Skandal Burning Sun

3 Idol Kpop yang Tersandung Skandal Burning Sun

Tren
Spesifikasi Helikopter Bell 212 yang Jatuh Saat Membawa Presiden Iran

Spesifikasi Helikopter Bell 212 yang Jatuh Saat Membawa Presiden Iran

Tren
7 Makanan Obat Alami Asam Urat dan Makanan yang Harus Dihindari

7 Makanan Obat Alami Asam Urat dan Makanan yang Harus Dihindari

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com