Ishaq Zubaedi Raqib
Mantan Wartawan

Keluar masuk arena Muktamar, Munas, dan Konbes NU. Dari Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, hingga Jombang, Jawa Timur, serta Munas dan Konbes NU Jakarta.

Risiko "Menghidupkan" Gus Dur

Kompas.com - 11/01/2022, 11:03 WIB
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga Ketua Umum Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa menjawab pertanyaan di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (29/7/2005). Gus Dur bersama sejumlah tokoh lintas agama membentuk Aliansi Masyarakat Madani untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, ia meminta Mahkamah Agung segera menggelar sidang mengenai Ahmadiyah. KOMPAS/AGUS SUSANTOMantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga Ketua Umum Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa menjawab pertanyaan di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (29/7/2005). Gus Dur bersama sejumlah tokoh lintas agama membentuk Aliansi Masyarakat Madani untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, ia meminta Mahkamah Agung segera menggelar sidang mengenai Ahmadiyah.

HINGGA akhirnya dikukuhkan sebagai Ketua Umum PBNU di muktamar ke-34 Lampung akhir Desember tahun 2021, tidak ada yang tahu pasti, sampai titik mana KH Yahya Cholil Staquf bisa "menghidupkan" Gus Dur; gurunya.

Sebab, selain karena mandat muktamirin, sejatinya, Gus Dur adalah "ahammul asbab" keterpilihan Gus Yahya--sapaan KH Yahya Staquf.

Sampai sejauh ini, dia diakui sebagai bagian dari emanasi figuritas Gus Dur!

Pendekatan Gus Dur dalam mencari jalan keluar dari kebekuan jam'iyah, adalah model yang diadopsi Gus Yahya saat mengatasi "sosok" Gus Dur lain dalam diri Prof Dr KH Said Aqil Siradj.

Sebab, dalam perkara-perkara tertentu, kedua tokoh dan kader utama Gus Dur ini, biasa mengadaptasi pendekatan manhaji yang sama.

Gus Yahya dan Kiai Said adalah kepingan-kepingan unsur pembentuk ajaran Gus Dur.

Tentu, Gus Yahya bukan satu-satunya kader NU yang menjadikan Gus Dur sebagai model dalam pergulatan intelektual.

Ada banyak nama lain bisa disebut untuk memastikan bahwa Gus Dur adalah mata air yang tak pernah kering mengalir dalam DNA ke-NU-an mereka.

KH Sahal Mahfudh, KH Ma'ruf Amin, KH Masdar F Mas'udi, dan KH Said Aqil Siradj adalah contohnya. Memang, dari generasinya, Gus Yahya terbilang yang paling menonjol.

Gus Dur versi Gus Yahya

Sayangnya, setelah dua dekade lebih mengalami proses internalisasi dan institusionalisasi diri dengan jam'iyah, Kiai Said terbawa arus dirinya menuju lapisan terluar ke- gusdur-an, dan secara gradual menjadi dirinya sendiri.

Seakan-akan Kiai Said adalah entitas yang berbeda dari manhaj Gus Dur.

"Keterlepasan" dari Gus Dur inilah yang dikapitalisasi oleh jumhur muktamirin menjadi kekuatan bagi Gus Yahya dan menjelma kelemahan bagi Kiai Said.

Kini, jama'ah NU dan masyarakat luas, dalam dan luar negeri, tengah meraba-raba apa yang akan dilakukan Gus Yahya agar benar-benar dianggap layak dan memenuhi syarat untuk bisa menghidupkan Gus Dur.

Ini pilihan yang tidak mudah dan sangat berisiko.

Terlebih, Gus Dur, sebagaimana diakui Gus Yahya sendiri, bukan sosok yang dengan mudah bisa dilukis secara utuh. Butuh waktu dan ketajaman hati untuk mengenalnya.

Sirah Gus Dur yang ditawarkan, khususnya kepada muktamirin, adalah bangunan dalam versi yang dapat ditangkap Gus Yahya.

Dari proses pembacaannya, sejak pertama kenal muka di arena muktamar Krapyak, Yogyakarya, pertemuannya di kamar KH Mustofa Bisri di Hotel Sofyan, Jakarta, 1987, jadi juru bicara, hingga posisinya sebagai Katib Aam PBNU.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.