Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

203.307 Korban Meninggal Akibat Covid-19 di Dunia, Begini Pola Peningkatan Kasusnya

Kompas.com - 26/04/2020, 20:00 WIB
Luthfia Ayu Azanella,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Virus corona jenis baru yang pertama kali terdeteksi pada akhir Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei China kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Ratusan negara dunia kini sama-sama masih terus berjuang untuk bisa bebas dari wabah penyakit yang telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Tak berlebihan ketika WHO menetapkan Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh serangan virus corona ini sebagai sebuah pandemi.

Sebab jangkauan juga kecepatan penyebaran virus ini memang sangat cepatnya dan tidak bisa dianggap ringan.

Bisa dikatakan tidak ada satu pun negara di dunia yang benar-benar siap ketika masyarakatnya terserang penyakit ini.

Kecepatan penyebaran virus tentu bisa dilihat dari angka-angka total temuan kasus dan jumlah kematian yang diakibatkannya dari hari ke hari.

Baca juga: Rekap Kasus Corona Indonesia Selama Maret dan Prediksi di Bulan April

Hampir 3 juta kasus infeksi dalam 4 bulan

Mengacu pada data yang disajikan oleh Worldometer per Minggu (26/4/2020), jumlah kasus yang telah terdeteksi hingga saat ini hampir mencapai angka 3 juta kasus, tepatnya 2.919.404 kasus.

Angka ini pun akan terus bertambah seiring berjalannya waktu hingga penyebaran virus ini berhenti atau ditemukan vaksin yang tepat untuk melemahkan virusnya.

Sementara itu, untuk angka kematian, hingga saat ini sudah ada di angka 203.307 korban meninggal secara global.

Berikut ini peningkatan jumlah kasus kematian yang tercatat dari waktu ke waktu.

27 Januari 2020 

Pada tanggal 27 Januari 2020, atau hari ke-6 yang tercatat di Worldometer jumlah kematian akibat virus corona ada di angka 106 secara global.

Namun ketika itu rata-rata kematian masih berasal dari China, karena virus belum terdeteksi banyak menyebar ke negara lain.

Kasus pertama terkonfirmasi di Eropa tertanggal 25 Januari 2020 dan menjangkit warga Perancis.

Baca juga: Peneliti Temukan 3 Varian Virus Corona Penyebab Covid-19, Apa Saja?

10 Februari 2020

Tak lama berselang, tepatnya pada 10 Februari 2020 jumlah kasus kematian mencapai 1.018 kasus.

Ini berarti dalam waktu kurang dari setengah bulan, kasus kematian sudah melonjak  sedemikian tajam, kurang lebih 10 kali lipat.

19 Maret 2020

Kembali bergeser satu bulan setelahnya, tepatnya pada 19 Maret 2020 jumlah kasus kematian kembali meningkat kurang lebih 10 kali lipat dari bulan sebelumnya.

Dari angka semula 1.018 di 10 Februari menjadi 10.063 di 19 Maret 2020.

10 April 2020

Besaran peningkatan yang sama kembali terlihat dari data 10 April 2020.

Kurang dari waktu satu bulan, angka kematian kembali berlipat 10 kali lebih banyak daripada catatan kematian di sebulan sebelumnya.

Yakni dari angka bulan sebelumnya di 10.063 menjadi 105.979 korban meninggal.

Baca juga: CSIS Rilis Temuan Awal Karakteristik dan Sebaran Covid-19 di Indonesia, Apa Hasilnya?

25 April 2020

Lalu hari Sabtu (25/4/2020) kemarin, tepat 2 pekan sejak angka kematian Covid-19 mencapai angka 100 ribuan, angka kematian ini sudah ada di angka 200 ribuan, tepatnya 203.164 kasus.

Perubahan pola 

Pakar Epidemiolog Indonesia dari Griffith University Australia menyebut pola perkembangan kasus virus corona Covid-19 ini bisa berubah-ubah, karena berbagai faktor yang ada.

"Pola peningkatan atau penurunan kasus Covid dipengaruhi banyak faktor antara lain faktor utama adalah cakupan testing," kata Dicky saat dihubungi Minggu (26/4/2020) malam.

Pengujian Covid-1-9 menjadi kunci utama untuk mengetahui jangkauan dan pola persebaran penyakit ini di suatu wilayah.

Semakin banyak tes yang dilakukan, maka akan semakin banyak kasus Covid-19 yang akan ditemukan.

Baca juga: Dalam Waktu Sebulan, Begini Pola Penyebaran Virus Corona di Indonesia

Testing 

Itu artinya, angka infeksi yang mencapai lebih dari 2 juta kasus dan kematian di angka 200 ribu jiwa, bisa saja belum mencerminkan kondisi riil sesungguhnya. Kasus-kasus yang tidak terkonfirmasi sangat mungkin lebih banyak dari jumlah yang sudah diumumkan.

"Semakin banyak dan masif serta agregasif testing, semakin besar kemungkinan kita akan menemukan kasus Covid. Hal ini terjadi karena pola pertumbuhan atau penularan Covid yang bersifat eksponensial," jelas Dicky.

Namun, tes yang dimaksud efektif di sini adalah tes menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan bukan tes cepat yang validasinya masih terbilang rendah.

"Karena tes yang terstandar ya PCR ini bukan rapid test. Tanpa adanya data hasil tes, kita tidak akan memahami pandemi dan bagaimana pola sebarannya, bagaimana kondisi paparan di populasi," jelas dia.

"Tanpa adanya tes, kita juga tidak bisa merespons secara tepat atas ancaman pandemi, baik secara individu atau masyarakat, juga tidak bisa melihat apakah strategi kita berhasil atau tidak," lanjut dia.

Baca juga: Bagaimana Menjaga Diri dari Virus Corona Selama Puasa? Berikut Saran Sejumlah Ahli

Pembatasan fisik

Selain tes, faktor lain yang sangat berpengaruh pada naik turunnya temuan kasus di masyarakat menurutu Dicky adalah ketertiban dalam menjalankan praktik pembatasan sosial dan pembatasan fisik.

Tes masif yang dilakukan tanpa adanya dukungan berupa jaga jarak tidak akan membawa arti yang signifikan.

Sementara apa yang banyak dilakukan pemerintah daerah di Indonesia saat ini, seperti karantina wilayah dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hanyalah bersifat pendukung.

"Sekali lagi saya sampaikan bahwa PSBB atau karantina wilayah bukanlah strategi utama pandemi. Kedua opsi tersebut bersifat melengkapi strategi utama pandemi, yaitu test, trace treat dan isolate dengan social-physical distancing," ujar Dicky.

Peningkatan kasus

Sementara itu, untuk kasus infeksi dari penyakit ini, juga mengalami peningkatan dengan pola yang kurang lebih sama, meningkat dengan cepat.

Peningkatan tersebut bisa dilihat dari perbandingan angka-angka berikut.

24 Januari 2020 terkonfirmasi 1.317 kasus

31 Januari 2020 terkonfirmasi 11.950 kasus

6 Maret 2020 terkonfirmasi 102.050 kasus

2 April 2020 terkonfirmasi 1.020.920 kasus

15 April 2020 terkonfirmasi 2.076.502 kasus

Baca juga: Kasus Corona Capai 1 Juta, Begini Tes yang Dilakukan di Sejumlah Negara

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Parlemen Israel Loloskan RUU yang Menyatakan UNRWA sebagai Organisasi Teroris

Parlemen Israel Loloskan RUU yang Menyatakan UNRWA sebagai Organisasi Teroris

Tren
Apakah Haji Tanpa Visa Resmi Hukumnya Sah? Simak Penjelasan PBNU

Apakah Haji Tanpa Visa Resmi Hukumnya Sah? Simak Penjelasan PBNU

Tren
Satu Orang Meninggal Dunia Usai Tersedot Turbin Pesawat di Bandara Amsterdam

Satu Orang Meninggal Dunia Usai Tersedot Turbin Pesawat di Bandara Amsterdam

Tren
Pria Jepang yang Habiskan Rp 213 Juta demi Jadi Anjing, Kini Ingin Jadi Hewan Berkaki Empat Lain

Pria Jepang yang Habiskan Rp 213 Juta demi Jadi Anjing, Kini Ingin Jadi Hewan Berkaki Empat Lain

Tren
9 Orang yang Tak Disarankan Minum Teh Bunga Telang, Siapa Saja?

9 Orang yang Tak Disarankan Minum Teh Bunga Telang, Siapa Saja?

Tren
MA Ubah Syarat Usia Calon Kepala Daerah, Diputuskan 3 Hari, Picu Spekulasi Jalan Mulus bagi Kaesang

MA Ubah Syarat Usia Calon Kepala Daerah, Diputuskan 3 Hari, Picu Spekulasi Jalan Mulus bagi Kaesang

Tren
Profil Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Disebut Bakal Maju Pilkada Jakarta 2024

Profil Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Disebut Bakal Maju Pilkada Jakarta 2024

Tren
Tapera dan Kekhawatiran Akan Korupsi Asabri-Jiwasraya Jilid 2

Tapera dan Kekhawatiran Akan Korupsi Asabri-Jiwasraya Jilid 2

Tren
Sarkofagus Ramses II Ditemukan berkat Hieroglif dengan Lambang Nama Firaun

Sarkofagus Ramses II Ditemukan berkat Hieroglif dengan Lambang Nama Firaun

Tren
Kapan Pengumuman Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024?

Kapan Pengumuman Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024?

Tren
Saat Korea Utara Terbangkan Balon Udara Berisi Sampah dan Kotoran ke Wilayah Korsel...

Saat Korea Utara Terbangkan Balon Udara Berisi Sampah dan Kotoran ke Wilayah Korsel...

Tren
China Hukum Mati Pejabat yang Terima Suap Rp 2,4 Triliun

China Hukum Mati Pejabat yang Terima Suap Rp 2,4 Triliun

Tren
Kandungan dan Kegunaan Susu Evaporasi, Kenali Pula Efek Sampingnya!

Kandungan dan Kegunaan Susu Evaporasi, Kenali Pula Efek Sampingnya!

Tren
Pekerja Tidak Bayar Iuran Tapera Terancam Sanksi, Apa Saja?

Pekerja Tidak Bayar Iuran Tapera Terancam Sanksi, Apa Saja?

Tren
Pedangdut Nayunda Minta ke Cucu SYL agar Dijadikan Tenaga Honorer Kementan, Total Gaji Rp 45 Juta

Pedangdut Nayunda Minta ke Cucu SYL agar Dijadikan Tenaga Honorer Kementan, Total Gaji Rp 45 Juta

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com