Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sunda Empire, Keraton Agung Sejagat, Dongeng Lama Harta Bank Swiss yang Terus Terulang

Kompas.com - 19/01/2020, 13:04 WIB
Nur Rohmi Aida,
Virdita Rizki Ratriani

Tim Redaksi

Kabar tersebut menyebut adanya simpanan Soekarno yang berasal dari Raja se-nusantara tersimpan di Bank Eropa.

Sementara pada tahun 2002 kasus simpanan harta nusantara sempat heboh dengan berita mengenai Ny Lilik Sudarti.

Ia mengaku sebagai Ketua Pelaksana Program Pencairan dana nusantara.

Dilansir Harian Kompas (21/08/2002) ia menyebut bangsa Indonesia memiliki simpanan di 21 bank terkemuka di dunia sebesar 250 miliar dollar AS.

Baca juga: Ramai Kerajaan Fiktif, Mengapa Masyarakat Mudah Percaya dan Tergoda Jadi Anggotanya?

Harta tersebut disebutnya sebagai sumbangan dari 127 kerajaan se-nusantara.

Kala itu Lilik mengumumkan bahwa dirinya telah berupaya mencairkan sejak era Soeharto namun Soeharto terlanjur lengser lebih dulu.

Saat masa Habibie, Habibie disebutnya tidak bersedia menemui.

Sementara pada masa Gus Dur, ia mendapat restu akan tetapi Gus Dur terlanjur lengser terlebih dahulu.

Sosok Lilik pun tidak berhasil terlacak saat ditelusuri rumahnya yang berdasarkan alamat surat yang tercantum.

Sejarawan Dr. Anhar Gonggong dari catatan Harian Kompas saat itu, meragukan mengenai simpanan negara di bank luar negeri.

"Agak aneh, peristiwa sebesar itu tidak tercatat dalam sejarah. Lagi pula, apakah mungkin di zaman kolonial Belanda, raja-raja se-nusantara bisa melakukan pertemuan?" kata Anhar Gonggong.

Tanggapan

Budayawan asal Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai, munculnya orang-orang yang mengaku punya kerajaan dan bangga dengan seragam ala militer merupakan penyakit sosial yang sudah lama terjadi di Indonesia.

Dedi mengatakan, di Indonesia itu dalam kehidupan sosial, banyak kelompok masyarakat yang setiap hari mencari harta karun, emas batangan, uang Brazil dan sejenisnya. Perilaku itu berlangsung lama dan tak pernah berhenti sampai saat ini.

"Banyak orang yang kaya raya jatuh miskin karena obsesi itu. Sampai miskin pun masih berharap obsesi itu tercapai," kata wakil ketua Komisi IV DPR RI ini dilansir dari Kompas.com (17/01/2020).

Sementara itu, Sunu Wasono dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia menilai kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap kerajaan-kerajaan baru lantaran tekanan hidup khususnya tekanan ekonomi yang keras.

“Dalam kondisi seperti itu muncul ide atau bahkan khayalan yang aneh-aneh,” ujarnya dihubungi Kompas.com Sabtu (18/01/2020).

Dari khayalan aneh-aneh itulah kemudian disebutnya memunculkan tindakan yang aneh-aneh.

“Masyarakat yang hanya berpikir atau terbayang-bayang akan keuntungan kehilangan daya kritisnya. Sehingga mereka mau saja dikelabui,” tuturnya.

 Baca juga: 4 Kerajaan yang Pernah Gegerkan Warga, Keraton Agung Sejagat hingga Kerajaan Ubur-Ubur

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com