Memahami Jamasan Pusaka, Tradisi Bulan Suro yang Ada di Pulau Jawa

Kompas.com - 01/09/2019, 08:08 WIB
Sejumlah pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama, yakni Sunan Pandanaran II dijamas di pendopo Bupati Semarang, di Ungaran, Selasa (11/10/2016) siang oleh para pamong budaya setempat. KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIRSejumlah pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama, yakni Sunan Pandanaran II dijamas di pendopo Bupati Semarang, di Ungaran, Selasa (11/10/2016) siang oleh para pamong budaya setempat.

KOMPAS.com – Tradisi Jamasan Pusaka menjadi salah satu tradisi yang identik dilakukan pada bulan Suro. Tradisi tersebut hadir di banyak tempat di Pulau Jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, juga Yogyakarta.

Salah satu pelaksanaan tradisi tersebut adalah Kirab Pusaka yang ada di Pura Mangkunegaran Solo yang baru saja diselenggarakan Sabtu (31/8/2019) malam.

Melansir pemberitaan Kompas.tv , Minggu (1/9/2019) terdapat empat buah pusaka yang dijamas, dikirab dan dibawa berkeliling Pura Mangkunegaran. Sementara warga berebut sisa jamasan pusaka.

Upacara jamasan pusaka umumnya dilakukan secara bertahap.

Adapun tahapan-tahapan yang dilalui dalam upacara tersebut dimulai dengan pengambilan pusaka yang disimpan di tempat tertentu, tahap tirakatan (bersemedi), tahap arak-arakan, dan tahap pemandian atau jamasan pusaka.

Jamasan simbol bersih diri

Melansir pemberitaan Harian Kompas, Sabtu (22/8/2018), Kepala Pusat Penelitian Budaya Daerah dan Pariwisata Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Rawuh Edi Priyono mengatakan, jamasan memiliki makna yang dalam.

"Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga sebenarnya bertujuan untuk membersihkan diri. Secara fisik dibersihkan dan secara kebatinan juga dibersihkan. Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang," papar Rawuh.

Adanya tahapan dan ritual dengan sejumlah aturan, menurut Rawuh juga mencerminkan tentang kehidupan manusia yang memiliki norma-norma.

"Orang perlu introspeksi dan mengingat norma-norma kehidupan yang ada sehingga orang tak menyimpang dari pakemnya (jalan hidup)," kata dia.

Baca juga: Cerita di Balik Peringatan Malam 1 Suro

“Demikian juga dalam konteks masyarakat ketika ada orang-orang yang tidak sesuai dengan aturan yang jadi kesepakatan, dia harus diingatkan untuk kembali ke tujuan hidupnya,” imbuh dia.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X