Penyebab 12 Klub "Berkhianat" dan Membentuk European Super League

Kompas.com - 20/04/2021, 10:20 WIB
Gelandang Liverpool Fabinho (kiri) dan rekan setim James Milner (tengah) bersaing dengan gelandang Real Madrid Marco Asensio dalam pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions antara Liverpool vs Real Madrid di Anfield Liverpool pada 14 April 2021. AFP/PAUL ELLISGelandang Liverpool Fabinho (kiri) dan rekan setim James Milner (tengah) bersaing dengan gelandang Real Madrid Marco Asensio dalam pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions antara Liverpool vs Real Madrid di Anfield Liverpool pada 14 April 2021.

KOMPAS.com - Sebanyak 12 klub asal berbagai kompetisi di Eropa mengumumkan keterlibatannya dalam pembentukan ajang European Super League pada Senin (19/4/2021) kemarin.

Kompetisi kasta teratas Liga Inggris, Premier League, menjadi penyumbang tim terbanyak dengan bergabungnya Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham Hotspur.

Lalu terdapat Internazionale Milan, Juventus, dan AC Milan yang merupakan peserta kompetisi teratas Liga Italia, Serie A.

Sementara FC Barcelona bersama Atletico Madrid serta Real Madrid datang dari ajang tertinggi Liga Spanyol, LaLiga.

Mengutip pernyataan bersama ke-12 klub tersebut dari laman The Athletic, mereka menyetujui keberadaan kompetisi tandingan antarklub Eropa yang diselenggarakan tiap tengah pekan dalam musim mendatang.

Adapun sebab utama pembentukan kompetisi ini diduga berasal dari potensi meraih keuntungan besar secara finansial dari hak siar dan komersial setiap musimnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Apa Itu European Super League?

Seorang sumber yang dikutip laman The Athletic menyebut adanya penelitian terhadap suporter maupun penonton sepak bola usia muda dan ketertarikan pada kuantitas pertandingan antar klub besar di Eropa.

Daya tarik kuantitas pertandingan secara rutin antar klub besar Eropa itu, mendasari dibangunnya kompetisi tandingan oleh para klub yang tergiur dengan potensi pemasukan hak siar dan komersial tiap laga.

Bahkan, lembaga keuangan asal Amerika Serikat, JP Morgan, sudah mengeluarkan angka perkiraan bayaran sebuah tim jika setuju terlibat dalam kompetisi tandingan ini.

Awalnya, terdapat kesepakatan mengenai dana pembangunan infrastruktur serta pemulihan ekonomi terkait situasi pandemi Covid-19 sebesar 3,5 miliar euro (hampir menyentuh 61,2 triliun rupiah).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X