Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ragam Perayaan Waisak di Berbagai Negara, Seperti Apa?

Kompas.com - 22/05/2024, 12:00 WIB
Alicia Diahwahyuningtyas,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hari Raya Waisak merupakan salah satu hari besar umat Buddha di seluruh dunia.

Kendati demikian, Waisak dirayakan dalam berbagai cara, sesuai dengan aliran dan negara masing-masing.

Dikutip dari Voice of America, di beberapa negara Asia, Waisak diperingati pada hari kedelapan bulan keempat kalender lunisolar yang tahun ini jatuh pada tanggal 15 Mei 2024.

Meski demikian, di beberapa negara Asia Selatan dan Tenggara, perayaan ini dirayakan pada bulan purnama pertama yang jatuh pada Kamis (23/5/2024).

Hari Raya Waisak sendiri merupakan sebuah perayaan yang bertujuan untuk memperingati Trisuci Waisak, yakni kelahiran, pencerahan, dan kematian Sang Buddha Gautama.

Berikut sejumlah tradisi perayaan Waisak dari berbagai negara:

Baca juga: Ritual Thudong 2024 Dimulai dari Semarang, Ini Alasannya

1. Korea Selatan

Peringatan Hari Raya Waisak di Korea Selatan dijadikan sebagai hari libur nasional.

Puncak perayaan Waisak biasanya digelar di Seoul dengan festival lentera teratai yang disebut Yeondeunghoe.

Ini merupakan sebuah parade ribuan lentera kertas berwarna-warni yang menyala dan sering kali berbentuk seperti bunga teratai yang digantung di kuil atau jalan.

Nantinya, akan ada banyak kuil yang menyediakan makanan dan minuman gratis untuk semua pengunjung.

Selain itu, perayaan Waisak biasanya dilakukan di halaman dan taman kuil dengan menghadirkan berbagai permainan tradisional, serta pertunjukan seni. 

Baca juga: 35 Ucapan dan Twibbon Hari Waisak 23 Mei 2024

2. China

Umat Buddha di China merayakan Waisak dengan melakukan ritual bernama Fodan. Ritual ini dilakukan di sejumlah kuil Buddha dengan memberikan persembahan kepada biksu dengan menyalakan dupa.

Saat hari perayaan, umat Buddha di negara tersebut akan melakukan upacara Yufojie atau memandikan Buddha.

Ritual dilakukan dengan cara menuangkan air berkah beraroma ke atas patung bayi Buddha yang jari telunjuk kanannya mengarah ke atas langit dan jari telunjuk kiri mengarah ke Bumi.

Menurut legenda, Sang Buddha mengumumkan segera setelah dilahirkan bahwa ia tidak akan mengalami kelahiran kembali lagi, dan para naga di surga membaptisnya dengan air murni.

Baca juga: Jadwal dan Susunan Peringatan Waisak 2024 di Borobudur, Ada Festival Lampion

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com