Kompas.com - 19/01/2021, 07:18 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Para kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan harus berhati-hati dan waspada di kala sedang menduduki posisi penting dan memegang kekuasaan.

Begitulah kira-kira nada yang digaungkan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dalam amanat ulang tahun PDI Perjuangan ke - 48, di Jakarta, Minggu, 10 Januari 2021.

Januari adalah hari kelahiran Megawati dan partai yang dibangunnya. Megawati lahir di Yogyakarta, hari Kamis malam Jumat, 23 Januari 1947. PDI yang kemudian menjadi PDI Perjuangan, dilahirkan 10 Januari 1973.

"Militansi dan kesetiaan kader paratai diuji, bukan hanya pada saat partai terpuruk," seru Mega.

"Militansi dan kesetiaan kader partai diuji, justru pada saat kita menang. Saat kita menduduki posisi-posisi penting. Saat palu kekuasaan digunakan untuk memutuskan perbaikan kehidupan rakyat, bangsa dan negara, yang sesuai dengan ideologi Pancasila," demikian lanjut Megawati.

Dalam seruannya, seperti yang dinyatakan juga dalam HUT ke-47 PDI Perjuangan di Kemayoran, Jakarta, 2020, setahun lalu, Megawati mengatakan, "... Sebagai ketua umum partai yang membidani dan terus memperjuangkan keberlangsungan partai, saya ingatkan kepada seluruh kader partai untuk jangan pernah memunggungi rakyat."

Tahun lalu, Mega berseru kepada para kader yang tidak menjalankan instruksi seperti ini diminta untuk keluar dari PDI Perjuangan.

Seruan berupa peringatan kepada kader partainya dari Megawati juga pernah muncul sekitar beberapa bulan setelah Megawati gagal memenangi pemilihan presiden secara langsung dan partainya tidak lagi meraih nomor satu dalam pemilihan umum 2004.

Dalam pidato pembukaan Kongres PDI Perjuangan di Bali, akhir Maret 2005, Megawati menunjukkan PDI Perjuangan yang memenangkan Pemilu 1999 secara fantastis dan kemudian masuk dalam lingkaran kekuasaan, justru membuat para kader partainya kehilangan wataknya sebagai partai kerakyatan.

"Perubahan perilaku, bahkan berkembangnya perilaku menyimpang yang dipertontonkan kader PDI Perjuangan yang berada di lembaga legeslatif dan eksekutif, seperti yang sudah berulangkali saya tegaskan, merupakan sumber sumber malapetaka," begitu kata Mega dalam pidatonya saat itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.