Keseragaman Pangan, Cocokkah untuk Kita?

Kompas.com - 16/10/2019, 07:00 WIB
Masyarakat Turi, Sleman, DI Yogyakarta, membawa aneka pangan hasil bumi untuk mengiringi upacara pembukaan peringatan Hari Pangan Sedunia 2009 tingkat nasional di kompleks Siwa, Candi Prambanan, DI Yogyakarta, Senin (12/10/2009). KOMPAS/WAWAN H PRABOWOMasyarakat Turi, Sleman, DI Yogyakarta, membawa aneka pangan hasil bumi untuk mengiringi upacara pembukaan peringatan Hari Pangan Sedunia 2009 tingkat nasional di kompleks Siwa, Candi Prambanan, DI Yogyakarta, Senin (12/10/2009).

HARI Pangan Sedunia atau World Food Day diperingati setiap tanggal 16 Oktober 2019.

Tema Hari Pangan Sedunia tahun ini adalah "Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045" atau "Our action are our future, healthy diets #zerohungerworld".

Dalam konteks Indonesia, pembangunan pertanian dan pangan akan digenjot melalui penerapan teknologi industri untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Dalam talkshow "Keberagaman sebagai Jawaban Sumber Pangan ke Depan", yang diselenggarakan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) pada 29 Juli 2019, Prof Dr Emil Salim sebagai pendiri Yayasan Kehati mengutarakan sejumlah hal.

"Tantangannya adalah bagaimana meyakinkan menteri di kabinet bahwa infrastruktur tidak hanya untuk manusia, melainkan juga mengindahkan hewan dan ekosistemnya. Bisakah kita menjadi jago pangan dengan mempertahankan keanekaragaman hayati? Bisakah kita menaikkan produksi beras Cianjur, namun tetap meningkatkan keragaman sumber pangan lainnya seperti pisang, ubi, sagu, singkong, sorgum dan jagung? Bisakah Indonesia membangun dengan bertumpu pada keanekaragaman hayati?" kata Emil Salim.

Menurutnya, pada 1965, Indonesia mengalami krisis ekonomi dan politik yang berdampak pada inflasi tinggi dan melonjaknya harga pangan, khususnya beras.

Lalu, muncul kebijakan pegawai negeri mendapat uang dan jatah beras di seluruh Indonesia, kecuali Indonesia timur. Akibatnya, para pemimpin Indonesia timur protes dan merasa didiskriminasi.

Untuk mengatasi hal tersebut, didoronglah kebijakan peningkatan produksi beras. Akan tetapi, kebijakan beras ini menuai berbagai kritik.

Regulasi pemerintah saat itu diarahkan untuk swasembada pangan beras. Terjadilah banjir beras di Nusantara yang mengakibatkan sumber pangan lain hilang.

Tahun 1972, Emil Salim mengikuti deklarasi Stockholm 1972, konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang lingkungan dan manusia.

Semua menyampaikan bahwa lingkungan perlu diamankan. Tak habis pikir, bagaimana posisi pembangunan pangan yang butuh lahan jika diserukan stop tebang hutan.

Namun saat itu, Perdana Menteri India Indira Gandhi muncul dan berkata bahwa lingkungan itu perlu untuk memberantas kemiskinan. Lingkungan yang dimaksud adalah air, kebersihan, gizi dan lainnya yang non-ekonomi.

Emil Salim tertarik karena Indira Gandhi berbicara soal kemiskinan negaranya melalui bahasa lingkungan.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X