Seputar G30S/ PKI (2): Apa Sih Bedanya PKI, Sosialisme, Komunisme, Marxisme, dan Leninisme?

Kompas.com - 30/09/2019, 13:30 WIB
Bendera Partai Komunis dengan lambang palu dan arit. SHUTTERSTOCKBendera Partai Komunis dengan lambang palu dan arit.



Ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Sebelum melanjutkan membaca silakan baca serial pertama.
___________________

KOMPAS.com - Sebagian dari kita mungkin masih ingat ledek-ledekan semasa kecil, "Bapak lu PKI ya?".

Kita tak tahu apa itu Partai Komunis Indonesia (PKI), kecuali dari film Pengkhianatan G30S/PKI yang diputar di sekolah.

Dari film berdurasi 4 jam 31 menit itu kita tahu bahwa PKI adalah kelompok kejam dan brutal yang menyiksa para jenderal di tahun 1965.

PKI adalah momok yang tak hidup, tapi tak mati pula.

Di warung kopi, aksi demo, hingga di kantor-kantor pemerintahan, selalu ada orang yang mengingatkan bahayanya "disusupi PKI".

Tapi apa sih sebenarnya PKI itu?

Benarkah PKI adalah pengkhianat yang ingin menghancurkan Indonesia?

Jangan bayangkan PKI seperti sekelompok pemberontak bersenjata yang ingin menggulingkan pemerintahan. Bayangkanlah PKI seperti partai-partai yang berkuasa sekarang.

Ya, pada zamannya, PKI adalah partai penguasa. Kader-kadernya menduduki kursi dewan dan kursi pejabat.

Di puncak kejayaannya, jumlah anggotanya mencapai 3,5 juta. Belum termasuk kader muda dan simpatisannya di seluruh Indonesia.

PKI, Sosialisme, Komunisme, Marxisme, dan Leninisme

Baik kita jernihkan dulu beberapa terminologi yang kerap dicampuradukkan dan membuat kebingungan.

Jika kita urutkan secara linear sesuai garis waktu, dari lima terminologi di atas, yang pertama muncul adalah sosialisme.

Mengutip pejelasan Franz Magnis Suseno dalam bukunya Pemikiran Karl Marx, dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (2003), sosialisme adalah sebuah gagasan kuno tentang kepemilikan bersama.

Gagasan ini berkeyakinan, dunia akan menjadi lebih baik jika tidak ada kepemilikan pribadi. Kekayaan dunia merupakan milik semua orang.

Konflik masyarakat, demikian keyakinan sosialisme, didasarkan atas kepentingan mengejar keuntungan pribadi. Gagasan ini sudah muncul sejak zaman Yunani Kuno.

Selanjutnya, seturut garis linear waktu, gagasan sosialisme inilah yang menjadi dasar bagi Karl Marx, seorang filosof, sosiolog, dan ahli ekonomi abad ke-19, menelurkan teori yang meramalkan keruntuhan kapitalisme akibat pertentangan kelas.

Kapitalisme secara sederhana dimengerti sebagai sistem ekonomi yang dikendalikan perseorangan demi mengejar keuntungan pribadi.

 

Karl Marx.SHUTTERSTOCK Karl Marx.

Sistem kapitalisme ini mengemuka di zaman Marx dalam wujud revolusi industri. Mesin-mesin ditemukan. Alat-alat produksi dikuasai oleh para pemilik modal dan rakyat kebanyakan bekerja kepada para pemilik modal ini sebagai buruh.

Realitas sosial era revolusi industri ini dipotret Marx dalam teori kelasnya. Ia membagi masyarakat dalam dua kelas yaitu kelas pemilik modal (borjuis) atau alat produksi dan kelas pekerja (proletar). Marx menuliskan gagasannya dalam buku yang amat terkenal: Das Kapital.

Marx berpendapat pertentangan kelas adalah sumber masalah hidup. Kapitalisme, atau pertentangan borjuis dengan proletar yang semakin menguat, diramal Marx bakal mendorong terjadinya revolusi.

Marx sangat yakin kaum proletar yang akan memenangkan revolusi ini. Kelas proletar, ramal Marx, bakal menghapus kelas di masyarakat.

Tidak ada kepemilikan individual. Semua dibagi sama rata untuk dunia yang lebih baik dan sejahtera.

Ajaran Marx tentang teori kelas dan kehancuran kapitalisme disebut Maxisme.

Marxisme tidak sama dengan komunisme.

Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik Partai Komunis yang dibentuk Vladimir Ilyic Ulyanov yang dikenal juga dengan Lenin yang menggerakkan Revolusi Oktober 1917.

Revolusi Oktober dikenal juga dengan sebutan Revolusi Bolshevik. Terjadi pada 25 Oktober 1917, gerakan politik Partai Komunis pimpinan Lenin merebut kekuasaan dan membentuk negara sosialis pertama di dunia yang disebut Uni Soviet.

Lambang palu dan arit muncul di era Revolusi Oktober. Palu dan arit melambangkan bersatunya kaum buruh dan tani melawan kaum pemilik modal.

Lenin memodifikasi ajaran Marx. Ia tidak sabar revolusi muncul secara natural dan menghancurkan kapitalisme. Ia mengintervensinya dengan gerakan politik.

Jadi, komunisme adalah gabungan Marxisme dan Leninisme.

Di bawah Lenin, komunisme menjadi gerakan politik dan ideologi internasional.

Kemenangan komunisme di Rusia, mendorong revolusi komunisme di negara lain. Ada Mao Tse Tung di Cina yang memimpin Partai Komunis Cina dan mendirikan Republik Rakyat Cina pada 1 Oktober 1949.

Sebagai sebuah ideologi dan gerakan, komunisme naik daun dengan kisah sukses Uni Soviet dan China. Pada pertengahan abad 20, Uni Soviet menjadi kekuatan besar yang berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat.

Nah, Partai Komunis Indonesia atau PKI merupakan bagian dari jejaring ideologi internasional yang berbasis di Uni Soviet bentukan Lenin.

Partai Komunis Indonesia

Di Indonesia, gerakan komunisme diwadahi Partai Komunis Indonesia. Dikutip dari pidato DN Aidit pada ulang tahun ke-35 PKI, 23 Mei 1955, PKI berdiri karena terinspirasi Revolusi Oktober 1917.

Namun sebelum meletusnya Revolusi Oktober, nafas sosialisme sudah terasa dengan lahirnya serikat-serikat buruh yang melawan kolonialisme.

Bulan Mei 1914 di Semarang berdiri ISDV, organisasi politik bentukan revolusioner Indonesia dan Belanda yang bertujuan menyebarkan Marxisme di kalangan kaum buruh dan rakyat Indonesia.

"ISDV inilah yang pada tanggal 23 Mei 1920 melebur diri menjadi PKI," ujar Aidit dalam pidatonya.

 

Ilustrasi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi.

Jika di Eropa komunisme adalah perjuangan para buruh kasar melawan tuan-tuannya, di Indonesia komunisme diperjuangkan oleh buruh tani untuk menumbangkan kolonialisme Belanda.

Pengaruh PKI meluas di Jawa dan Sumatra. Sayangnya, di internal sendiri, partai nasional itu pecah menjadi faksi-faksi.

Hingga pada 1926, PKI berusaha melancarkan revolusinya. Kader dan simpatisannya memberontak terhadap pemerintah kolonial. Ribuan ditangkap dan diasingkan. Pemerintah kolonial menyatakan PKI terlarang.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, PKI yang tadinya bertahan di bawah tanah, muncul ke permukaan.

Kendati demikian, pada 1948, PKI kembali bergejolak. Dalam bukunya Madiun 1948: PKI Bergerak (2011), Harry Poeze menuturkan eks pimpinan PKI Munawar Musso kembali ke Indonesia pada 1948. Ia kabur ke Uni Soviet setelah pemberontakan PKI pada 1926.

Sekembalinya dari Soviet, Musso bertemu dengan Presiden Soekarno pada 13 Agustus 1948 di Yogyakarta. Di akhir pertemuannya, Soekarno meminta agar Musso "...membantu memperkuat negara dan melancarkan revolusi.”

Musso menjawab, “Itu memang kewajiban saya. Saya datang ke sini untuk menciptakan ketertiban.”

Sejarah mencatat, Musso berada di antara pergolakan politik kala itu, sekaligus cita-citanya memimpin revolusi seperti di Soviet.

Maka, pada September 1948, konflik pecah antara PKI di bawah Musso dengan tentara. Musso berhasil dipatahkan.

Namun peristiwa itu tak mematikan PKI.

Di bawah Aidit, PKI dikelola secara profesional. Aidit dan Soekarno bergandengan mesra dengan sikap anti-imperialisme dan anti-Barat.

PKI memperoleh legalitasnya kembali pada 1950, dan meraih posisi keempat dalam Pemilu 1955.

Di saat partai-partai lain berebut panggung politik, PKI berkeliling ke desa-desa dan memperkuat basis dukungan mereka.

Sayangnya, PKI tak lama berjaya. Partai itu hancur setelah peristiwa G30S.

 

Bersambung...

Seputar G30S/ PKI (3): Benarkah CIA Terlibat di Balik Peristiwa 1965?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X