Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Perjuangan Promosi Konser Zaman Dulu, Adrie Subono: Gue Sebarin Flyer

Kompas.com - 03/03/2024, 15:42 WIB
Rintan Puspita Sari

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com- Promotor sekaligus pendiri Java Musikindo, Adrie Subono cerita perjuangan saat mempromosikan konser zaman dulu.

Tak seperti sekarang yang semua bisa dilakukan lewat internet, Adrie dulu harus berjuang untuk mempromosikan konser.

"Enakan sekarang lah, semua promosi juga gampang banget, dulu promosi susah," kata Adrie dikutip dari YouTube Vindes.

"Gue kadang-kadang sama bini gue sebarin flyer di PIM (Pondok Indah Mall), orang ambil dari bini gue, dia cakep, dari gue enggak mau ambil," tutur Adrie sambil tertawa.

Karena kejadian itu, Adrie akhirnya tak pernah mengabaikan orang yang membagi-bagikan flyer.

Baca juga: Cerita Adrie Subono Selamat dari Tragedi Bom JW Marriott Pertama gara-gara ke Toilet

"Sekarang gue kalau pergi ke PIM, orang bagi-bagi flyer gue ambil, karena gue tahu rasa sakit hatinya kalau enggak diambil," ujar Adrie sambil tertawa.

Selain membagi-bagikan flyer dan bekerjasama dengan media, Adrie juga memasang spanduk berisi informasi konser.

Tapi, setelah dipasang, spanduk itu tak pernah bisa bertahan lama.

"Bikin spanduk di satu tempat, udah keren kan 'Java Musikindo present,'" kata Adrie.

"Besoknya gue lihat gembel udah pakai buat celana. Diambil, dipakai buat celana, sakit gue," tuturnya sambil tertawa.

Baca juga: Jadi Promotor, Adrie Subono Ungkap Permintaan Unik Musisi Dunia Saat Konser ke Indonesia: Mau Makan Ular

Meskipun sulit untuk mempromosikan acara di zaman dulu, tapi Adrie mengakui selama menjadi promotor tidak pernah mendapat pengaduan adanya tiket palsu.

Padahal, sistem penjualan tiketnya zaman dulu masih dilakukan secara manual. Orang akan datang ke rumahnya untuk mengantre membeli tiket. 

"Zaman gue enggak ada tiket palsu. Kita selalu keluarin vocer, jadi kalau lo beli ditulis vocernya kan ada lampiran buat kita, lampiran buat pembeli," ucap Adrie Subono.

"Begitu dia tuker tiket, itu lampiran mesti sama, copy buat dia sama copy yang kita pegang sama," sambungnya.

Mendengar sistem penjualan tiket zaman dulu yang masih manual tapi tak ada pemalsuan, Desta sempat mengungkap rasa herannya dengan sistem penjualan tiket saat ini yang justru rawan dipalsukan. 

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com