Debut Iqbaal Ramadhan Jadi Burung Perkutut di Podcast Sandiwara Sastra

Kompas.com - 06/07/2020, 21:16 WIB
Iqbaal Ramadhan sebelum menaiki KRL untuk touring stasiun Milea, di Stasiun Gondangdia, Rabu (5/2/2020) KOMPAS.com/ MELVINA TIONARDUSIqbaal Ramadhan sebelum menaiki KRL untuk touring stasiun Milea, di Stasiun Gondangdia, Rabu (5/2/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com- Artis peran Iqbaal Ramadhan turut serta dalam program Sandiwara Sastra lewat podcast. Iqbaal bakal melakukan debutnya sebagai pengisi suara burung perkutut.

Tentunya sebuah hal yang berbeda bagi Iqbaal karena sebelumnya dia berhasil memerankan beragam karakter dalam sebuah karya film.

“Di Sandiwara Sastra aku diamanatkan jadi perkutut, ini peran pertama bukan manusia,” tutur Iqbaal Ramdhan dalam konfrensi pers virtual via zoom, Senin (6/7/2020).

Baca juga: Iqbaal Ramadhan hingga Najwa Shihab Terlibat Podcast Sandiwara Sastra

Iqbaal menyebut sebagainya tantangan baru, dan dia memastikan suara burung yang dikelurakan dapat dimengerti orang.

“Jadi burungnya sendiri jadi kayak manusia nanti dan itu menarik sekali,” tambah Iqbaal Ramadhan.

Selain itu, Iqbaal juga melakukan pendalaman karakter dengan mendengar suara-suara dari burung perkutut.

Baca juga: Iqbaal Ramadhan Bicara soal Pacar dan LDR

Dengan adanya Sandiwara Sastra lewat podcast, pemain “Dilan 1990” ini berharap dapat melestarikan karya sastra Indonesia. Apalagi, menurut Iqbaal, begitu banyak remaja seusianya yang kini mendengarkan podcast.

“Apalagi aku ngerasa podcast lagi naik. Podcast bisa didengerin ketika kita melakukan hal lain,” ujar Iqbaal menambahkan.

Hingga saat ini sudah 27 aktor yang telah tergabung dalam Sandiwara Sastra dan akan memainkan peran yang berbeda-beda.

Dan sejauh ini sudah enam episode yang sudah dipersiapkan dengan durasi sekitar 30 menit.

Beberapa produksi cerita karya sastra yang telah rampung yakni novel “Helen dan Sukanta” (Pidi Baiq), novel “Lalita” (Ayu Utami), “Berita dari Keboyoran” (Pramoedya Ananta Toer), “Ronggeng Dukuh Paruk” (Ahmad Tohari), cerpen “Kemerdekaan” (Putu Wijaya) dan cerpen “Mencari Herman” (Dewi Lestari).


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X