Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Direktur Semen Indonesia: Proyek IKN Nusantara Berpotensi Serap 21 Juta Ton Semen

Kompas.com - 28/05/2022, 20:45 WIB

KOMPAS.com - Proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara akan membutuhkan banyak material selama proses pembangunan, termasuk semen.

Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com pada Selasa (24/5/2022), Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Donny Arsal mengatakan, proyek pembangunan IKN Nusantara berpotensi membutuhkan (demand) sebanyak 21 juta ton semen.

"Ada opportunity pembangunan ibu kota baru yang diperkirakan akan memberikan demand secara nasional dalam 20 tahun sebanyak 21 juta ton (semen)," kata Donny dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (24/5/2022).

Donny mengungkapkan, industri semen di Indonesia saat ini mengalami kelebihan produksi (oversupply).

Dia menjelaskan, kapasitas produksi semen nasional per 31 Desember 2021 sebesar 119,1 juta ton, sedangkan permintaan hanya 65,2 juta ton, sehingga ada gap sebanyak 53,8 juta ton.

Baca juga: 48,2 Persen Masyarakat Meminta Pemindahan IKN Ditunda, Ini 4 Aspek Hasil Survei APSSI

Donny menambahkan, industri semen di masa depan juga diperkirakan akan semakin membaik setelah pandemi Covid-19, seiring asumsi populasi penduduk yang bertambah 1 persen dari 270 juta penduduk per tahun.

"Dari situ juga backlog pembangunan rumah sebesar 12,7 juta unit saat ini yang kita harapkan mendorong permintaan terhadap semen nasional," jelasnya.

Selain itu, prospek juga diperkuat dengan tingginya anggaran pembangunan infrastruktur oleh pemerintah yakni sebesar Rp 385 triliun, meski turun ketimbang dari tahun lalu yang senilai Rp 417 triliun.

Donny menuturkan, dengan adanya potensi-potensi permintaan tersebut, kondisi oversupply bisa ditekan.

Baca juga: Presiden hingga DPR Pindah ke IKN, Bagaimana Nasib Gedung Pemerintah di Jakarta?

Dia memperkirakan, kelebihan produksi setidaknya hingga 2030 akan menjadi sebesar 18,1 juta ton.

"Jadi memang tetap masih oversupply, tapi dalam kondisi yang semakin mengecil oversupply-nya," pungkasnya.

(Penulis: Yohana Artha Uly | Editor: Akhdi Martin Pratama)

Sumber: KOMPAS.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+