Korea Utara Larang Warganya Tertawa selama Peringatan Kematian Kim Jong Il

Kompas.com - 18/12/2021, 10:00 WIB
File foto ini diambil pada 16 Februari 2019 menunjukkan tentara Tentara Rakyat Korea (KPA) memberikan penghormatan di depan patung pemimpin Korea Utara Kim Il Sung dan Kim Jong Il di Bukit Mansu di Pyongyang. AFP PHOTO/ED JONESFile foto ini diambil pada 16 Februari 2019 menunjukkan tentara Tentara Rakyat Korea (KPA) memberikan penghormatan di depan patung pemimpin Korea Utara Kim Il Sung dan Kim Jong Il di Bukit Mansu di Pyongyang.

KOMPAS.com - Aturan-aturan yang terdapat di Korea Utara sering kali terdengar kontroversial dan nyeleneh. Baru-baru ini terungkap sebuah aturan di Korea Utara yang melarang warganya untuk menunjukkan ekspresi kebahagiaan selama 11 hari.

Aturan tersebut diberlakukan untuk mengenang 10 tahun kematian Kim Jong Il, mantan pemimpin Korea Utara, sekaligus ayah dari pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong Un.

Selama periode berkabung 11 hari lamanya, Korea Utara secara eksplisit melarang warganya tertawa dan meminum alkohol. Tepat pada peringatan kematian Kim Jong Il pada 17 Desember, warga Korea Utara bahkan akan dilarang berbelanja bahan makanan.

“Selama masa berkabung, kita tidak boleh minum alkohol, tertawa, atau melakukan kegiatan rekreasi,” kata seorang warga Korea Utara kepada Radio Free Asia (RFA).

Baca juga: Kenang Kematian Kim Jong Il, Rakyat Korea Utara Dilarang Tertawa 11 Hari

Bahkan, ia menambahkan, apabila ada anggota keluarga yang meninggal di masa berkabung ini, mereka tidak boleh menangis dengan keras dan jenazahnya harus segera dibawa keluar.

“Orang-orang bahkan tidak dapat merayakan ulang tahun mereka sendiri tanggal lahir mereka jatuh dalam masa berkabung,” masih kata orang tersebut.

Biasanya, periode berkabung berlangsung selama 10 hari. Namun pada periode berkabung tahun ini, jumlah ditambah satu hari untuk memperingati satu dekade kematian Kim Jong Il yang wafat pada 17 Desember 2011 lalu.

“Dulu banyak orang yang kedapatan minum atau mabuk selama masa berkabung. Mereka ditangkap dan diperlakukan sebagai penjahat ideologis. Mereka dibawa pergi dan tidak pernah terlihat lagi,” kata sumber tersebut.

Tak hanya itu, polisi Korea Utara disebut juga telah diperintahkan untuk mencari warga yang tidak terlihat cukup gundah selama masa berkabung, menurut RFA yang mengutip sumber kedua.

“Mulai hari pertama Desember, mereka (polisi) memiliki tugas khusus untuk menindak mereka yang merusak suasana berkabung kolektif,” kata sumber kedua itu.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.