Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Korea Utara Terbangkan Balon Udara Berisi Sampah dan Kotoran ke Wilayah Korsel...

Kompas.com - 30/05/2024, 18:00 WIB
Aditya Priyatna Darmawan,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Korea Utara disebut terbangkan ratusan balon berisi sampah dan kotoran ke wilayah Korea Selatan.

Dikutip dari BBC, peristiwa itu terjadi beberapa hari setelah Korea Utara mengatakan akan melakukan pembalasan propaganda yang dilakukan oleh aktivis di Korea Selatan.

Para aktivis itu meluncurkan balon yang membawa berbagai hal mengenai Korea Selatan ke Korea Utara, seperti uang tunai, konten media, dan makanan ringan.

“Gundukan kertas bekas dan kotoran akan segera tersebar di wilayah perbatasan dan wilayah pedalaman Korea Selatan dan negara ini akan merasakan betapa besarnya upaya yang diperlukan untuk menghilangkannya,” ucap Wakil Menteri Pertahanan Korea Utara Kim Kang Il dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (26/5/2024).

Pada Selasa (28/5/2024) malam, penduduk yang tinggal di daerah utara Seoul dan perbatasan menerima pesan dari pemerintah setempat untuk tidak beraktivitas di luar rumah terlebih dahulu.

Selain itu, mereka juga diminta untuk membuat laporan kepada pangkalan militer atau kantor polisi terdekat jika melihat “benda tak dikenal”.

Baca juga: 17 Aturan Aneh yang Ada di Korea Utara, Melanggar Bisa Dihukum Mati

Membawa berbagai macam sampah

Dilansir dari New York Times, setidaknya sudah ada 260 balon yang terdeteksi telah memasuki wilayah Korea Selatan pada Rabu (29/5/2024).

Militer Korea Selatan merilis foto-foto balon berwarna putih yang membawa kantong plastik berisi sampah dan kotoran itu.

Balon-balon yang jatuh terlihat membawa berbagai macam sampah, seperti puntung rokok, botol plastik, sepatu bekas, dan apa yang disebut sebagai kotoran menyerupai kompos.

Unit persenjataan bahan peledak militer serta tim tanggap perang kimia dan biologi dikerahkan untuk memeriksa dan mengumpulkan benda-benda tersebut.

“Tindakan Korea Utara ini jelas melanggar hukum internasional dan sangat mengancam keselamatan rakyat kami,” bunyi pernyataan militer Korea Selatan.

“(Kami) dengan tegas memperingatkan Korea Utara untuk segera menghentikan tindakan tidak manusiawi dan vulgar ini,” lanjutnya.

Baca juga: Kim Jong Un Rilis Lagu, Lirik Sarat Pujian untuk Pemimpin Korea Utara

Dianggap sebagai perang psikologis

Dikutip dari Reuters, seorang pejabat di kantor kepresidenan Seoul yang tidak disebutkan namanya menilai, Korea Utara ingin menguji reaksi Korea Selatan.

Namun, ia berjanji bahwa pihaknya akan mengirimkan puluhan kali lipat jumlahnya ke Korea Utara sebagai tindakan balasan.

“Dengan memasukkan sampah dan benda-benda lain ke dalam balon, mereka tampaknya ingin menguji bagaimana rakyat kita bereaksi dan apakah pemerintah kita memang terganggu," ujarnya.

"Terlepas dari provokasi langsung, bagaimana perang psikologis dan ancaman kompleks berskala kecil akan terjadi di negara kita,” sambungnya.

Pengamat dari Sejong Institute, Peter Ward beranggapan bahwa pengiriman balon jauh lebih kecil risikonya dibandingkan dengan melancarkan aksi militer secara terbuka.

“Taktik zona abu-abu semacam ini lebih sulit untuk dilawan dan memiliki risiko eskalasi militer yang lebih kecil, meskipun mengerikan bagi warga sipil yang pada akhirnya menjadi sasaran,” katanya.

Baca juga: Korea Utara Menyensor Video Seorang Presenter yang Berkebun Pakai Celana Jeans

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Manfaat 'Torpedo Kambing' bagi Pria, Benarkah Bisa Meningkatkan Gairah Seksual?

Manfaat "Torpedo Kambing" bagi Pria, Benarkah Bisa Meningkatkan Gairah Seksual?

Tren
Benarkah Penggunaan Obat GERD Berlebihan Bisa Memperparah Kondisi? Ini Penjelasan Guru Besar UGM

Benarkah Penggunaan Obat GERD Berlebihan Bisa Memperparah Kondisi? Ini Penjelasan Guru Besar UGM

Tren
Formasi CPNS Pemerintah Pusat 2024 Sudah Diumumkan, Lulusan SMA Bisa Daftar

Formasi CPNS Pemerintah Pusat 2024 Sudah Diumumkan, Lulusan SMA Bisa Daftar

Tren
Kenapa Sapi Kurban Mengamuk sebelum Disembelih? Ini Penjelasan Pakar

Kenapa Sapi Kurban Mengamuk sebelum Disembelih? Ini Penjelasan Pakar

Tren
Pisang dan Jeruk Disebut Tak Dianjurkan Dimakan Malam-malam, Ini Kata Ahli

Pisang dan Jeruk Disebut Tak Dianjurkan Dimakan Malam-malam, Ini Kata Ahli

Tren
Media Asing Soroti Suku Pedalaman Halmahera Keluar Hutan, Temui Pekerja Tambang

Media Asing Soroti Suku Pedalaman Halmahera Keluar Hutan, Temui Pekerja Tambang

Tren
Beberapa Bahaya Buang Darah dan Kotoran Hewan Kurban ke Selokan Umum

Beberapa Bahaya Buang Darah dan Kotoran Hewan Kurban ke Selokan Umum

Tren
Mulai 20 Juni, Berikut Jadwal Pertandingan Copa America 2024

Mulai 20 Juni, Berikut Jadwal Pertandingan Copa America 2024

Tren
Ramai soal Pajero Pelat Merah B 1803 PQH Dipakai Anak Muda di Yogya, Siapa Pemiliknya?

Ramai soal Pajero Pelat Merah B 1803 PQH Dipakai Anak Muda di Yogya, Siapa Pemiliknya?

Tren
Batal Naik, Calon Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2024 Dikenakan UKT Tahun Lalu

Batal Naik, Calon Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2024 Dikenakan UKT Tahun Lalu

Tren
Apa Itu Kabinet Perang Israel yang Dibubarkan Netanyahu?

Apa Itu Kabinet Perang Israel yang Dibubarkan Netanyahu?

Tren
Rupiah Tembus Angka Rp 16.400 per Dollar AS, Ini Penyebab dan Bahaya yang Mengintai

Rupiah Tembus Angka Rp 16.400 per Dollar AS, Ini Penyebab dan Bahaya yang Mengintai

Tren
Kenali Apa Itu Hari Tasyrik, Larangan, dan Amalannya

Kenali Apa Itu Hari Tasyrik, Larangan, dan Amalannya

Tren
Muncul Gelombang Penolakan X Akan Diblokir Kominfo, Ini Kata Pakar Keamanan Siber

Muncul Gelombang Penolakan X Akan Diblokir Kominfo, Ini Kata Pakar Keamanan Siber

Tren
Pendaftaran LPDP Tahap 2 Dibuka 19 Juni 2024, Ini Syarat Dokumennya

Pendaftaran LPDP Tahap 2 Dibuka 19 Juni 2024, Ini Syarat Dokumennya

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com